Di sebuah sudut Banguntapan, sepasang suami istri pemilik warung makan memilih ikut meringankan beban para perantau Sumbagut dengan menggratiskan hidangan mereka. Inisiatif sederhana itu muncul setelah melihat banyak korban banjir dan longsor di kampung halaman para perantau.
Sepasang suami istri pemilik Warung Makan Nusantara di Jalan Garuda Nomor 314B, Pelem Mulong, Kepanjen, Banguntapan, tergerak untuk melakukan kebaikan ketika kabar banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat membanjiri lini masa mereka.
Melihat banyaknya korban dan kerabat perantau yang belum mendapat kabar keluarga di kampung halaman, Muhammad Muflih Kholidin, 37, dan istrinya, Nur Azizah, 33, sepakat menggratiskan makanan di warung mereka bagi siapa pun yang ber-KTP Aceh, Sumut, Sumbar, dan wilayah sekitar.
Inisiatif itu muncul Minggu (30/11). Keduanya kemudian merealisasikan program tersebut Senin (1/12).
“Kami bikin pengumuman, terus kami share bareng teman. Alhamdulillah, menyebar luas. Kami senang informasi itu sampai banyak orang,” ujar pemilik warung Makan Nusantara Muhammad Muflih Kholidin saat ditemui di warungnya,Rabu (3/12).
Mereka berkomitmen program ini berjalan sampai kondisi di daerah terdampak kembali normal. Terutama hingga para perantau di Jogja sudah mendapatkan suplai atau kabar jelas dari keluarga di kampung. “Kami ingin terus membantu sampai saudara-saudara kita di sana benar-benar pulih,” tambahnya.
Pada hari pertama, hanya satu orang yang datang. Seorang mahasiswa asal Sumatera yang mengaku belum menerima kabar dari keluarganya. Ia menunjukkan kondisi rumahnya yang terendam lumpur hingga dua meter. “Rumahnya itu cuma kelihatan atap sedikit. Bukan hanya air, lumpur sampai dua meter. Kami ikut sedih lihatnya,” kata Muflih.
Hari kedua sebanyak 10 orang yang datang ke warung tersebut, dan hari ini Rabu (3/12) sudah ada enam orang yang datang ber-KTP Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dan sekitarnya.
Pengunjung pun bisa ke warung tersebut dari pukul 08.00 sampai 19.30 setiap harinya dan memilih menu makanan secara bebas. Bahkan warga yang terdampak bisa datang lagi ke warung tersebut untuk menyantap makanan secara gratis berulang kali sampai keadaan bencana membaik.
Mereka bahkan menegaskan pengunjung tidak perlu menyerahkan KTP. Identitas cukup ditunjukkan sekilas tanpa harus dipinjam atau difoto, sebab menurut Muflih hal itu justru berisiko. Siapa pun yang datang dan menunjukkan KTP Aceh, Sumut, atau Sumbar dipersilakan langsung memilih menu yang tersedia dan menikmati hidangan tanpa dipungut biaya.
Harapannya, langkah kecil itu bisa sedikit meringankan beban para perantau yang sedang cemas memikirkan kondisi keluarga di kampung halaman. Gerakan spontan itu berawal dari sebuah I bertema warga membantu warga yang berseliweran di media sosial.
Postingan itu memantik ingatan Muflih pada salah satu ayat Alquran tentang tolong-menolong dalam kebaikan. “Kami cuma mikir, apa yang bisa kami bantu? Ya ini yang bisa kami lakukan sekarang,” ujarnya.
Muflih yakin setiap kebaikan tidak akan sia-sia. “Saya yakin pasti ada gantinya. Yang penting mereka senang, kami juga ikut bahagia,” ucapnya.
Sikap memberi itu menurutnya sudah menjadi prinsip sejak lama. Seseorang yang bekerja sebagai programmer lepas dan mengajar sebagai dosen freelance di Pendidikan Ulama Terjemah (PUTM) pada periode Desember hingga Juli ini masih mengingat betul masa kuliahnya ketika pernah mendapat secangkir teh gratis di masjid.
Pengalaman sederhana itu meninggalkan kesan mendalam baginya karena mampu menghadirkan kebahagiaan yang tidak disangka. Dari situlah ia menyadari kebaikan kecil pun bisa memberi dampak besar bagi orang lain, terlebih bagi saudara-saudara mereka yang kini jauh dari rumah dan sedang menghadapi kesulitan. (pra)
Editor : Heru Pratomo