Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Desainer Afif Syakur Gelar Pameran Batikku Tiga Negeri di Gedung PDIN Jogja, Ingin Kembalikan Marwah Seni Bernilai Unggul

Magang Radar Jogja • Rabu, 3 Desember 2025 | 03:56 WIB
TAK SEKADAR SENI: Afif Syakur (paling kanan) saat konferensi pers jelang pameran Batikku Tiga Negeri di Gedung PDIN Kota Jogja, Jumat (28/11).
TAK SEKADAR SENI: Afif Syakur (paling kanan) saat konferensi pers jelang pameran Batikku Tiga Negeri di Gedung PDIN Kota Jogja, Jumat (28/11).

 

JOGJA - Seniman batik dan fashion desiner asal Jogja Afif Syakur akan menggelar pameran batik dan peluncuran buku "Batikku 3 Negeri" di Gedung Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Jogja, 2-7 Desember 2025. Bukan sekadar seni biasa atau komoditas dagang semata.

Pameran bersifat terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi pada pukul 09.00-16.00. Di hari penutupan, Minggu (7/12), akan dimeriahkan dengan sesi talkshow dan bedah buku di sore hari.


Afif Syakur mengungkapkan, sebanyak 25 lembar batik Tiga Negeri karyanya dan tim akan ditampilkan pada bari H pameran. Ia menerangkan, Batik Tiga Negeri pada masanya termasuk karya seni yang cukup populer dan bernilai unggul dari berbagai daerah yang mengandung keunikan, khas nan unik.

Dua faktor itu membuat karya batik ini dibuat dengan waktu yang tidak sebentar. "Dengan keistimewaan ini, saya merasa bahwa Batik Tiga Negeri perlu digali, dipelajari, dan dikembangkan, sehingga dapat dinikmati lagi oleh masyarakat luas," ujarnya kepada wartawan di Gedung PDIN Jogja, Jumat (28/11).


Direktur ECSA Studio Eko Cahyo Saputro yang juga kolaborator pada pameran ini menerangkan, 25 lembar kain batik yang akan dipamerkan telah melewati proses kurasi dan didapatkan dua kategori utama dari jumlah itu.


"Setelah kita kurasi, 25 lembar kain batik itu terdapat dua kategori. Pertama, batik organik dan yang satu geometrik. Dan kebetulan jumlahnya sama,” kata Eko.


Pada pertemuan itu, Afif menyebutkan karya desain batiknya itu belum ia patenkan melalui hak kekayaan intelektual (HAKI). Baginya, batik hadir sebagai bagian dari kebudayaan bersama.


Ia menambahkan, dari segi prinsip batik sebenarnya dimaksudkan pada batik tulis dan batik cap yang memakai malam panas dan canting. Sementara batik cetakan tekstil belum bisa disebut sebagai batik.


Akibatnya, ketika misal suatu saat karyanya ditiru dengan metode tekstil cetak, itu merupakan konsekuensi terbuka. Hal ini justru dapat menjadi bahan edukasi publik untuk mengetahui perbedaan mana batik asli dan mana tekstil bermotif batik.


Melalui pameran kali ini, Afif berharap batik dapat kembali bisa naik kelas sebagai karya seni yang diapresiasi dengan nilai tinggi. Bukan sekadar produk pasar. Batik Tiga Negeri dipilih lantaran batik ini telah hadir sejak zaman dulu dengan penikmat dari seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga: Pengiriman Paket Makin Nyaman, J&T Express Resmikan Drop Point Signature di Jalan Magelang, Kota Jogja


Batik, bagi Afif, budaya tempo dulu yang berpotensi untuk dikolaborasikan dengan konsep dan metode masa kini. Jadi, pameran Batikku Tiga Negeri adalah karya yang akan membuktikan batik bisa dikreasikan tetap dengan mempertahankan cita rasa dulu sembari menghadirkan nuansa masa kini.


"Jadi sekarang agendanya agar masyarakat Indonesia terbiasa menggunakan batik yang asli," papar pria yang telah lebih dari 26 tahun mengamati batik dari berbagai pelosok daerah ini. (laz)

 

Penulis: Salwa Mutia

Editor : Sevtia Eka Novarita
#PDIN #kolaborasi #HAKI #tekstil #Seni #Batik #Pameran