SLEMAN - Bekerja di luar negeri menawarkan gaji yang lebih tinggi. Kesempatan untuk eksplorasi pengalaman baru.
Kondisi ini menjadikan pekerja migran memiliki nilai tambah. Melalui sarana berbagai media, termasuk media digital menjadikan masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi seputar peluang bekerja di luar negeri. Berikut negara tujuan yang hendak dicari.
Di sisi lain, bekerja di luar negeri juga memberikan kesempatan meningkatkan kelas ekonomi.
Sebab, rujukannya adalah negara-negara maju. Khususnya bagi mereka yang berasal dari masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
"Saat pulang ke tanah air dan uang yang diperoleh dirupiahkan pasti akan lumayan. Apalagi kalau bisa hemat dan banyak menabung," ujar Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY Anton Prabu Samendai saat menjadi narasumber di depan peserta pelatihan di Peningkatan Keterampilan Kompetensi Tenaga Kerja yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY.
Pelatihan berlangsung selama empat hari. Kegiatan berlangsung di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Puspa Setya Abadi (PSA) Balecatur, Gamping, Sleman, kemarin (26/11).
Anton berharap modal yang dikumpulkan bisa digunakan membuka usaha baru. Sesuai kompetensi yang didapat.
Bila bekerja di pabrik bisa membuka bengkel. Atau jika bekerja di dunia kuliner bisa membuka warung.
Bisa juga melanjutkan studi secara mandiri. Mendalami ilmu yang diinginkan, termasuk mengembangkan sektor pertanian dan peternakan di kampung halamannya masing-masing.
Saat kembali ke Indonesia diharapkan keterampilan dan semangat kerjanya terus meningkat. Layaknya masyarakat di mancanegara yang dikenal cerdas. Serba cepat menjalankan tanggung jawabnya.
Hanya saja, dia mengingatkan, mendapatkan kesempatan pelatihan keterampilan itu ini penting guna memenuhi standardisasi yang dibutuhkan.
Ada beberapa syarat. Di antaranya, seperti tidak bertato dan bertindik. Memiliki bekal ilmu yang cukup berupa kemampuan bahasa maupun pemahaman budaya.
“Jangan sampai ketika sudah menjadi pekerja migran, justru membuat persoalan di negara tujuan. Membikin malu. Pekerja migran bukan sekadar pahlawan devisa, tapi juga pahlawan kebudayaan,” tandas wakil rakyat yang tinggal di Perengdawe, Balecatur, Gamping, Sleman, ini.
"Kalau pun bisa dari LPK juga bagus dibekali kemampuan main gamelan, menari, atau budaya lokal lainnya untuk memunculkan wajah Indonesia," lanjut anggota DPRD DIY tiga periode ini.
Anton juga berpesan agar seluruh program ketenagakerjaan di luar negeri yang berjalan di DIY bisa disampaikan secara utuh ke masyarakat.
Ini mengantisipasi agar tak ada pekerja migran asal DIY yang pergi ke negara berbahaya. Hingga akhirnya menjadi korban penipuan maupun kekerasan.
Kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY dia mewanti-wanti supaya mengadakan pengawasan ke LPK yang tidak mengantongi sertifikat sending organization (SO).
“Jangan sampai melakukan pelanggaran sehingga bisa mengirim pekerja migran secara mandiri. Bisa dikolaborasikan dengan Program Peladi Makarti yang berada di tingkat kalurahan,” ingat wakil ketua DPRD DIY periode 2019-2024 ini.
Kepala Bidang Pembinaan, Pelatihan, Standarisasi, dan Pemagangan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY Reny Ekawati Chasanah menjelaskan, program peningkatan kompetensi ini juga dilakukan dua LPK lainnya. Yakni LPK Mayabi dan LPK Bina Insani. Totalnya ada 64 orang peserta.
Mereka difasilitasi pengenalan Bahasa Jepang berikut dengan budayanya selama empat hari.
"Harapannya, mereka termotivasi bekerja lewat program magang di Jepang. Dari pelatihan ini sudah ada yang tertarik," katanya.
Reny menyebutkan, saat mereka kembali dari bekerja di luar negeri, diharapkan bisa menjadi pekerja mandiri. Membuka lapangan kerja. Dengan demikian, pada gilirannya bisa menurunkan angka pengangguran dan kemiskinan di DIY. (del/kus)
Editor : Winda Atika Ira Puspita