Menjadi santri sejak kecil hingga kini memimpin rumah sakit besar di Bantul. Perjalanan hidup Direktur RSUD Panembahan Senopati Bantul KH. dr. Atthobari Humam, MPH, Sp.MK adalah bukti nilai-nilai pesantren bisa menjadi pondasi dalam meniti kesuksesan di dunia profesional.
Lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren, Atthobari telah akrab dengan dunia pesantren sejak usia dini. “Karena kebetulan orang tua saya punya pesantren,” jelasnya saat ditemui di RSUD Panembahan Senopati Selasa (21/10)
Sejak masa taman kanak-kanak (TK) hingga lulus SMA, kehidupan sehari-harinya tak lepas dari kegiatan mengaji dan belajar agama di Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul.
Dari sanalah semangat belajar dan jiwa kepemimpinannya mulai tumbuh. “Di pesantren saya juga aktif ikut organisasi santri. Dari situ saya belajar tanggung jawab, belajar memimpin, dan bekerja sama dengan orang lain,” ujarnya.
Setelah lulus SMA, Atthobari melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran di Semarang. Keputusannya untuk menempuh pendidikan umum sempat menjadi langkah berbeda di lingkungan pesantren.
Namun, restu orang tua menjadi dorongan kuat baginya. “Orang tua memberi kebebasan anak-anaknya untuk menuntut ilmu di mana pun, asal ilmu itu bermanfaat untuk umat,” katanya.
Pilihan menjadi dokter tak lepas dari pandangan ilmu kesehatan yang memiliki nilai pengabdian tinggi. Saat di ponpes, ia diajarkan ilmu terbagi menjadi dua. Yakni ilmu fikih yang mempelajari tentang hukum-hukum agama agar bisa hidup beragama dengan baik. Kemudian ilmu kedokteran atau ilmu kesehatan untuk menjaga tubuh.
Dari pemahaman itulah kemudian tumbuh ketertarikannya menjadi dokter agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Perjalanan kariernya dimulai 1999 sampai 2003 setelah lulus kuliah, ketika ia menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT) di Puskesmas Sedayu II.
Setelah itu, ia diangkat menjadi PNS di Puskesmas Sanden pada 2003 sampai 2007, lalu dipercaya memimpin Puskesmas Pandak I pada 2007 sampai 2012.
Pada 2012 menjadi titik awal kiprahnya di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Ia masuk sebagai Kepala Bidang Pelayanan Medik, sebelum akhirnya mengundurkan diri untuk menempuh pendidikan spesialis mikrobiologi klinik di UGM pada 2019.
Setelah menyelesaikan studi spesialis tahun 2022, Atthobari kembali ke RSUD Panembahan Senopati Bantul dan dipercaya menjadi direktur rumah sakit tersebut. “Prinsip saya sederhana saja, jalani setiap amanah dengan sebaik-baiknya, kerjakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, ikhlas, dan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Kesibukannya tak hanya berhenti di dunia medis. Di luar rumah sakit, Atthobari juga aktif di berbagai organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Bantul selama dua periode 2007–2015, dan kini menjadi Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bantul.
Selain itu, ia juga menjadi Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Imdad, melanjutkan perjuangan orang tuanya yang wafat 1996. “Setelah orang tua meninggal, kami bersama keluarga sepakat untuk meneruskan pondok dan membentuk yayasan pada 1997,” jelasnya.
Kini, di bawah kepemimpinannya, Pondok Pesantren Al-Imdad terus berkembang pesat. “Dulu hanya sekitar 30 sampai 50 santri, alhamdulillah sekarang sudah lebih dari seribu santri,” katanya.
Bagi Atthobari, kunci kesuksesan adalah menjalani setiap amanah dengan niat tulus dan komitmen kuat untuk memberi manfaat. Ia berpegang prinsip sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Baginya, sekecil apa pun kebaikan pasti ada balasannya, karena setiap kebaikan pada akhirnya akan kembali kepada diri sendiri.
Ia berpesan agar para santri tidak hanya menjadi santri biasa. Tapi juga santri yang mampu memanfaatkan setiap peluang. Selain mengaji dan belajar, santri juga perlu melatih keterampilan serta aktif berorganisasi.
Di ponpes, misalnya, mereka bisa belajar mengelola organisasi santri sebagai bekal ketika terjun ke masyarakat. Setelah lulus, ilmu yang telah diperoleh hendaknya dimanfaatkan dan diamalkan, karena ilmu yang benar-benar bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. “Jadilah santri yang tidak hanya bisa ngaji, tapi juga siap memberi manfaat di mana pun berada,” tuturnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo