Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal MY Esti Wijayati, Berbagi Cerita Merintis Karir Politik dari DPRD Sleman hingga DPR RI

Kusno S Utomo • Selasa, 21 Oktober 2025 | 12:05 WIB

 

KAYA PENGALAMAN: Wakil Ketua Komisi X DPR RI Esti Wijayati berdialog dengan mahasiswa penerima manfaat KIP Kuliah di Pendapa Universitas Widya Mataram.
KAYA PENGALAMAN: Wakil Ketua Komisi X DPR RI Esti Wijayati berdialog dengan mahasiswa penerima manfaat KIP Kuliah di Pendapa Universitas Widya Mataram.

JOGJA - Maria Yohana (MY) Esti Wijayati  enam periode menjadi wakil rakyat. Kini jabatannya wakil ketua Komisi X DPR RI. Membidangi soal pendidikan. Jalan panjang dilalui Esti hingga duduk di parlemen. Pengalaman meniti karir politik itu diceritakan Esti di depan 1.200 penerima manfaat Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah di Pendapa Universitas Widya Mataram, Banyuraden, Gamping, Sleman.  Dia ingin para mahasiswa yang kuliah di berbagai universitas itu tertarik terjun ke politik.  Ke depan bisa menjadi anggota parlemen.

 Ketertarikan Esti dengan politik dimulai sejak usia belia. Dirinya masih  SMP. Kebetulan ayahnya seorang guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Ayahnya, sering mengajak bicara dirinya soal Trias Politika. Teori politik pembagian kekuasaan, eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Dari ayahnya Esti mulai tahu apa itu lembaga dewan. Khususnya tugas dewan memperjuangkan kepentingan rakyat. “Berangkat dari itu, saya tertarik dan  bercita-cita menjadi anggota DPR. Cita-cita saya itu sekarang terkabul,” ujarnya dalam acara bertajuk “Semarak Kebudayaan” pada Minggu (19/10).

Meski  cita-citanya tercapai, Esti mengaku jalan panjang harus dilalui. Dia berkisah, dirinya piatu sejak masih SD karena ditinggal sang ibu. Ada cerita yang sulit dilupakan. Suatu hari ayahnya mengajak Esti jalan-jalan ke Malioboro. Pengalaman yang jarang dialami.

Dia diajak masuk ke Toko Ramai. Dibelikan sebuah baju berwarna kuning. “Warnanya kuning Hanura seperti dipakai Mas ini,” katanya sambil menunjuk ke seorang mahasiswa yang duduk di depannya.

Belakangan Esti baru tahu, ayahnya membelikan baju baru itu karena hendak menikah lagi setelah beberapa tahun ditinggalkan ibunya. Masa kecil Esti dihabiskan di sebuah dusun di Pakem, Sleman, persis di kaki Gunung Merapi.

 Tamat dari SMA II IKIP Pakem,  istri Bambang Sigit Sulaksono ini kuliah di IKIP Sanata Dharma. Esti mengambil jurusan pendidikan matematika. Esti meneruskan profesi guru seperti ayahnya.

Perempuan kelahiran 17 Juni 1968 itu kemudian banting stir. Dari seorang pengajar menjadi politisi. Dia masuk PDI Perjuangan. Esti kemudian terpilih sebagai anggota DPRD Sleman. Cita-citanya semasa kecil terwujud.  Lima tahun, 1999-2004 duduk sebagai anggota dewan Sleman.  Dia menjabat ketua Komisi C yang membidangi urusan keuangan.

Satu periode di Sleman, Esti ke provinsi. Pemilu 2004 menempatkan ibu dari Bernandus Setya Ananda Wijaya, Christian Adi Wijaya Laksana, dan Angelina Dewi Laksana Putri sebagai anggota DPRD DIY. Dia  mewakili Dapil Kabupaten Sleman.

Tugas sebagai anggota dewan provinsi dijalani dua periode 2004-2009 dan 2009-2014. Esti  tercatat satu-satunya perempuan yang menjadi anggota Fraksi PDIP DPRD DIY.  Dia juga menjadi orang pertama yang memimpin Pansus Raperdais Induk. Lima urusan keistimewaan digabung dalam satu regulasi. Perdais No. 1 Tahun 2013 merupakan turunan dari UU No. 12 Tahun 2013 tentang Keistimewaan DIY.

Setahun kemudian Esti maju sebagai anggota DPR RI. Dia terpilih melalui Pemilu 2014. Ibu tiga anak ini meraup 99.440 suara. Dia kembali menjadi satu-satunya legislator perempuan dari DIY. Sukses itu kembali diulang pada Pemilu 2019 dan 2024 masing-masing dengan perolehan 176.306 suara dan 257.923 suara.

Dukungan rakyat selama tiga pemilu itu terus bertambah. Esti membuka kiat-kiatnya. Dia mengaku rajin turun ke bawah. Salah satunya getol mengampanyekan KIP Kuliah. Program kuliah gratis bagi mereka lulusan SMA/SMK dari keluarga kurang mampu.

Ada pengalaman menggelitik saat Esti datang ke rumah penerima manfaat KIP Kuliah. Ternyata tidak semua  mengenali dirinya. Terbukti saat dirinya berdialog, justru ditanya balik oleh mahasiswa penerima KIP Kuliah. 

“Ibu itu siapa. Dari mana. Mati gua,” ceritanya dengan gaya Betawi tapi dengan logat Jawa yang medhok  mengenang kejadian itu.

Rupanya mahasiswa tersebut lebih mengenal bagian administrasi kampus yang mengurus KIP Kuliah dibandingkan dirinya. Padahal alokasi beasiswa KIP Kuliah didapat dari perjuangan anggota dewan.

 Menyadari pentingnya peran DPR  memperjuangkan aspirasi rakyat, Esti mendorong anak-anak muda, terutama mereka penerima manfaat KIP Kuliah masuk parlemen.  “Syarat anggota DPR harus menjadi anggota partai politik peserta pemilu. Itu syaratnya. Semoga kalian 10 tahun lagi menggantikan kami-kami di DPR,” harapnya.

Soal penerima beasiswa KIP Kuliah, Esti mengatakan  tidak semua permohonan diloloskan. Ada sejumlah persyaratan ketat, termasuk beasiswa tersebut bisa dihentikan. Pembatalan dilakukan bila mahasiswa tersebut terbukti melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Kemudian sudah tidak kuliah. Alamat penerima KIP Kuliah harus jelas.

“Bisa dicabut kalau alamatnya tak diketahui,” ceritanya. Beasiswa bisa ditinjau ulang bila penerima menolak karena kondisi perekonomian keluarganya sudah membaik. Ditandai gaji orang tua di atas Rp 4 juta. Pembatalan bisa dilakukan bila mahasiswa terlibat kasus pidana dan dipenjara. Selama kuliah indeks prestasi (IP) tidak boleh di bawah 3. “Kalau di bawah 3,0 langsung dicabut,” ingatnya serius. (kus/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#KIP #anggota dpr #Kuliah #kartu indonesia pintar #pendidikan moral pancasila #Keistimewaan DIY #prestasi #perekonomian #komisi x dpr ri #aspirasi #Banyuraden #Universitas Widya Mataram