Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Ironis Mantan Menteri Indonesia yang Hidup dalam Kesederhanaan Sampai Tidak Bisa Beli Kain Kafan

Bahana. • Kamis, 16 Oktober 2025 | 19:50 WIB

Haji Agus Salim
Haji Agus Salim
RADAR JOGJA - Di tengah sorotan terhadap gaya hidup para pejabat, sosok K.H. Agus Salim menjadi teladan yang abadi dalam hal kesederhanaan.

Mantan Menteri Luar Negeri Indonesia periode 1947–1948 ini dikenal bukan hanya karena kecerdasannya dalam diplomasi, tetapi juga karena prinsip hidup sederhana yang ia pegang teguh hingga akhir hayat.

Perdana Menteri Belanda Willem Schermerhorn pernah menyebutnya sebagai “jenius bahasa” karena kemampuannya menguasai sembilan bahasa asing.

Namun, di balik kecemerlangan itu, Agus Salim justru hidup dalam keterbatasan.

Dalam berbagai acara resmi, ia kerap tampil mengenakan jas lusuh dan topi tua, bukan karena tidak mampu membeli yang baru, tetapi karena menolak hidup berlebihan.

Salah satu kisah paling menyentuh dari kehidupannya terjadi saat anaknya meninggal dunia.

Agus Salim membungkus jenazah sang anak dengan taplak meja dan kelambu bekas karena tidak mampu membeli kain kafan.

Ketika warga berusaha memberi bantuan, ia menolak dengan alasan bahwa kain baru akan lebih bermanfaat bagi orang yang masih hidup.

Kesederhanaan bukan hal baru bagi Agus Salim. Sejak muda, ia telah menolak kenyamanan dan kemewahan meski berasal dari keluarga terpandang.

Hingga akhir hayatnya, ia tetap tinggal di rumah kontrakan sederhana dan hidup dengan penuh keikhlasan.

K.H. Agus Salim wafat pada 4 November 1954 dan menjadi tokoh pertama yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan.

Atas jasa dan keteladanannya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 657 Tahun 1961.

Warisan moral Agus Salim masih relevan hingga kini menjadi pengingat bahwa kehormatan sejati bukan terletak pada jabatan atau harta, melainkan pada kejujuran, integritas, dan ketulusan dalam mengabdi kepada bangsa.

Penulis: Ni Made Shinta Apriliayani

Editor : Bahana.
#haji agus salim