Di balik legenda dan letusannya, nama Mbah Maridjan selalu melekat sebagai sosok penjaga Merapi yang penuh kesetiaan dan keberanian.
Sosok Mbah Maridjan, atau yang memiliki nama asli Mas Penewu Surakso Hargo, dikenal sebagai juru kunci Gunung Merapi.
Mbah Maridjan menjadi legenda setelah meninggal dunia pada letusan Merapi 26 Oktober 2010.
Ia ditemukan dalam posisi bersujud di rumahnya di Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, tak jauh dari puncak Merapi. Peristiwa itu membuat namanya semakin dihormati oleh masyarakat.
Mbah Maridjan diangkat langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai juru kunci Merapi pada tahun 1982, menggantikan ayahnya yang sebelumnya memegang peran yang sama.
Sosoknya dikenal sederhana, religius, dan sangat teguh memegang adat Jawa.
Tragedi yang menewaskan Mbah Maridjan terjadi pada 26 Oktober 2010 pukul 17.02 WIB, saat letusan besar Gunung Merapi melanda.
Letusan itu menewaskan lebih dari 300 orang dan menghancurkan sejumlah desa di sekitar lereng Merapi.
Keputusan Mbah Maridjan untuk tidak meninggalkan rumahnya saat letusan Merapi dianggap sebagai bentuk kesetiaan terhadap amanah dan tugas spiritual yang diembannya.
Setelah wafatnya, legenda Mbah Maridjan tidak pudar. Masyarakat masih menggelar ritual labuhan Merapi setiap tahun sebagai bentuk penghormatan.
Rumah peninggalannya di Kinahrejo kini menjadi museum kecil yang menyimpan benda-benda pribadi almarhum, termasuk pakaian, perabotan, dan foto-foto saat erupsi.
Penulis: Ni Made Shinta Apriliayani