Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Agustin Dwi Astuti Yang Menempa Mimpi dari Usaha Salad Buah, Mahasiswi Gunungkidul Berhasil Menembus Bangku Kuliah dengan Beasiswa

Yusuf Bastiar • Minggu, 5 Oktober 2025 | 15:05 WIB

 

TEKAD: Dari puluhan UMKM di acara Gunungkidul Cinta Batik Fashion Show, Agustin merupakan salah satu anak muda yang menjajakan produk miliknya, salad buah dan puding.
TEKAD: Dari puluhan UMKM di acara Gunungkidul Cinta Batik Fashion Show, Agustin merupakan salah satu anak muda yang menjajakan produk miliknya, salad buah dan puding.

GUNUNGKIDUL - Pagi masih basah di Padukuhan Trowono B, Karangasem, Paliyan. Udara sejuk sisa hujan malam sebelumnya berpadu dengan pemandangan jalur jalan lintas selatan (JJLS) yang membelah perbukitan karst khas Gunungkidul.

Batuan putih pualam berdiri tegak, seolah menjadi saksi bisu perjuangan warganya.

Dari desa sederhana inilah, seorang perempuan muda bernama Agustin Dwi Astuti, 20 menapaki mimpinya. Yakni kuliah sambil membiayai diri sendiri lewat usaha salad buah dan puding.

 Baca Juga: Terkendala Sistem, PPPK Paruh Waktu di Bantul Belum Kantongi Nomor Induk Pegawai

“Saya mahasiswa, saya bergelut dengan manajemen bisnis di kampus, dan saya praktekkan di usaha salad buah,” ujarnya saat ditemui di gelaran UMKM Gunungkidul Cinta Batik Fashion Show Kamis (2/10/2025).

Lahir dari keluarga pedagang makanan, Agustin terbiasa membantu orang tuanya sejak kecil. Awalnya sekadar ikut melayani pembeli, hingga akhirnya berani mencoba usaha sendiri saat SMA.

Pisang bakar jadi eksperimen pertamanya, namun gagal karena tak laku. Tak menyerah, ia beralih ke salad buah dan puding.

Produk sederhana yang ternyata lebih diminati teman-teman sebayanya. Dari situlah, kepercayaan dirinya tumbuh.

 Baca Juga: Enam Remaja Nongkrong Bawa Celurit Diangkut Mobil Patroli ke Kantor Polisi

Dari setiap cup salad dan puding yang habis terjual, ia bukan hanya mendapat keuntungan, tetapi juga keyakinan bahwa jalan wirausaha bisa menjadi pintu menuju cita-cita.

“Saya waktu itu sisihkan uang jajan, lalu saya putar jadi modal. Saya titipkan ke koperasi sekolah dan pedagang pasar. Alhamdulillah laku,” kenangnya.

Tamat SMA pada 2024, ia berhadapan dengan dilema. Keinginan kuliah terhambat masalah biaya.

Namun, Agustin sudah menyiapkan jawaban. Dari hasil usahanya, ia menabung Rp 2,5 juta.

Dikumpulkannya selama SMA. Jumlah itu ia gunakan untuk mendaftar ke UPN Veteran Yogyakarta, jurusan Manajemen Bisnis. Ia juga mengajukan beasiswa KIP dan diterima.

“Orang tua sempat bingung soal pembiayaan. Tapi saya bilang, biaya kuliah sudah ditanggung beasiswa, kebutuhan harian saya tanggung sendiri dari jualan,” tuturnya.

Di tengah kebingungan keluarga, Agustin justru tampil sebagai jawaban, anak desa yang berani melangkah ke kota besar dengan bekal dagangan sederhana.

Kini, Agustin menjalani hari-harinya dengan pola hidup yang teratur.

 Baca Juga: Kongres Gagal Sepakati Anggaran, Pemerintah AS Mengalami Shutdown

Pagi ia menyiapkan salad buah dan puding, menyimpannya di freezer agar tetap segar, lalu menitipkan ke koperasi sekolah, kantin kampus, hingga pasar tradisional.

Siang hingga sore ia kuliah. Malam, dapur kontrakan di Yogyakarta kembali ramai untuk persiapan esok hari. Hasilnya membanggakan. Semester pertama IPK-nya 3,6, naik menjadi 3,7 di semester kedua.

“Saya tidak pernah merasa terganggu kuliah. Justru saya menikmati semua proses ini,” ujarnya. 

 Baca Juga: Meski Aduan Oplos dari Masyarakat Tidak Terbukti, SPBU Gito Gati Tetap Akan Ditutup Selama Dua Hari

Di sela-sela kegiatan kuliah, Agustin juga rutin ikut pameran UMKM di kampus maupun acara yang digelar pemerintah.

Di antara para pelaku usaha yang sudah dewasa, ia kerap menjadi peserta termuda. Namun alih-alih minder, ia melihatnya sebagai ruang belajar.

“Saya bangga, karena ilmu manajemen bisnis yang saya pelajari di kelas langsung saya praktikkan,” katanya.

Semangat Agustin mencerminkan tanah kelahirannya, Gunungkidul dengan karst yang keras dan tandus.

Baca Juga: Hentikan dan Evaluasi Total Progam MBG, Begini Kritik Pedas Ibu-Ibu Gerakan Suara Ibu Indonesia Yogyakarta dalam Aksi Panci

Hidup di tanah berbatu menuntut warganya terbiasa dengan kerja keras dan kreativitas. Begitu pula Agustin.

Dari desa karst yang sederhana, ia membawa semangat untuk menaklukkan keterbatasan.

Jalan JJLS yang membelah bukit kapur di dekat desanya, baginya, metafora perjuangan membelah batu karang dengan kesabaran demi membuka jalan ke masa depan.

Kini, Agustin tidak hanya berjualan demi mencukupi biaya hidup sehari-hari.

Ia juga menjadikan usahanya sebagai laboratorium pribadi untuk menguji teori manajemen bisnis yang ia pelajari di bangku kuliah.

Dari pencatatan sederhana hingga strategi pemasaran, semua ia praktikkan langsung.

Perjuangannya adalah kisah tentang bagaimana mimpi bisa tumbuh bahkan dari desa yang dikelilingi bebatuan karst.

Dari salad buah dan puding yang sederhana, Agustin menanam harapan yang besar, yakni membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukanlah hak eksklusif, melainkan bisa digapai oleh siapa saja yang berani berjuang.

“Pendidikan itu bukan hanya untuk orang yang punya uang. Saya percaya, asal ada tekad, anak dari keluarga sederhana juga bisa kuliah dan mandiri,” ujarnya tegas. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#bangku kuliah #Gunungkidul #beasiswa #Mengenal #mahasiswi #salad buah