Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Dhiandra Vega, dari Tukang Cuci Gelas ke Konsultan Kopi, Inilah Kisah Tentang Kesabaran dan Keteguhan

Magang Radar Jogja • Selasa, 30 September 2025 | 17:10 WIB

 

Dhiandra Vega
Dhiandra Vega

 

Tak banyak yang mengenal namanya, apalagi menjadikannya panutan. Tapi jika kamu pernah menyeruput kopi dari tangan seorang yang dulunya adalah tukang cuci gelas—kamu mungkin telah menjadi bagian dari kisah luar biasa milik Dhiandra Vega. Lelaki kelahiran 1988 ini, kini dikenal sebagai konsultan kopi, pengusaha fashion, dan pendiri Giliran Kopi. Namun, perjalanan ke titik ini sama sekali bukan hal yang mudah.

 

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang keras, Dhiandra Vega tumbuh sebagai anak laki-laki berdarah Padang–Arab. Ia sempat menempuh pendidikan di Politeknik Negeri Jakarta, namun harus menerima kenyataan pahit: di-drop out. Bukan karena tak mampu, tetapi karena mengaku dirinya "nakal." Peristiwa itu menjadi titik balik dalam hidupnya.

Bukan hanya pendidikan yang hilang, tapi juga kepercayaan orang tuanya. Rasa bersalah, kecewa, dan hancur menjadi satu. Tapi Vega memilih bangkit.

 

Tahun 2010, Vega mulai bekerja sebagai waiters di Strawberry Café, Lenteng Agung. Di sinilah dia mulai belajar banyak hal: pelayanan, karakter pelanggan, dan kerasnya dunia kerja. Stigma sosial terhadap pekerja kafe pun tak bisa ia hindari. Tapi Vega tahu, dia harus bertahan.

Setelahnya, ia sempat bekerja di Celebrity Fitness sebagai digital marketing dan digaji Rp 7 juta per bulan—angka besar untuknya saat itu. Bahkan, ia sempat ditawari bekerja di India. Namun, restu orang tua tak kunjung datang, dan kesempatan itu pun ia lepaskan.

Hidup seperti ingin mengujinya terus-menerus. Vega akhirnya kembali ke dunia kopi, bergabung dengan sebuah coffee shop kecil: Kopi Paste. Gaji? Hanya Rp 900 ribu. Tapi dari sini, secercah cahaya mulai tampak.



Tak langsung jadi barista. Tidak juga jadi pelayan. Dhiandra Vega justru mengawali di Kopi Paste sebagai tukang cuci gelas selama tiga bulan penuh. Ia menerima itu dengan penuh kesabaran. Diam-diam, sambil mencuci, ia mengamati gerak-gerik barista. Menghafal jenis gelas, memahami alur kerja, dan menyerap setiap detail sekecil apapun.

Dan ketika kesempatan datang untuk membuat espresso pertamanya, Vega tak menyia-nyiakan momen itu. Ia mulai ikut berbagai kursus kopi—dari manual brew, mengoperasikan mesin espresso, hingga latte art.

 

Semangat belajarnya berbuah hasil. Ia mulai mengikuti berbagai kompetisi kopi dan kerap menyabet posisi juara 2 dan 3. Vega tahu, untuk berkembang di dunia ini, dia harus terus menajamkan keterampilan. Tidak hanya berhenti sebagai barista, Vega naik level menjadi seorang roaster.

Antara tahun 2011 hingga 2016, ia mendalami seni roasting—memilih biji kopi, menggoreng, kalibrasi, hingga memahami karakter rasa. Ia bahkan dipercaya sebagai juri di berbagai kompetisi manual brew, termasuk Selatan Brewing Competition dan Gans Brewing. Beberapa coffee shop di Jogja bahkan rutin menggunakan jasanya, seperti Selo Kopi, Basa Basi, dan Kainum.

 

Pada 2019, Dhiandra Vega membuka coffee shop-nya sendiri di Depok, News Coffee. Namun, kisah sukses itu tak bertahan lama. Masalah internal memaksanya menjual usaha tersebut setelah tiga tahun berjalan. Tapi seperti biasa, hidup seolah tak membiarkan Vega larut terlalu lama dalam kegagalan.

 

Di saat yang sama, tawaran datang untuk menjadi konsultan kopi di Kopinya Piyu. Coffee shop ini sebelumnya sempat tertipu oleh konsultan lain, dan Dhiandra hadir saat semuanya dalam kondisi hampir runtuh.

Tugasnya tidak mudah. Ia harus memperbaiki semuanya—dari branding, resep, marketing, hingga perputaran uang. Tapi ia berhasil. Dalam hitungan bulan, coffee shop itu kembali bangkit. Gaji bulanannya sebagai konsultan? 11 juta rupiah—angka yang fantastis di kota seperti Jogja. Tapi lebih dari itu, ini adalah bukti bahwa dirinya sudah membalik keadaan.

 

 

Dhiandra Vega tahu, membangun usaha itu tidak pernah mulus. Kompetitor, kritik, bahkan sabotase, semua pernah ia hadapi. Tapi prinsipnya sederhana:

Baca Juga: Mahasiswa Unjuk Prestasi, Ini Jawara Film Pendek Keselamatan Berkendara Dari Yayasan AHM

“Kuncinya jujur, tenang, dan konsisten. Kita harus tahu tujuan kita ke mana. Jangan takut gagal. Selalu ada jalan lain asal kita sabar.”

Kini, Vega tak hanya bisa tersenyum bangga, tapi juga bisa kembali memeluk kedua orang tuanya—dengan rasa penuh syukur, bukan sekadar maaf.

Kisah Dhiandra Vega adalah pengingat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Justru, kegagalan bisa jadi awal dari sesuatu yang lebih besar. Dari gelas-gelas kotor di sudut dapur kedai, lahirlah secangkir kesuksesan yang kini bisa dinikmati oleh banyak orang. (Maria Florida Namus)

 

Editor : Heru Pratomo
#Latte art #Gelas #tukang cuci #celebrity fitness #konsultan #Kopi #gaji #basa basi #roasting #vega #espresso #barista