Kegiatan pembelajaran siswa SD Negeri Gabahan, Sumberadi, Kapanewon Mlati pada Kamis (21/8) sedikit berbeda. Mereka terlihat sibuk membuat wayang suket dengan panduan dari Gaga Rizky.
Delima Purnamasari, Sleman
Para siswa kelas enam tersebut membuat salah satu bentuk dasar dari wayang suket, yakni laki-laki halus. Disebut sebagai bentuk yang paling mudah dibuat dibandingkan lainnya.
Gaga menyebut saat ini tengah mengajarkan warisan budaya ini di sekolah-sekolah negeri di DIJ. Baik itu SD, SMP, hingga SMA.
Founder Komunitas Wayang Suket Indonesia ini mengaku tak ada kendala berarti yang dihadapi. Dia mengaku kuncinya adalah kesabaran dan menanggapi tingkah para anak-anak. Jadi, mereka merasa diperhatikan dan semangat selama pembelajaran.
"Motivasi kami karena anak sekarang lebih tertarik dengan budaya dari luar," terangnya ditemui usai kegiatan.
Seperti namanya, wayang suket berarti wayang yang dibuat dari rumput. Dalam kesempatan kali ini dia memilih rumput mendong. Menyesuaikan komoditas petani sekitar agar terjadi kolaborasi.
Meski demikian, wayang suket sebenarnya dibuat dari rumput liar. Hanya saja karena tidak sedang musim hujan sulit menemukan ukuran rumput yang memiliki panjang 30 cm.
Panjang minimal untuk membuat wayang suket ukuran kecil.
Gaga sendiri bercerita pernah membuat wayang suket dari tulang daun kelapa, sereh, hingga sedotan bekas.
Pembuatannya juga tidak membutuhkan waktu lama. Dilakukan dengan cara menjalin satu bagian ke bagian yang lain.
"Satu wayang satu atau dua jam sudah jadi. Kalau buat wayang jenis baru lima jam," katanya.
Laki-laki asal Tuban ini bercerita bahwa tokoh dari wayang suket dapat dibedakan empat jenis saja. Mulai dari laki-laki gagah atau ksatria, laki-laki alus, perempuan, dan anak-anak. Tidak ada pakem pembentukan secara detail seperti wayang pada umumnya.
Selain itu, cerita yang dibawakan lewat wayang suket juga tidak terbatas. Gaga sendiri lebih memilih menceritakan cerita rakyat Indonesia. Misalnya, Timun Mas, Cinderlaras, hingga Roro Jonggrang.
"Saya pengen bilangin ke anak-anak kalau bangsa ini juga punya cerita princess yang menarik," katanya.
Komunitas Wayang Suket Indonesia sendiri berdiri sejak 25 Januari 2018. Sejak saat itu Gaga bersama kawan-kawannya membuat berbagai pementasan dan pameran. Tidak hanya tingkat nasional, tetapi juga Internasional.
"Menariknya, ketika awal terbentuk justru 80 persen orang luar negeri. Baru ketika pertunjukan pertama, orang Indonesia banyak yang gabung," kenangnya.
Untuk bisa sampai pada titik ini, Gaga mengaku perjalanannya tidak mudah. Apalagi ketika awal niatnya dianggap sepele lantaran hanya mengurusi rumput. Namun, kini dia sudah berkeliling di berbagai wilayah Indonesia untuk mengenalkannya. Bahkan, November mendatang akan terbang ke Italia.
"Meski dari rumput, tetap awet. Wayang suket punyaku dari 2017 masih ada. Cuma kalau sering dipakai pentas memang perlu perbaikan," terangnya. (del)
Editor : Bahana.