JOGJA - Pamella Supermarket mungkin sudah tak lagi asing bagi masyarakat Jogja. Namun siapa sangka, sosok di balik suksesnya swalayan dengan banyak cabang itu dulunya hanya memiliki warung kecil. Dia adalah Noor Liesnani Pamella.
Wanita 70 tahun mengaku, Pamella Supermarket berawal dari sebuah bangunan berukuran 5x5 meter. Berada di Jalan Kusumanegara, Kota Jogja. Bangunan itu kemudian dia gunakan untuk membuat usaha warung bersama dengan almarhum suaminya Sunardi Syahuri pada 1975 silam. Tepat beberapa bulan setelah menikah.
Saat itu, dia genap berumur 20 tahun. Modal awal yang digunakan sekitar Rp 250 ribu. Lalu dari total luas bangunan yang dimilikinya, tiga meter difungsikan sebagai warung. Sedangkan dua meter sisanya untuk kamar tidur. Barang yang dijual pun masih belum lengkap.
“Kemudian pelan-pelan bisa menambah sedikit dan Alhamdulillah bisa seperti sekarang,” ujar Liesnani saat ditemui di Kemantren Umbulharjo Kamis (31/7).
Namun berawal dari bangunan sempit itu, Pamella Supermarket kini sudah memiliki sembilan cabang yang tersebar di beberapa wilayah Jogjakarta. Cabang terbaru sudah didirikan di Kabupaten Gunungkidul. Serta berencana menambah cabang kesepuluh di Kabupaten Kulon Progo.
Menurut wanita kelahiran 1955 itu, kunci utama membangun Pamella adalah harus memiliki semangat kerja yang tinggi. Kemudian juga harus mau untuk hidup sederhana agar sebagian keuntungan bisa ditabung.
Liesnani menyampaikan, dalam proses membangun usahanya, juga tidak boleh lepas untuk berbagi dengan orang. Sebab dengan berbagi rezeki, akan membuka pintu rezeki bagi dirinya lebih luas lagi.
Keinginan untuk terus berbagi itu tentu tidak lepas dari pengalaman hidupnya. Sebelum sukses seperti sekarang, Liesnani mengaku pernah hidup sebagai anak yatim sejak kecil.
Menanggung hidup tanpa sosok ayah diakuinya sangat berat. Sehingga dia pun sering dibantu oleh orang yang peduli dengannya. Lantas ketika sudah sukses seperti sekarang, Liesnani berkomitmen untuk membantu orang lain.
Selain itu, Pamella Supermarket juga cukup konsen untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Sehingga sejak 2003, swalayan tersebut tidak lagi menjual rokok kepada para pelanggan.
“Kami pengen masyarakat sehat, jadi apa pun jenis rokok tidak dijual,” tegas Liesnani. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita