MUNGKID - Di sebuah bengkel mungil yang menyatu dengan rimbun pepohonan Desa Tegalarum, Borobudur, suara gunting dan lem tembak berpadu dengan semilir angin pedesaan. Seorang pria paro baya tampak sibuk memilah lembaran plastik bekas, matanya tajam memperhatikan setiap detail.
Ia adalah Hadi Prayitno, 51 perajin yang berhasil menyulap limbah menjadi karya seni bernilai tinggi. Sejak 2017, Hadi mendirikan Bostik Saga Craft. Sebuah bengkel sekaligus galeri kerajinan berbasis daur ulang. Awalnya ia menggunakan limbah pipa pralon, lalu beralih ke plastik bekas.
Namun kini, ia menghadapi tantangan baru, yakni sulitnya mendapatkan bahan bersih. Bukan tidak ada, tapi cari yang bersih sekarang susah.
“Saya ambil dari pemulung atau pengepul, sudah bersih sampai sini. Harganya bisa sampai Rp 10 ribu per kilo," ujar dia di rumahnya, Jumat (1/8).
Meski banyak yang menyebutnya seniman, ia memilih menyebut diri sebagai perajin. "Banyak yang anggap ini seni, padahal ini juga produk, bisa dipakai, bisa dijual," imbuhnya sambil menunjuk koleksi aksesori kepala banteng yang pernah dipesan untuk Ganjar Pranowo.
Seluruh keahlian Hadi, dipelajari secara otodidak. Dari pelatihan-pelatihan kecil yang pernah ia ikuti, ide-ide liar langsung ia wujudkan dalam bentuk karya.
Mulai dari bros, kupu-kupu hias, hingga ornamen kepala naga, meski yang terakhir sempat batal karena terlalu rumit dan mepet tenggat waktu.
Semua cukup dengan Rp 25 ribu per anak. "Sampai sekarang belum ada paket wisata yang masuk ke sini," paparnya, menyiratkan harapan yang sederhana namun kuat.
Di momen Agustusan seperti sekarang, biasanya permintaan aksesori dan properti karnaval meningkat. Tapi tahun ini masih sepi. Sembari menunggu pesanan datang, ia tetap setia mengolah sisa plastik, agar tak jadi sampah baru.
Apa yang dilakukan Hadi mungkin terlihat sederhana. Memilah, memotong, dan menyusun potongan plastik bekas. Tapi dari balik tumpukan limbah itu, ia sedang mengubah cara pandang. Bahwa sampah bisa punya nilai.
Bahwa kreativitas bisa muncul dari keterbatasan. Keindahan tak selalu harus dimulai dari yang mewah. (pra)
Editor : Heru Pratomo