GUNUNGKIDUL - Kalurahan Playen memiliki pom minyak goreng yang tak biasa. Pemiliknya bukan perusahaan swasta besar. Bukan pula waralaba. Namun murni milik rakyat.
Pom minyak goreng ini langsung dikelola oleh Koperasi Desa Merah Putih Kalurahan Playen. Dibangun dari semangat gotong royong, dan digerakkan oleh niat tulus seorang lurah yang ingin warganya sejahtera. Dia adalah Surahno. Sudah dipercaya warga memimpin Kalurahan Playen sejak 2013 silam.
Di periode keduanya yang akan berakhir 2027, Surahno melakukan langkah yang tak banyak diambil pemimpin desa lain. Yakni mengawali pendirian Koperasi Merah Putih dengan cara turun tangan langsung. Bahkan rela mengucurkan modal pribadi sebesar Rp 145 juta.
Baca Juga: Pieter Huistra Bangga dengan Adaptasi Para Pemain Muda PSS Sleman, Bekerja Keras, dan Mau Belajar
“Saya dengar kabar dari pusat. Saat itu juga saya langsung berpikir, ini kesempatan. Waktu itu ada tawaran jadi pangkalan minyak goreng dari PT Bosco Gajah Mada,” beber Surahno mengenang awal mula ide tersebut saat ditemui di lokasi pom minyak goreng Jumat (25/7).
Tak ingin gegabah, dia mendatangi wilayah lain yang sudah mencoba program serupa. Di Sleman, dia menyaksikan langsung bagaimana sistemnya berjalan.
Melihat peluang dan kebutuhan masyarakat yang besar, apalagi banyak pelaku UMKM dan pedagang kaki lima di sekitar Playen, Surahno mantap. Mewujudkan pom minyak goreng berdiri di wilayahnya.
Dengan dana pribadi, dia membeli satu unit mesin pom minyak beserta enam tangki berkapasitas total 6.000 liter. Lengkap dengan peralatan pendukungnya. Tak ada proposal, tak menunggu bantuan.
“Saya pinjamkan uang pribadi dulu, supaya jalan. Nanti modal itu dikembalikan pelan-pelan dari keuntungan,” ujarnya.
Langkah berani itu membuahkan hasil. Sejak beroperasi Mei 2025, antusiasme warga luar biasa. Di minggu pertama saja, 500 liter minyak goreng langsung ludes.
Kini, rata-rata setiap hari, pom itu menjual 200-450 liter. Dalam sebulan, stok 6.000 liter selalu habis. Terlebih saat ada hajatan atau acara adat. “Minyak kami dijual Rp15.000 sampai Rp15.500 per liter. Itu lebih murah dari harga pasar, yang biasanya sampai Rp17.000,” beber Surahno.
Yang menarik, tidak ada batas minimal pembelian minyak goreng. Banyak warga datang membawa botol bekas air mineral atau gelas plastik. Cukup beli Rp 5.000, akan tetap dilayani. “Karena kami tahu kondisi warga. Gak semua bisa beli satu liter,” ujarnya penuh empati.
Surahno bukan orang baru dalam dunia pasar. Dia tumbuh besar di sekitar Pasar Playen. Pernah jadi sopir truk, perantau, dan pekerja serabutan semasa muda. “Saya tahu betul rasanya hidup susah. Saya pakai jabatan ini betul-betul untuk warga,” katanya dengan suara bergetar.
Kedekatannya dengan pedagang juga menjadi kekuatan koperasi ini. Dia bahkan menjadi penasihat pedagang kaki lima setempat. “Saya tahu mereka butuh minyak setiap hari. Makanya pas kami buka, mereka langsung ambil dari sini. Sudah percaya,” lontarnya.
Surahno tak berhenti di minyak goreng. Dia sudah menyiapkan rencana pengembangan koperasi ke sektor lain, semua berbasis kebutuhan masyarakat dan ekonomi lokal. “Akan ada pangkalan gas elpiji, lalu penjualan beras lokal dari petani kami sendiri. Bahkan nanti mau buat kolam lele, yang ngelola warga. Keuntungan balik ke mereka juga,” ucapnya dengan mata berbinar.
Koperasi Desa Merah Putih Playen kini menjadi satu-satunya yang sudah berjalan di Gunungkidul sebelum peresmian resmi pada 21 Juli. Saat koperasi lain masih bersiap, Playen sudah melaju.
Di usianya yang mendekati 60 tahun, Surahno tak banyak memikirkan pencapaian pribadi. Dari semangat, empati, dan keberanian memulai, Surahno menunjukkan bahwa kepemimpinan di level kalurahan bisa sangat berarti bila digerakkan oleh hati. “Saya ingin dikenang sebagai lurah yang benar-benar bekerja untuk masyarakat. Sudah itu saja,” katanya lirih. (cr1/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita