Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Elza Amalia, Petani Hidroponik Gen Z dari Semin Awalnya FOMO dengan Bibit Seharga Rp 50 Ribu

Yusuf Bastiar • Selasa, 1 Juli 2025 | 16:10 WIB
Petani Perempuan Gen Z, Elza Amalia, sedang melakukan perawatan tanaman hidroponik di Gren House miliknya di Padukuhan Ngijo, Kalurahan Semin, Kapanewon Semin Gunungkidul Senin (30/6).   
Petani Perempuan Gen Z, Elza Amalia, sedang melakukan perawatan tanaman hidroponik di Gren House miliknya di Padukuhan Ngijo, Kalurahan Semin, Kapanewon Semin Gunungkidul Senin (30/6).  

 

 

 

 

GUNUNGKIDUL - Berawal dari rasa fear of missing out (FOMO) atau rasa cemas ketinggalan sesuatu tren, perempuan muda asal Ngijo Kalurahan Semin Gunungkidul Elza Amalia kini menjadi sosok inspiratif. Terutama bagi kalangan Gen Z yang mulai melirik pertanian hidroponik sebagai gaya hidup baru. Berawal melihat tren kebun estetik di media sosial,

Di lahan sempit 3x6 meter di rumahnya, Elza mengubah sudut kecil menjadi green house sederhana. Penuh sayur segar. Selama ini, Elza menanam sawi, selada, lombok, tomat, hingga bayam brasil.  "Aku awalnya cuma coba-coba,” tutur Elza saat ditemui Senin, (30/6).

Mulanya ia hanya membutuhkan modal sebesar Rp 50 ribu. Modal tersebut Elza Gunakan untuk membeli bak, benih, pupuk, hingga airarator. Kemudian, ia mulai mencobanya bertani hidroponik di meja kecil berukuran 30x60 cm di sudut rumah.

Sebagai Gen Z, dia mengaku apa yang dimulai karena tren media sosial justru berubah menjadi hobi yang menyelamatkan dapur. "Sekarang jadi lebih hemat, enggak takut sama harga pasar. Kalau panennya berlebih, malah bisa buat saudara atau dijual," ujarnya.

Sekarang ini, Elza sudah memanfaatkan sistem hidroponik dan aquaponik di lahannya. Dengan 300 lubang tanam untuk sistem hidroponik biasa dan 100 untuk aquaponik. Sudah panen berkali-kali. Menurutnya, pertanian hidroponik sangat cocok untuk kalangan Gen Z.

Sebab, Elza sudah mempraktekan model pertanian ini sangat efisien dan simpel. Ia mengaku masih tetap bisa produktif tanpa harus setiap hari memegang cangkul. “Cocok buat Gen Z yang mageran tapi pengen bertani," tambahnya sambil tertawa.

Pertanian hidroponik memang menawarkan cara bercocok tanam yang simpel tapi berdaya hasil. Bagi Elza pupuk yang dibutuhkan dalam pertanian hidroponik hanya satu macam. Selain itu juga tidak memerlukan lahan luas.

Bahkan, Elza sendiri merasa selama menggeluti hidroponik tidak terlalu intens dalam perawatan harian. Hal inilah yang menurutnya menarik minat generasi muda yang ingin punya aktivitas produktif namun fleksibel.

Meski demikian, perjalanan Elza tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami gagal panen karena kurang sinar matahari, salah pilih benih, dan bahkan serangan virus dari media batu yang digunakan.

Tetapi, pengalaman itu justru membuatnya makin paham dan kini aktif membagikan ilmunya lewat pelatihan ke warga sekitar dan kelompok wanita tani (KWT).

Dibesarkan di keluarga petani, Elza awalnya enggan mengikuti jejak orang tuanya. Namun, pandemi Covid-19 yang memaksanya tinggal di rumah justru membuka jalan baru.

Ia memilih bertani dengan teknologi terbaru hidroponik sebagai upaya menunjukkan bahwa pertanian bisa jadi solusi masa depan. Bahkan bagi anak muda yang dulu merasa itu bukan dunia mereka. "Nanem enggak harus ribet. Dan bisa tetap estetik juga, kok," tutupnya sambil menunjuk kebunnya yang rapi dan instagramable. (pra)

Editor : Heru Pratomo
#Semin #Gunungkidul #fomo #Petani Hidroponik #Gen Z