KEBUMEN - Bagi Paryanto, 41, keberhasilan bukan hanya diukur dari capaian gelar akademik semata. Tapi bagaimana dia mampu membawa diri. Prinsip ini yang kemudian dijadikan pedoman konsisten bertani. Dia mengaku bangga sebagai petani, meski telah menyandang gelar magister hukum.
Paryanto bukan sekadar petani biasa. Dia lulusan S2 Universitas Negeri Semarang (Unnes). Namun belakangan dia justru banting stir, menekuni bidang pertanian. Ijazah aslinya hanya tersimpan rapi di lemari. Bapak dua orang anak ini lebih memilih bertanam cabai, ketimbang mengandalkan gelar untuk bekerja.
Secara akademik Paryanto terbilang mocer. Dia tercatat lulus pendidikan sarjana hukum di Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang pada tahun 2017. Kemudian melanjutkan jenjang pendidikan di Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Sebagai jebolan S2 Unnes, Paryanto sejatinya memiliki peluang untuk menapaki karier. Tapi bukan itu cita-citanya. Dia menyatakan ingin merdeka atas dirinya sendiri melalui cara bertani. Suami dari Indah Yuningsih itu tak risih memikirkan tuntutan gelar akademik. “Semua sama. Ini hanya panggilan hati saja. Jadi petani itu menyenangkan karena keringat menetes buat keluarga,” tuturnya, di sela panen cabai, Rabu (18/6).
Paryanto lahir di desa paling ujung selatan Kebumen. Tepatnya di Desa Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren pada 5 April 1984. Lokasi tempat tinggalnya hanya berjarak sekitar satu kilometer dari pantai selatan. Dia memang dibesarkan dari keluarga petani. Sejak kecil dirinya sudah terbiasa di ladang untuk ikut bertani.
Kondisi alam yang subur, belum lagi melihat potensi pertanian yang begitu besar membuat diriya terpanggil menjadi petani. Lebih dari pada itu dia merasa prihatin karena sektor pertanian kini mulai ditinggalkan. Generasi sekarang tak lagi melirik sawah maupun ladang sebagai embrio perputaran ekonomi.
Kondisi ini menjadi faktor dirinya konsisten bertani. Dia ingin menunjukkan petani berhak sukses atas usaha kerasnya sendiri. “Terkadang ada mindset kerja harus wangi, tempatnya bersih. Ya itu bagus. Tapi bagi saya bertani juga sebuah pengabdian, kepada alam, kepada sesama manusia. Apa salahnya,” ujar Paryanto.
Paryanto kini menggarap lahan seluas 2.800 meter persegi. Lahan tersebut dapat ditanami sekitar 5.000 pohon cabai. Jika diakumulasi penghasilan rata-rata setiap bulan dari hasil panen cabai tidak kurang Rp 7 juta. “Sekali petik 1,5 kuintal. Seminggu bisa tiga kali petik. Lumayan buat kebutuhan anak istri,” pungkasnya. (fid)
Editor : Sevtia Eka Novarita