GUNUNGKIDUL - Tak sekadar mencari untung, bagi Budiono, menjalankan usaha bus antarkota dalam provinsi (AKDP) adalah soal menjaga warisan.
Bermula dari menjadi sopir dan merintis usaha kecil dengan dua unit bus, kini ia berhasil mengelola perusahaan otobus (PO) sendiri bernama PT Putra Gunungkidul sejak 2009.
Di tengah gempuran armada besar dan modern, Budi bersikeras mempertahankan eksistensi bus lokal agar tetap mengaspal, menyambungkan kota-kota kecil yang kerap terabaikan.
“Berpuluh tahun kami sudah melayani masyarakat Gunungkidul bepergian ke Jogja,” ujar Budiono saat ditemui di Terminal Induk Dhaksinarga Gunungkidul, Jumat (13/6/2025).
Tak mudah merintis usaha yang kini ia sudah melahirkan 11 bus medium untuk mengangkut penumpang Jogja-Wonosari.
Jatuh bangun ia rasakan. Perjalanan Budi dimulai jauh sebelum nama Putra Gunungkidul dikenal.
Sejak 1984, pria kelahiran 1961 ini menggeluti dunia transportasi sebagai sopir bus malam jurusan Solo–Jakarta dan Wonosari–Jakarta.
Puluhan tahun hidup di jalanan dan terminal membuat Budi akrab dengan kerasnya dunia transportasi.
Pekerjaan ini dilakoninya sampai akhir 2005. Tekadnya kuat, suatu saat harus punya bus sendiri. Meskipun tak bisa langsung membeli bus, dia sudah memulai menyisihkan uangnya untuk menabung.
“Setelah 2005 saya sudah gak nyopir bus antarprovinsi lagi,” ujarnya.
Selepas berhenti nyopir pada 2005, Budi ditunjuk sebagai operator utama Bus Rosalia Indah di Terminal Dhaksinarga Gunungkidul.
Tahun-tahun berikutnya dia juga dipercaya mengelola dua bus Bakmi Jaya.
Kepercayaan itu dia balas dengan kerja keras dan pengelolaan profesional. Budi tak hanya mengatur jadwal dan operasional, tapi juga belajar soal manajemen bisnis dari bawah.
“Dari terminal saya belajar banyak. Saya ingin punya usaha sendiri, yang saya rintis dari bawah,” ungkapnya. Sehingga, pada tahun berikutnya ia memutuskan untuk membeli bus.
Lantas pada 2009, momen besar itu datang. Budi memberanikan diri meminjam Rp 20 juta dari bank daerah di Gunungkidul untuk membeli dua unit bus.
Dengan bangga ia menamai perusahaannya Putra Gunungkidul, sebagai simbol kecintaan terhadap tanah kelahirannya.
“Ya waktu itu langsung saya beri nama Putra Gunungkidul, karena saya bangga jadi putra daerah,” jelasnya.
Meskipun Budi sudah memiliki armada sendiri, ia tetap mengelola Bus Rosalia Indah dan Bakmi Jaya.
Budi juga berperan sebagai manajemen operasional untuk bus miliknya sendiri. Gayung bersambut, seperti yang sudah-sudah bus-bus di Terminal Dhaksinarga Gunungkidul yang dia kelola sukses besar.
Dia menyebut hampir tak ada kendala selama dia mengasuh belasan bus. “Ya tadi, semua karena tekad dan keuletan,” tutur Budi.
Baca Juga: Sudah Pilah Sampah tapi Tidak Diambil, JPSM Sebut Banyak Bank Sampah Sleman Mati Suri
Namun perjuangan belum usai. Pada 2016, dua armadanya harus dirongsok karena dinilai tak lagi laik jalan oleh Pemkab Gunungkidul. Meski berat, Budi menjual busnya ke pengepul besi tua di Solo seharga total Rp 50 juta.
Tak patah semangat, dia kembali meminjam dana untuk membeli unit baru dan memastikan Putra Gunungkidul tetap mengaspal.
“Dari hasil (rongsok) tersebut, saya kembali membeli dua bus baru,” cetusnya.
Namun, masalah lain datang saat pemerintah mengharuskan AKDP memiliki badan hukum berbentuk PT.
Proses ini membuat operasional sempat terhenti hampir enam bulan. Namun lagi-lagi Budi tak menyerah.
Ia mengurus semua perizinan hingga akhirnya berdirilah Perusahaan Transportasi AKDP Putra Gunungkidul secara resmi.
“Alhamdulillah akhirnya berdiri Perusahaan Transportasi AKDP Putra Gunungkidul yang resmi, yang berbadan hukum,” tegasnya.
Walhasil, bus Putra Gunungkidul kembali beroperasi. Meski sempat diterjang pandemi Covid-19, Budi mengaku perusahaannya tidak mengalami sampai kebangkrutan.
Sehingga, hingga kini masih bisa dilihat lalu-lalang bus Putra Gunungkidul di sepanjang Jalan Wonosari-Jogja.
Budi menganggap halang rintang dalam merintis karir sudah menjadi hal yang lumrah.
Tetapi, bagi Budi penyikapan dan keteguhan hati tetap diperlukan dalam menghadapi masalah dan halang rintang yang menerjang.
Hingga kini, budi memiliki 11 armada bus dengan 30 karyawan.
“Apapun masalahnya saya tetap bertekad menyelamatkan Putra Gunungkidul,” ujar Budi bersemangat. (cr1/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita