JOGJA -Menjadi pasukan kuning atau petugas pembersih sungai Kota Jogja bukan hal mudah. Banyak di antaranya yang harus berjibaku dengan berbagai jenis sampah lazim maupun tidak lazim. Dwi Agus Pramujiyanto, salah satu pasukan kuning yang bertugas di Sungai Code pun mengungkapkan kisahnya.
Raut wajah bahagia nampak dari para pasukan kuning. Mereka berkesempatan berdialog dan menyampaikan uneg-uneg-nya kepada Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo dalam momentum HUT Pemkot Jogja yang digelar di Balai Kota, Selasa (10/6).
Sebagian dari mereka berkeinginan mendapatkan jaminan hari tua, ada pula yang berharap naik upah.
Dari sekian banyak pasukan kuning, Dwi Agus Pramujiyanto pun bercerita tentang bagaimana manis pahitnya menjalankan tugas pembersihan sungai selama ini. Pria 50 tahunan ini merupakan pasukan kuning yang bertugas di Sungai Code sisi selatan.
Dia mengatakan, selama menjalankan tugas sebagai pembersih sungai ada beragam jenis sampah yang dia bersihkan. Mulai dari sampah lazim seperti bungkus makanan hingga ranting pohon. Sampai yang tidak lazim seperti kasur dan popok.
Menurut Dwi, mayoritas sampah yang diangkut dari Sungai Code memang berupa sampah tidak lazim. Jumlahnya pun fantastis, pada satu titik setidaknya ada 120 hingga 200 kg sampah atau sekitar tiga sampai lima karung.
Diakui, kesadaran masyarakat yang masih rendah dalam membuang sampah pada tempatnya menjadi penyebab banyak sampah tidak lazim di sungai. Kondisi itu juga menyulitkan pasukan kuning karena merupakan jenis sampah yang sulit diolah.
"Pampers (popok) dewasa dan anak itu sampah yang paling banyak. Kemudian sterofoam dan kasur, juga sering kami angkat," ujar Agus saat ditemui di Balai Kota.
Agus menyebut, dengan beragamnya jenis sampah sungai memang membuat risiko kerja pasukan kuning menjadi cukup tinggi. Kendati begitu, dia mengapresiasi fasilitasi Pemkot Jogja yang sudah menyediakan alat pelindung diri dan jaminan kesehatan.
Dia mengungkapkan, ada ratusan pasukan kuning yang saat ini bertugas pada beberapa titik sungai di Kota Jogja. Adapun Sungai Code dibagi menjadi tiga wilayah. Yakni sisi selatan, sisi tengah, dan sisi utara.
Agus bertugas di sisi selatan Sungai Code, tepatnya di bawah Jembatan Sayidan. Ke depan dia berharap ada jaminan hari tua dan kontrak berkelanjutan agar karir para pasukan kuning bisa lebih jelas dan terjamin.
"Karena kami outsourcing, kalau satu tahun kontrak tidak dilanjutkan kami nanti bagaimana. Apalagi kami juga punya anak dan istri," terang Agus. (laz)
Editor : Heru Pratomo