Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Dermawan, Perajin Kipas Bambu dari Kasihan Bantul yang Tetap Eksis dengan Inovasinya

Cintia Yuliani • Kamis, 22 Mei 2025 | 05:15 WIB

Dermawan saat memperlihatkan beragam kipas buatannya.
Dermawan saat memperlihatkan beragam kipas buatannya.
 

 

BANTUL - Dermawan, warga asal Padukuhan Jipangan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul masih bertahan sebagai perajin kipas bambu. Dia tetap memilih mengembangkan produknya sebagai upaya melestarikan budaya.

Di tengah perubahan zaman, laki-laki 41 tahun ini justru terus berinovasi. Sebab kipas bambu tak lagi sekadar alat penyejuk. Tapi juga jadi media ekspresi dan pelestari budaya.

“Dulu saya lihat teman-teman bikin kipas bentuknya gitu-gitu saja. Saya pikir, kenapa nggak dicoba yang beda?” ujarnya, saat ditemui Radar Jogja di rumah produksinya Rabu (21/5). 

 Baca Juga: Pemkab Kebumen Siapkan Anggaran Rp 10,4 Miliar untuk Bangun 14 Puskesmas Pembantu

Dari situ, muncul ide membuat kipas undangan. Format undangan pernikahan yang biasanya tercetak di kertas, ia cetak di atas kain dan bambu. Hasilnya unik, dan pasar pun menyambut dengan positif. Bahkan sempat booming pada 2011-2014.

“Setahun pertama itu promosi terus. Ada teman bantu lewat website. Tahun berikutnya mulai banyak order. Sampai luar Jawa, luar negeri juga,” ungkapnya.

 Baca Juga: Rektor UGM Temui Para Mahasiswa Aksi Yang Bangun Tenda di Kawasan Balairung, Dukung Aspirasi dan Tegaskan Komitmen Inklusivitas Kampus

Namun, roda usaha tak selalu mulus. Pada 2015, tren mulai bergeser. Undangan kembali ke bentuk cetakan kertas. Penjualan kipas turun drastis. Tapi bukan Dermawan namanya kalau cepat menyerah.

Ia mulai mengembangkan produk dengan sentuhan budaya. Kipas lukis dengan tema Keraton Yogyakarta, Gunung Merapi, hingga motif laut. Semua dikerjakan dengan teknik tangan yang halus dan detail.

“Kalau pasar undangan menurun, kita geser. Bikin produk yang nggak banyak orang punya. Kipas lukis bertema budaya Jogja itu belum ada di luar sana,” ujarnya.

Tak hanya soal desain. Strategi produksinya yang awalnya dikerjakan sendiri pun sekarang berubah. Ia kini menggandeng banyak mitra.

 Baca Juga: Syncore Indonesia melalui Meravi.id Luncurkan Program Sinkronisasi Koperasi, UMKM, dan BUMDES: Membangkitkan Ekonomi Nasional dari Desa

 

Mulai dari pengelem kipas rumahan, percetakan lokal, sampai beberapa mitra penjualan yang tersebar di Jogjakarta. Dengan sistem kerja sama ini, produksi lebih cepat, tenaga kerja lebih banyak terbantu.

 

“Buat sendiri dari awal sampai akhir mungkin bisa lebih untung, tapi kalau dibagi-bagi malah semua jalan. Kita bisa jaga kualitas dan ketepatan waktu,” paparnya.

Kini, kipas produksi Dermawan dijual dari harga Rp 5 ribu hingga Rp 50 ribu. Menyesuaikan model, bahan, dan tingkat kesulitan pengerjaan.

 

Bahkan, dia pernah menerima pesanan dua kipas lukis besar dari Malaysia dengan tema pegunungan dan laut untuk interior. Selain itu terdapat beberapa kipas yang juga dipasarkan ke Malaysia. 

“Kalau kipas listrik memang lebih praktis, tapi kipas tradisional punya keunikan tersendiri, bisa dibuat sesuai permintaan, ada nilai budaya yang ikut terbawa,” tuturnya.

 Baca Juga: Bruno Fernandes: Memenangkan Europa League Akan Mencerahkan Masa Depan Manchester United

Selain kelihaiannya terus berinovasi dan mempertahankan kipas tradisional terus lestari, ia juga berkontribusi untuk melestarikan budaya yang ada di Jogja salah satunya melukis dengan tema khas Jogja. 

Dengan ketekunannya dalam membuat kipas bambu ini, ia pernah mengikuti ajang kompetisi nasional yang diadakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga yang diadakan di Jakarta pada 2012 silam. Dia masuk dalam 15 besar dan mengalahkan banyaknya peserta lain dari seluruh Indonesia. 

Padukuhan Jipangan sendiri, dikenal sebagai sentra kipas sejak 1980-an. Dulu warga banyak membuat tambir atau tampah. Kini sebagian besar beralih ke kipas bambu. Dan berkat inovasi orang-orang seperti Dermawan, angin kerajinan itu masih terus berembus.

 

“Bikin nggak usah banyak, tapi punya nilai dan makna di dalamnya,” lontarnya. (cr2/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#perajin kipas #Kasihan #bambu #Bangunjiwo #Perajin #inovasi #Kipas Bambu #Bantul #Padukuhan Jipangan #Jogjakarta