Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menilik dari Dekat Kehidupan Keagamaan di Lapas Wirogunan Jogja, Tempati Kamar “Syariah”, Reuni Kenang Semasa Aktif di Pemerintahan

Kusno S Utomo • Rabu, 14 Mei 2025 | 14:30 WIB

 

REUNI SAHABAT: Mantan Dirut PT Taru Martani Nur Achmad Affandi (tengah) menceritakan kenangannya di halaman Masjid Al Fajar Lapas Wirogunan. Nasi gudeg dan bakpia Pathok menjadi hidangan di siang itu.
REUNI SAHABAT: Mantan Dirut PT Taru Martani Nur Achmad Affandi (tengah) menceritakan kenangannya di halaman Masjid Al Fajar Lapas Wirogunan. Nasi gudeg dan bakpia Pathok menjadi hidangan di siang itu.

JOGJA - Hidangan nasi gudeg benar-benar membuat perjamuan di halaman Masjid Al Fajar kompleks Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wirogunan, selepas salat Jumat terasa hangat. Mirip reuni.

Bertemu kembali dengan sahabat yang lama tak bersua. Suasana itu terjadi saat Herry Zudianto (HZ) dan Dandim 0732/Jogja Kolonel (Inf) Arif Setiyono berjumpa dengan beberapa penghuni lapas.

Begitu keluar masjid, mantan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PMI Kota Jogja Munif Tauchid bergabung.

Kemudian disusul mantan Dirut PT Taru Martani Nur Achmad Affandi. Sedangkan Ketua Pokja Pembangunan Stadion Mandala Krida Dedi Risdiyanto memilih kembali ke kamarnya.

‘Kami bertiga bersama Pak Nur dan Pak Dedi tinggal satu kamar. Kebetulan kami bertiga sama-sama tidak merokok. Biasa kami namakan kamar ‘syariah’,” kelakar Munif.

Kamar yang ditempati Munif bersama Nur Achmad dan Dedi berada di blok narapidana tindak pidana korupsi (tipikor).

Tahun ini, bila tak ada perubahan, Munif bakal menjalani pembebasan bersyarat (PB). Dua pertiga dari masa pemidanaannya telah terpenuhi.

“Kalau nanti punya duit Rp 100 juta membayar denda, Agustus 2025, doakan saya bebas,” ceritanya,

Mendengar itu, Kepala Lapas Wirogunan Marjiyanto langsung menyahut. Dia meminta Munif tidak perlu khawatir soal uang denda.

Negara uwis akeh duite (negara sudah banyak uangnya, Red),” ucap Marjiyanto.

Baca Juga: Nasib PSS Sleman Tergantung Tim Lain, Pieter Huistra: Yang Penting Menang Dulu

Di tengah obrolan itu, Arif kembali menikmati camilan bakpia Pathok made in Wirogunan. Dengan lahapnya perwira menengah dengan melati tiga di pundak itu mengaku senang diajak HZ ikut bersilaturahmi ke Lapas Wirogunan.

Bagi Arif, kunjungan itu terasa spesial. Dia merasa  bisa memiliki banyak saudara saat bertugas di Jogja. Rabu ini (14/5/2025) tepat dua bulan dirinya mengemban tugas sebagai Dandim. “Silaturahmi ini luar biasa,” tuturnya.

Mendengar itu, Nur Achmad mengaku punya banyak kesan dan kenangan berkomunikasi dengan Kodim 0732/Jogja.

Sama seperti Arif, para seniornya beberapa Dandim di masa lalu juga punya jalinan hubungan yang baik. “Mau dan mampu merangkul semua elemen masyarakat,” kenang Nur Achmad.

Dia kemudian bercerita saat memimpin Panitia Pemilihan Daerah (PPD) Provinsi DIY. Tugas PPD menyelenggarakan Pemilu 1999.

Unsur PPD dari partai-partai politik peserta pemilu yang lahir pascaruntuhnya Orde Baru.

“Kami PPD waktu itu tak punya dana untuk beli seragam. Dibantu Mas Ananda, Dandim Jogja waktu itu sebesar Rp 15 juta. Jadilah waktu dilantik kami punya seragam,” ungkap Nur Achmad yang waktu itu aktif sebagai sekretaris DPW PKB DIY.

Bagi Nur Achmad, perhatian yang diberikan Dandim Jogja waktu itu sangat berarti. Nilai Rp 15 juta di masa itu juga bukan angka sedikit.

“Kami sangat berterima kasih,” kata pria asal Ponorogo, Jawa Timur ini. Selepas Pemilu 1999, Nur Achmad sempat menjadi wakil ketua DPRD DIY. Kemudian terpilih kembali pada Pemilu 2004.

Bicara pengalaman semasa aktif di pemerintahan juga dikemukakan HZ. Dia terjun ke politik saat pemilihan kepala daerah (pilkada).

HZ maju sebagai calon wali kota Jogja. Kala itu pemilihan masih dilakukan DPRD.

Bos Batik Margaria itu maju melalui PAN. Dia berpasangan dengan anggota DPRD DIY Syukri Fadholi dari PPP. Duet Herry-Syukri itu awalnya tidak diperhitungkan. Dari total 40 suara anggota dewan, pasangan ini hanya punya modal 14 dukungan.

Jauh tertinggal dari  pasangan Endang Darmawan-HM Wahid yang diusung PDIP, PKB bersama Partai Damai Kasih Bangsa (PDKB) dan Partai Keadilan Persatuan (PKP).

Empat partai ini punya 19 suara. Tinggal mencari tambahan dua suara. Calon ketiga yang didukung Fraksi Partai Golkar (FPG) Haryo Sasongko-Bambang Pribadi. HZ masih ingat, Haryo Sasongko lebih mendapatkan dukungan dari elite di Jogja.

HZ juga masih ingat keputusannya mencalonkan diri sebagai wali kota sempat diragukan kapasitasnya.

“Apa isa bakul arep mimpin (pengusaha batik akan  memimpin, Red),“cerita HZ dengan nada tergelak. Tawa pun pecah di tengah perjamuan itu. Namun HZ mewanti-wanti agar nama tokoh tersebut dirahasiakan. “Biar menjadi kenangan,” katanya.

Sejarah mencatat pasangan Herry-Syukri memenangkan pilkada 2001. Endang yang awalnya di atas angin karena mengantongi banyak dukungan,  keseleo lidah.

Dia kepleset gara-gara berujar memiliki banyak aset dan uang. Kekayaannya bisa untuk membeli Jogja. HZ kemudian terpilih dua periode. Memimpin Kota Jogja selama satu dasa warsa. Mulai 2001 hingga 2011.

Menjelang pukul 13.30 pertemuan kangen-kangenan itu diakhiri. HZ dan Arif pamit diri. Keduanya mengapresiasi kepemimpinan Marjiyanto.

Baru empat bulan memimpin sejak Februari 2025, pria kelahiran Bantul itu dinilai sukses memperbaiki karakter para penghuni  lapas yang berasal dari berbagai latar belakang.

Mantan kepala Lapas Wonosari itu berhasil menjadikan Lapas Wirogunan meraih penghargaan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara/Reformasi Birokrasi (PAN/RB).

Penghargaan itu meningkat dari sebelumnya zona integritas Wilayah Bebas Korupsi (WBK). “Kami ingin terus menjaganya,” ucap Marjiyanto.

Saat tamu lainnya berpamitan, tidak demikian halnya bagi Achmad Mirza.  General Manager (GM) PT Mentari Prima Niaga (MPN), sebuah Badan Usaha Milik Muhammadiyah ditugasi melanjutkan pekerjaan merenovasi atap Masji Al Fajar.

Tak seperti saat menggarap lantai dengan keramik granit, Marjiyanto tidak mematok waktu. “Tidak harus seminggu selesai. Jangan lagi Bandung Bondowoso,”  pintanya. (kus/laz)

 

 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#kehidupan keagamaan #kamar syariah #reuni #Lapas Wirogunan Jogja #penghuni lapas #Herry Zudianto