Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Batik Modern dari Jogja Mendunia, Pernah Tampil di New York Fashion Week dengan Motif ala 'Avatar'

Heru Pratomo • Rabu, 7 Mei 2025 | 19:34 WIB
CEO Rianty Batik Aditya Suryadinata
CEO Rianty Batik Aditya Suryadinata

JOGJA - Batik Jogja mendunia sudah jamak. Termasuk mengikuti pameran fashion dunia. Salah satunya tampil dalam New York Fashion Week di Amerika Serikat. Rianty Batik pun menciptakan motif batik khas Indonesia untuk ditampilkan di sana.

 

"Motifnya ada unsur air, tanah dan udara, seperti Avatar lah," kata CEO Rianty Batik Aditya Suryadinata ditemui di kantornya di Wijayakusuma Warehouse di kawasan Sinduadi, Mlati, Sleman, Selasa (6/5).

 

Berkolaborasi dengan desainer lokal Jogja, Rianty Batik membuat desain khusus untuk pasar mancanegara. Menggambarkan keanekaragaman Indonesia. Yang diakuinya banyak dilirik pembeli. "Setelah itu banyak yang tanya-tanya dan kemudian pesan," ungkapnya.

Desain batik yang ditampilkan di New York Fashion Week serta kemudian Melbourne Fashion Week, memang didesain khusus dan lebih modern. Aditya mengaku memang sejak awal diminta orang tuanya mengurus Rianty Batik, ingin merubah kesan batik yang kaku dan masa lalu.

Dengan konsep batik modern. Dengan motif lebih bright, dan secara desain memadukan batik dengan jenis kain lain.

 

"Batik yang bisa dipakai untuk kerja, ketemu meeting, setelah meeting hangout, intinya bisa dipakai anywhere, anytime," paparnya.

 

Meski diakuinya, saat ini mayoritas batik yang dijual di Rianty Batik, yang diambil dari nama ibunya Angelina Rianty, merupakan batik jenis printing.

Hal itu untuk menyiasati motif supaya kekinian dan harga. Untuk jenis batik tangan dan cap serta motif lama tetap dijual. Hanya harganya relatif lebih mahal. Dia memiliki konsep batik modern supaya lebih mudah diterima kalangan muda. 

 

"Sambil tetap diedukasi jika batik itu aslinya batik tangan atau cap, tapi yang penting suka dulu memakai batik," jelasnya.

 

Pria 37 tahun itu juga 'curhat' saat awal mengembangkan usahanya melalui penjualan online. Aditya sendiri mengaku terjebak mengurus batik.

Kuliah S1 jurusan Teknik Sipil di Bandung, dia punya angan-angan menjadi kontraktor. Tapi permintaan orang tua tak bisa ditolaknya. Untuk ikut membantu mengurus usaha keluarga tersebut. Karena itu, dia pun memilih kuliah manajemen 

 

Saat itu, kata dia, sekitar 2015 dia mulai berurusan dengan manajemen Rianty Batik. Salah satu yang diajukannya adalah metode penjualan online yang saat itu belum familiar. Orang tuanya pun sempat menentang. Apalagi melihat ketika dia mempekerjakan satu orang khusus untuk mengurusi penjualan online.

 

"Katakanlah gajinya saat itu Rp 1 juta tapi omzet sebulannya hanya Rp 700 ribu, makin tidak dipercaya (orang tua)," kenangnya sambil tertawa.

Saat itu ketika belum booming marketplace, dia berjualan melalui platform Facebook hingga BlackBerry. Tapi setelah itu beberapa marketplace mulai bermunculan meski penjualan belum terlalu ramai. Puncaknya adalah saat pandemi Covid-19. Saat toko offline dipaksa tutup.

 

"Saat itu mulai perubahan drastis, masyarakat mulai terbiasa dengan online termasuk untuk belanja, mulai ada perubahan meski belum signifikan," paparnya.

 

Hingga kini, masyarakat sudah familiar dengan marketplace dan berbelanja online. Penjualannya pun bisa merambah ke seluruh Indonesia. Bahkan ke beberapa negara tetangga. Meskipun begitu dia tetap mempertahankan toko offline. Selain di Malioboro, Rianty Batik juga memiliki 13 cabang lainnya di kota-kota besar di Indonesia.

Alasannya mempertahankan toko karena juga kebiasaan pembelinya. Menurut dia, ada beberapa yang sudah melihat-lihat desain batik di marketplace kemudian melihat langsung ke toko. Terlihat dari omzet penjualan, 30 persen online dan sisanya pembeli langsung di toko.

 

"Karena ada beberapa yang ingin merasakan dan melihat langsung baru kemudian belanja," tuturnya.

 

Perkembangan marketplace pun diikutinya. Di antaranya dia mencontohkan punya tim sendiri untuk live streaming Shopee. Bahkan dalam sehari bisa melakukan live streaming hingga 10 jam.

Dampaknya pun terlihat. Selain penjualan online, Aditya mengaku, pembeli di toko bahkan bisa hafal jenis batik yang akan dibeli.

 

"Saat di toko ke pramuniaganya langsung sebut jenis batiknya, berarti kan lihat saat live streaming," ungkapnya.

 

Sebelumnya, Head of Public Affairs Shopee Indonesia, Radynal Nataprawira mengatakan, Shopee sudah lama turut membidik pasar ekspor. Bahkan sejak 2019, sudah mengirimkan 50 juta produk UMKM se-Indonesia ke Asia Tenggara, Asia Timur, dan Amerika Latin. 

 

Shopee terus mendukung promosi produk lokal melalui kanal Shopee Pilih Lokal, yang pada 2024 mencatat peningkatan penjualan hingga 200 persen. "Harapannya akan ada lebih banyak lagi produk UMKM Indonesia yang bisa dibeli oleh pembeli Shopee di luar negeri," katanya. 

 

Editor : Heru Pratomo
#avatar #Aditya #ceo #new york fashion week #modern #Jogja Fashion Week #Batik #shopee