Kepergiannya menyisakan duka mendalam, namun warisannya terus hidup, salah satunya melalui destinasi kuliner yang kini telah menjadi simbol kota budaya: The House of Raminten.
Lebih dari sekadar restoran, tempat ini adalah cerminan nilai-nilai tradisional, seni pertunjukan, dan kekayaan rasa khas Yogyakarta yang berhasil diramu dengan sentuhan kreatif dan penuh cita rasa oleh Hamzah Sulaiman.
Berlokasi di Jalan F.M. Noto No. 7, Kotabaru, Yogyakarta, The House of Raminten mudah diakses dari berbagai titik wisata utama.
Restoran ini selalu dipenuhi oleh wisatawan lokal dan mancanegara yang ingin menikmati sensasi makan malam dalam suasana yang benar-benar Jogja banget
Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang The House of Raminten, wisata kuliner Yogyakarta yang tak lekang oleh waktu:
Ikon Patung Raminten yang Ikonik
Begitu memasuki halaman restoran, pengunjung akan disambut oleh patung perempuan Jawa paruh baya dengan konde, jarik, dan kebaya. Patung ini adalah representasi dari karakter “Raminten” yang diperankan Hamzah dalam acara Ketoprak Humor.
Suasana Tradisional yang Kental dengan Kearifan Lokal
Suasana di The House of Raminten begitu khas: lampu temaram, ornamen klasik Jawa, dan alunan gamelan yang menenangkan seolah membawa pengunjung masuk ke dalam nuansa keraton Yogyakarta.
Busana Pelayan ala Abdi Dalem
Satu hal yang langsung mencuri perhatian adalah busana para waiter dan waitress. Mereka mengenakan kain jarik dengan kemben atau rompi, mirip dengan pakaian abdi dalem keraton.
Senyuman ramah dan sapaan sopan dari para pelayan menambah kesan hangat, membuat siapa pun yang datang merasa seolah sedang bertamu ke rumah seorang kerabat di tanah Jawa.
Menu Unik dengan Nama-Nama yang Menggelitik
Salah satu daya tarik utama The House of Raminten adalah kreativitas dalam penyajian menu. Tidak hanya tampilannya yang unik, namun juga namanya yang tak biasa. Beberapa menu populer antara lain: Gajah Ndekem, Ayam Koteka, dan Bangjo Pecinan.
Setiap hidangan disajikan dalam wadah unik, mulai dari kendi tradisional hingga batok kelapa.
The House of Raminten bukan hanya tempat makan. Ia adalah panggung budaya, ruang edukasi, dan ekspresi cinta terhadap tanah kelahiran.
Hamzah Sulaiman telah berhasil meramu seluruh elemen itu menjadi satu pengalaman utuh yang meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang berkunjung.
Kini, meski sang maestro telah berpulang, warisannya tetap hidup. Setiap senyum pelayan, setiap denting gamelan, dan setiap gigitan ayam koteka adalah bentuk penghormatan terhadap semangat Hamzah yang ingin menjadikan budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Penulis: Abel Alma Putri
Editor : Bahana.