KEBUMEN - Kesibukan menjadi abdi negara tak membuat Juniadi Prasetyo bermalas-malasan. ASN di Satpol PP Kebumen ini justru bersemangat membangun kemandirian ekonomi dari beternak puyuh.
Dari aktivitas ini dia tidak hanya bicara profit, tapi juga ikut mengurangi angka pengangguran karena mampu menyerap belasan tenaga kerja.
Dari sekian banyak ASN di lingkup Pemkab Kebumen, Juniadi Prasetyo mungkin ASN yang patut dicontoh. Dia telah berhasil membangun kemandirian ekonomi dari beternak burung puyuh.
Usaha yang telah digeluti dua tahun terakhir tersebut bahkan sudah mampu menghasilkan rata-rata Rp 1,5 juta setiap hari.
Saat ini, Juniadi memiliki 5.000 ekor puyuh yang diternak di Desa Kambangsari, Kecamatan Alian. Ke depan usaha ternak ini akan terus dikembangkan dengan target 15 ribu ekor dalam satu kandang.
"Mimpi saya bisa produksi telur puyuh 1,5 kuintal. Yang penting alon-alon asal kelakon," ucap Juniadi, Senin (14/4).
Beternak puyuh bagi Juniadi tidak mudah. Selain butuh modal tidak sedikit, usaha ini juga perlu keseriusan dan ketelatenan.
Bahkan dia menyebut risiko yang ditimbulkan cukup besar jika spekulasi atau perhitungan pengelolaan usaha tidak cermat. "Saya sudah ada pengepul langganan. Setiap hari mereka antre, malah rebutan barang," ungkapnya.
Sebagai ASN, dia mengaku tak begitu menggantungkan hidup dari penerimaan gaji maupun fasilitas negara. Justru dia berpikir usaha yang ditekuni sekarang dapat memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.
"Ada yang datang mau ikut kerja. Ya saya persilahkan. Asalkan niat kerja," kata Kabid Gakda Satpol PP Kebumen itu.
Beternak puyuh ini dipilih karena permintaan pasar lokal maupun luar daerah terbilang cukup tinggil. Di lain sisi harga telur puyuh juga cenderung stabil. "Harga di kandang itu Rp 28 ribu per kilogram. Beda lagi kalau sudah masuk pengepul," sebutnya.
Juniadi bisa dibilang pendatang baru di sektor budidaya ternak burung puyuh. Tapi dia juga menjadi pelopor ternak burung puyuh di Kebumen dengan metode kandang tertutup.
Metode ini masih cukup jarang ditemukan karena peralatan yang dibutuhkan cukup kompleks. Keunggulan dari kandang tertutup ini dinilai dapat meningkatkan produktivitas burung puyuh serta mengurangi dampak lingkungan.
Selain hasil dari telur puyuh, Juniadi juga membangun ekosistem usaha lain dengan memanfaatkan kotoran hewan (kohe) dari ayam puyuh. Kohe tersebut diolah secara optimal sebagai pupuk alternatif.
"Saya coba pemanfaatan dari hulu ke hilir. Kohe setiap ambil itu sampai dua kuintal. Biasanya petani Wonosobo yang datang," pungkasnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo