Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sepuluh Tahun Tinggal di Paris, Okta Brunier Pernah Merasakan Puasa hingga 18 Jam

Gregorius Bramantyo • Sabtu, 15 Maret 2025 | 15:30 WIB

 

Okta Brunier s
Okta Brunier s
 

JOGJA - Okta Brunier menjadi salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang menjalani ibadah puasa Ramadan di negeri orang. Sudah 10 tahun berturut-turut Okta menjalani Ramadan di Paris, Prancis. Perasaan rindu pun kerap dirasakan oleh perempuan asal Kotagede, Jogja ini.

 

Okta telah tinggal di Paris sejak Oktober 2014, setelah memutuskan mengikuti suaminya yang berdarah campuran Prancis-Indonesia. Keputusan itu membuatnya meninggalkan pekerjaan yang sudah cukup mapan di Indonesia. Sejak saat itu, dia hanya pulang ke Indonesia sebanyak empat kali dengan jarak waktu yang cukup lama karena fokus pada karier dan keluarga di Prancis.

 "Sejak 2014 itu baru pulang tahun 2017, lalu 2022, dan dua kali pada 2024. Pulangnya pas momentum liburan sekolah anak-anak. Bisa hampir tiga minggu sampai satu bulan karena liburan sekolah di Prancis itu lama," katanya kepada Radar Jogja, tadi malam (14/3).

Selama 10 tahun tinggal di Paris, Okta menjalani Ramadan dengan berbagai tantangan. Ramadan terberat baginya terjadi pada 2014 ketika kali pertama tiba di kota mode itu. Saat itu, dia harus berpuasa selama 18 jam dengan waktu buka puasa sekitar pukul 11 malam dan imsak pukul 3.50 pagi. “Jam puasanya lama banget karena di sini empat musim. Kalau Ramadan waktu musim panas itu puasanya jadi lama,” ujarnya.

Namun, Ramadan tahun ini terasa lebih ringan dengan imsak pada pukul 5.13 pagi dan buka puasa sekitar pukul 7 malam, yang waktunya hampir serupa dengan di Indonesia.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Okta pada awalnya adalah kesulitan mendapatkan makanan Indonesia di Paris. Dulu, ia hanya tahu makanan Indonesia hanya bisa ditemukan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Selain itu, tidak adanya suara azan juga menjadi tantangan karena di Prancis tidak diperbolehkan untuk menampilkan identitas agama di tempat umum. Untuk mengetahui waktu salat, mengandalkan jadwal salat di internet yang diunggah oleh Masjid Agung Paris dan lewat aplikasi Muslim Pro. “Karena di sini nggak ada azan, jadi waktu azan biasanya aku aktifin suaranya biar di rumah kedengaran suara azan,” ucapnya.

Okta juga mengalami kesulitan dalam mencari masjid di Paris. Salah satu masjid terbesar di Prancis, yakni Grande Mosquee de Paris, berada di pusat kota yang berjarak sekitar 40 menit dari rumahnya. Meskipun ada beberapa masjid kecil yang lebih dekat, biasanya kaum perempuan tidak banyak yang pergi ke masjid. Kecuali pada jam-jam tertentu dan hari-hari tertentu.

“Di sini masjid nggak 24 jam terbuka untuk umum. Jadi cuma benar-benar waktu Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Kalau Subuh kadang nggak dibuka dan itu nggak ada perempuannya,” jelas perempuan 37 tahun ini.

Dia mengakui hanya memiliki sedikit teman muslim Indonesia di Paris. Namun dengan umat muslim Prancis, Okta biasanya berbuka puasa bersama di restoran. Suatu ketika juga pernah berkumpul di rumah teman dan masing-masing membawa makanan khas negara untuk disantap saat berbuka. Okta saat itu membawa lontong sayur.

Untuk berbuka puasa di rumah, Okta seringkali memasak makanan Indonesia sendiri karena membeli makanan Indonesia di Paris agak sulit. Namun belakangan ini sudah ada tiga restoran Indonesia yang buka di Paris, yang memungkinkan untuk membeli makanan take away.

Sebagai warga Indonesia yang beragama Islam, Okta sangat rindu dengan nuansa Ramadan di Tanah Air. Dia merindukan tradisi Indonesia yang tidak akan ada di Paris. Seperti buka puasa bareng teman-teman, makan makanan Indonesia yang kaya rempah, serta suasana puasa yang sangat berbeda. “Di sini benar-benar sepi dan sunyi,” ungkapnya.

Biasanya saat Lebaran, ia merayakannya di KBRI dengan berkumpul bersama sesama diaspora Indonesia untuk silaturahmi dan salat Idul Fitri bersama. Namun tahun ini dia merasa cemas karena ada rumor bahwa anggaran kedutaan dipangkas. Bahkan disebutkan tidak akan ada acara makan-makan saat Lebaran di KBRI Paris.

“Semenjak aku di Paris itu selalu ada, kami benar-benar open house, kerasa banget vibes Indonesia-nya. Harapannya tahun ini sama seperti tahun lalu,” katanya. (laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#perancis #paris #puasa #imsak #sahur #okta #masjid #ramadan #kbri