JOGJA - Anita Dewi sudah tinggal di Melbourne, Australia sejak 18 tahun lalu. Berpuasa di sana pun sudah terbiasa. Hanya saat musim panas, waktunya bisa lebih lama dibandingkan dengan di Jogja. Apa lagi bedanya?
"Kalau tahun ini karena pelaksanaan puasa di sini berdekatan dengan musim panas, jadi puasanya lebih panjang," ujar Anita Dewi saat dihubungi melalui saluran telepon, Selasa (11/3).
Anita mulai tinggal di Melbourne sudah sekitar 18 tahun yang lalu. Dia sudah berkeluarga dan menetap di sana. Selisih waktu antara Australia dengan Jogja sekitar empat jam lebih cepat.
"Dulu pertama kali ke sini puasa jatuh saat musim dingin, jadi waktu siang lebih pendek, puasanya seperti didiskon," tuturnya.
Dikarenakan tahun ini puasa jatuh berdekatan dengan musim panas, perhitungan waktu puasanya mulai pukul 05.20-20.00. Sekitar 13 jam lebih. Menurutnya selisih waktu puasa dari tahun ke tahun di Jogja hanya sedikit karena daerah garis katulistiwa.
"Jadi banyak mahasiswa baru atau warga Indonesia yang datang mengeluh puasanya lebih panjang," kelakarnya.
Karena sudah belasan tahun tinggal di ibu kota negara bagian Victoria itu, dirinya sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan dan musim. Menurutnya lingkungan tempat tinggalnya saat ini tergolong multikultural. Jadi kaitannya dengan tempat ibadah relatif banyak dengan rasa toleransi yang kuat.
Di tempat tinggal kami banyak berbagai tempat ibadah seperti gereja, kuil dan sebagainya. Masjid Turki paling dekat. “Tapi banyak masjid-masjid lain juga bahkan masjidnya orang Indonesia," terangnya.
Di daerah tempat tinggalnya juga terdapat semacam pasar ramadan. Namun berbeda dengan Indonesia, di sana penyebutannya adalah bazar ramadan yang banyak menjual menu-menu buka puasa.
"Bahkan dekat rumah ada setiap Jumat-Minggu. Memang tematik khusus ramadan jadi untuk ngabuburit, yang jualan tidak hanya orang Indonesia," jelasnya.
Jika selama puasa di Jogja identik dengan toa-toa masjid yang bersautan baik untuk adzan ataupun membaca ayat suci Alquran. Namun itu semua tidak ditemukan di Melbourne.
Di sana kumandang adzan tidak melalui toa, jadi tidak terdengar. Umat muslim yang berpuasa kemudian mengunduh aplikasi penanda waktu solat dan berbuka untuk memudahkan beribadah.
"Jadi adzannya di dalam masjid saja. Ada beberapa aplikasi dan bisa diunduh jadwal solat, kalau bulan puasa ada waktu imsak dan sebagainya," terangnya.
Tak hanya itu, beberapa masjid di sana juga menyelenggarakan takjilan atau buka bersama yang diadakan oleh kelompok. Saat ada momentum ibadah tertentu, bahkan perguruan tinggi di sana membolehkan karyawannya untuk cuti spesial.
"Bisa diambil oleh staf saat melaksanakan ibadah tertentu, di luar cuti tahunan," bebernya. (pra)
Editor : Heru Pratomo