BANTUL - Berpuasa Ramadan di negara yang minim umat Islamnya tentu akan menjadi pengalaman berbeda. Seperti yang dilalui seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Alfi Yusmar. Ia pun membagikan pengalamannya.
Pada Ramadan kali ini, pria yang biasa disapa Alfi menjalani puasa untuk kali pertama di Budapest, ibu kota negara Hungaria. Diungkapkan, Ramadan di Hungaria vibesnya kurang terasa. Pasalnya, negara itu mayoritas penduduknya bukan muslim.
"Puasa seperti sendirian saja. Suara azan tidak terdengar," katanya Rabu (5/3). Untuk berbuka puasa, dia selalu memanfaatkan aplikasi di gawainya yang mengingatkan waktu azan Magrib.
Selain aplikasi, ada dari Kedutaan Besar Indonesia di Hungaria yang menginformasikan waktu berbuka puasa. Alfi menyadari di negeri itu tidak terasa suasana Ramadannya seperti Indonesia.
Khas Indonesia, biasanya banyak pedagang musiman kala sore hari. Agar tetap merasakan suasana Ramadan, ia berinisiatif mengumpulkan teman-teman muslimnya untuk melaksanakan ibadah bersama di tempat tinggalnya.
"Kami ada rencana ngumpul bareng sama teman-teman WNI. Nanti di apartemen kita melaksanakan ibadah bersama," ujarnya.
Terkait menu berbuka puasa, Alfi memilih memasak sendiri karena harga makanan di luar jauh lebih mahal.
"Di sini harga makanan sekitar 5 ribu forint atau setara Rp 200 ribu per porsi. Kalau masak sendiri paling habis Rp 30 ribu-Rp70 ribu. Jadi lebih baik masak sendiri," ungkapnya.
Tentu angka itu tidak kecil jika dibandingkan di Indonesia. Alfi juga mengaku sangat merindukan suasana puasa di Indonesia, terutama momen berburu takjil dan makanan khas.
"Kangen banget. Biasanya keluar ada pecel ayam, sate, soto. Sekarang tidak ada. Itu yang paling bikin kangen," tandasnya. (laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita