Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenangan Mantan Pemain Sholahudin, usai Antar PSIM Jogja Promosi di Musim 1991/1992 Kalah di Final karena Mainkan Pemain Pelapis

Gregorius Bramantyo • Kamis, 27 Februari 2025 | 16:10 WIB
Foto: Mantan pemain PSIM Jogja, Sholahudin.
Foto: Mantan pemain PSIM Jogja, Sholahudin.

 

JOGJA – PSIM Jogja berhasil kembali ke kasta tertinggi kompetisi sepakbola Indonesia. Keberhasilan ini didapat setelah Laskar Mataram menjadi juara Grup X di babak 8 besar Liga 2 2024/25. Kembalinya PSIM ke kasta tertinggi mengakhiri penantian panjang yang telah berlangsung selama dua dekade.


Keberhasilan PSIM untuk promosi ke kasta tertinggi ini juga turut dirayakan oleh sejumlah mantan pemain yang pernah membela panji Laskar Matara. Salah satunya adalah Sholahudin. Namanya mungkin masih asing di kalangan penggemar PSIM. Tapi, Sholahudin pernah merasakan ikut membawa tim berlogo Tugu Pal Putih itu naik ke kasta tertinggi pada 1992 silam. 

Pada masa itu, Divisi Satu adalah kompetisi kasta kedua, sementara Divisi Utama merupakan kasta tertinggi. Sholahudin tergabung dalam skuad PSIM yang berlaga di Divisi Satu musim 1991/92. 
 
Baca Juga: Tunaikan Nazar, Suporter Rayakan Kelolosan PSIM Jogja Ke Liga 1  Jalan Kali dari Stadion Mandala Krida sampai ke Rumahnya

Di musim tersebut, PSIM ditukangi pelatih kenamaan dalam diri Bertje Matulapelwa. Di babak grup, mereka tergabung di grup tengah bersama PSRI Rembang, Persipura Jayapura dan Persitara Jakarta Utara. PSIM sukses menjadi juara grup dan dipastikan tampil di babak 6 besar.

Pada babak 6 besar, PSIM tergabung di Grup B bersama Persidafon Dafonsoro dan PS Bengkulu. Beruntung bagi PSIM karena semua laga 6 besar digelar di Stadion Mandala Krida yang notabene kandang mereka.

Laskar Mataram sukses menjadi juara grup di babak 6 besar. Mereka sudah memastikan diri promosi ke Divisi Utama. Sebab, masing-masing juara dan runner grup di babak 6 besar dipastikan promosi ke Divisi Utama. 
 
Baca Juga: Cukupi Kebutuhan Bahan Makan Bergizi Gratis, DPP Kota Jogja Naikkan Target Produksi Perikanan

Setelah itu, babak semifinal dan final pun digelar. PSIM sukses menyingkirkan Persiraja Banda Aceh di babak semifinal lewat adu penalti dengan skor 4-2. Di babak tos-tosan itu, Sholahudin turut menyumbang satu gol. 

PSIM pun akhirnya menapaki partai puncak menghadapi PS Bengkulu. Laga yang digelar pada 2 Februari 1992 itu dihelat di Stadion Mandala Krida. Stadion jelas dipenuhi oleh pandemen PSIM.
"Karena sudah jelas masuk Divisi Utama, Bertje memutuskan menurunkan pemain yang jarang tampil," kata Sholahudin kepada Radar Jogja, Selasa (25/2/2025).

Sholahudin menjadi salah satu pemain yang tampil di partai final. Dia tampil penuh selama 90 menit. 
 
Baca Juga: Wapres Gibran Apresiasi Menu Makan Bergizi Gratis di Kota Magelang

Sayangnya, dia tak mampu membantu PSIM meraih titel juara Divisi Satu. Laskar Mataram terpaksa tunduk 0-1 lewat gol bunuh diri Mudiyanto. Hasil itu tak mengubah nasib PSIM yang tetap berlaga di Divisi Utama musim 1993/1994.

Sholahudin menjelaskan, skuad PSIM di musim 1991/1992 cukup solid. Dihuni oleh pemain senior seperti Siswadi Gancis, Sutrisno, dan Maryono. Lalu pemain lain yakni Jefri Yanes, Widadi Karyadi, Jatmiko, Putut Joko Purnomo, dan Armando Pribadi.

Soal Bertje, Sholahudin menilai sosok asal Ambon itu menerapkan disiplin tinggi. Pemain yang datang terlambat saat latihan akan langsung “didiamkan”. Bahkan untuk pemain senior sekalipun.

Baca Juga: Gacor, Satu Gol Lagi Rafinha Samai Top Skorer Ramai Rumakiek
 
“Tidak disapa atau dibiarkan saja, hanya diminta untuk lari keliling lapangan, tidak dilibatkan latihan dengan bola. Kewibawaan beliau sangat besar, juga tegas," kenang pria asal Moyudan, Sleman ini.

Usai berhasil membawa PSIM promosi ke Divisi Utama, Sholahudin masih menjadi bagian dalam skuad selama dua musim kompetisi, yakni 1993/1994 dan 1994/1995. Sayangnya di musim terakhirnya bersama PSIM, tim kebanggan Kota Jogja itu harus kembali turun kasta ke Divisi Satu.

Pelatih Bertje Matulapelwa lantas digantikan oleh Nurdin Basyar. Sayangnya, Sholahudin tak masuk dalam skema permainan Nurdin. Alhasil, dia sempat vakum sejenak selama setahun. Pada 1996, Sholahudin memutuskan bergabung ke PSS Sleman.

 
Baca Juga: Persijap Jepara Promosi ke Liga 1 Usai Taklukkan PSPS Pekanbaru di Play-off
"Tidak sempat balik ke PSIM lagi karena pas gabung ke PSS itu saya sudah berusia cukup senior," ujar pria kelahiran 11 Oktober 1967 ini.

Usai gantung sepatu, Sholahudin masih mengabdikan diri di dunia sepakbola. Dia aktif menjadi pengurus di PS Hizbul Wathan (HW). Di luar sepakbola, dia juga pernah menjadi sekretaris di Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). "Sekarang juga sering menekuni hobi main tenis meja," ungkapnya.

Mantan gelandang serang ini merasa bangga PSIM bisa promosi ke Liga 1. Dia berharap keberhasilan ini bisa berlanjut. Tim, kata dia, harus mulai dibenahi untuk bisa bersaing dengan tim-tim elite nasional.

"Harapannya ada putra daerah yang ikut dalam tim di Liga 1 mendatang, supaya ada yang bisa kita banggakan," ujar Sholahudin. (tyo)
 
 
Editor : Heru Pratomo
#Tugu Pal Putih #final #UMY #Laskar Mataram #promosi #liga indonesia #PSIM Jogja