KULON PROGO - Perjalanan hidup sesorang tak pernah ada yang tahu. Begitulah ungkapan dari Ketua DPRD Kulon Progo Aris Syarifuddin, 49. Dia pun tak menyangka bisa mencapai perjalanan politik hingga menjadi wakil rakyat di Bumi Binangun.
Aris Syarifuddin atau akrab dipanggil Celung ini lahir di sebuah keluarga kecil di Kalurahan Ngestiharjo pada Desember 1976 silam. Keluarganya bukanlah keluarga yang mentereng. Bahkan jauh dari kata kaya raya.
"Kakek saya itu orang yang nggak punya apa-apa, dulu ngawulo (mengabdi) ke lurah Ngestiharjo," ucap Aris Minggu (9/2/2025).
Aris menceritakan, semasa kecil dirinya cukup dekat dengan kakeknya. Masih teringat jelas gambaran kakeknya yang kala itu hidup sebagai pembantu lurah kedua di Ngestiharjo. Memorinya menunjukkan, kakeknya makan dan meminum hidangan sisa dari lurah. Sambil berdoa agar anak turunnya tak bernasib sepertinya.
"Doanya jelas, agar anak turunnya bisa menjadi lurah," ucapnya.
Baca Juga: Honorer Gunungkidul Minta Kepastian PPPK: DPRD Pastikan Hak Status Mereka Jelas
Menurutnya, berkat dari doa yang dilantunkan itu, orang tuanya berhasil menjadi lurah semasa dirinya menginjak usia remaja. Masa remaja Celung cukup banyak dihabiskan dengan kegiatan keagamaan. Hal ini, terjadi karena latar belakang keluarganya tak jauh dari kehidupan santri.
Bahkan semasa remaja, Aris sering dimarahi orang tuanya karena meninggalkan salat. Tak sampai situ, kehidupan remajanya juga aktif di lingkungan masjid di dekat rumahnya. Dari situlah, Aris belajar cara bersosialisasi dengan teman sebaya maupun masyarakat.
Baca Juga: Sudah Seminggu, Warga di Gunungkidul Keluhkan Gas Melon Langka: Disdag Beri Penjelasan..
"Dari situ belajar cara bersosialisasi dengan masyarakat, ternyata itu menajdi bekal saya," ungkapnya.
Tak diduga, keuletannya dalam bersosialisasi justru menghantarkannya ke kursi kalurahan. Di umur 25 tahun, dirinya justru mendapat dukungan dari masyarakat untuk menjadi lurah. Akhirnya pada 2002, Aris resmi menjadi Lurah Ngestiharjo hingga masa jabatannya berakhir pada 2012.
"Kalau saat itu, bisa jadi saya lurah termuda di DIY maupun Indonesia," ungkapnya.
Selama menjabat menjadi lurah, banyak pemikirannya ditularkan untuk kemajuan desa. Salah satunya visi membangun sentra pertanian padi di Ngestiharjo. Bekerja sama dengan masyarakat, Aris mengajak dan memfasilitasi petani di kalurahannya untuk mengoptimalisasi hasil panen.
Baca Juga: Manajemen Ingin PSIM Jogja Menang, Bukan Seri, Siapkan Bonus jika Bisa Atasi PSPS Pekanbaru
Sebelum menjadi lurah, kebanyakan petani hanya menjual gabah dengan harga murah. Namun, visinya mengarahkan petani untuk menjual hasil panen menjadi produk jadi. Berkat hal itu, Ngestiharjo memiliki kelompok tani. Hingga sekarang memiliki produk beras asli dari kalurahan.
Inovasinya dalam mengangkat industri pertanuan membuat dirinya dipercaya menjadi dewan pengawas pada Perumda Aneka Usaha. Saat itu dirinya ditunjuk langsung oleh Hasto Wardoyo yang menjabat sebagai bupati Kulon Progo.
Baca Juga: Sudah Seminggu, Warga di Gunungkidul Keluhkan Gas Melon Langka: Disdag Beri Penjelasan..
"Baru setelah 2014, memutuskan untuk menjadi wakil rakyat," ungkapnya.
Aris menyampaikan, keputusannya menjadi wakil rakyat bukanlah pilihan mudah. Lantaran, wakil rakyat harus mengerti kondisi kebatinan masyarakat. Namun, berkat dukungan masyarakat dirinya berhasil menjadi anggota DPRD Kulon Progo. Bahkan pada 2024, dirinya mendapatkan mandat dari masyarakat untuk menjadi Ketua DPRD Kulon Progo. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita