BANTUL - Kemampuan membuat gambar berbagai bentuk, menjadi modal utama Tomik Endah Nurwanto meraup pundi-pundi rupiah. Warga Padukuhan Sawahan, Trimurti, Srandakan, ini pun kebanjiran order untuk berbagai keperluan.
Kemampuan menghasilkan karya seni mural dapat menguntungkan ketika dimanfaatkan secara baik. Membawa napas budaya dengan berbagai karakter tokoh, menjadi tema utama mural yang dihasilkan Tomik Endah Nurwanto.
Sudah tak terhitung lagi jumlah mural karya yang telah dihasilkan. Tidak melulu di kanvas, pria 38 tahun ini sudah mengeksplorasi berbagai sarana atau media berkaryanya.
"Di layangan pernah, di tembok juga ada, termasuk di kanvas," katanya, Minggu (2/2/2025). Bahkan beberapa kali dia menghasilkan mural di alat-alat penunjang properti panggung seperti triplek dan styrofoam.
Untuk menggunakan sarana layangan hanya dilakukan saat pandemi Covid-19 lalu. Sekarang sebenarnya pesanan mural di layangan masih ada. "Orderan banyak, tetapi bahan bakunya susah dicari karena musimnya tidak menentu," tuturnya.
Ketika itu, inisiasinya diawali untuk membuatkan anaknya saja. Namun tidak disangka malah meledak dan dibanjiri orderan. Bahkan sempat ada mural layangannya yang dikirim ke Swedia.
Tokoh-tokoh seperti Gatotkaca, Hanoman, Arjuna, Semar, dan tokoh jathilan pernah dibuatnya. Range harga layangan yang dijual mulai Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. Harga itu untuk pelanggan lokalan Jogja.
Sedangkan untuk yang dari luar Jogja, kisaran harganya Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. "Saya sih berharap bisa lebih menggeliat lagi konsumen layangan," ungkapnya. Untuk mural layangan paling mahal Rp 2,5 juta untuk satu unitnya.
Namun tentu disadari hal itu sulit terealisasi karena di musim penghujan seperti sekarang minim yang bermain layangan. Oleh karena itu, sekarang keahlian muralnya dialihkan ke kanvas. "Dan freelance ilustrasi untuk cover buku atau komik," ungkapnya.
Selain itu, muralnya juga dituangkan ke tembok untuk berbagai pesanan. Jasa pembuatan muralnya mulai di bawah Rp 1 jutaan hingga Rp 10 jutaan lebih. Muralnya itu dihargai permeter persegi tergantung luasan medianya.
Diakui, bakat menggambar ini merupakan aset keturunan dari orang tuanya. Lantas dieksplorasi melalui sekolah-sekolah yang pernah dijalaninya. "Kini saya membangun brand sendiri Blessings Brush," bebernya.
Kalangan hotel dan perkantoran menjadi konsumennya untuk dibuatkan mural. Mulai dari menengah ke bawah hingga menegah ke atas, pernah memesan di tempat dia. Berbagai tokoh dan karakter Jawa menjadi napas muralnya.
Diakui, omzetnya memang tidak bisa dipastikan setiap bulannya. Itu karena dalam merampungkan pesanan tidak sebentar, sehingga berpengaruh pada jumlah pendapatan yang dihasilkan. "Kadang kalau lagi laris, pendapatannya bisa sampai dua digit," ungkapnya. (rul/laz)