Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Dwi Suyamto Seniman Asal Perbukitan Menoreh Penerima Apresiasi dari Mohammad Nuh

Anom Bagaskoro • Senin, 20 Januari 2025 | 00:30 WIB
SUREALIS: Dwi Suyamto menunjukkan hasil karya yang menggunakan photo imaging.
SUREALIS: Dwi Suyamto menunjukkan hasil karya yang menggunakan photo imaging.

KULON PROGO - Lahir di daerah pelosok Perbukitan Menoreh, tak membuat Dwi Suyamto terhalang dalam mengeluarkan ekspresinya.

Melalui karya-karyanya, pria ini berhasil mengekspresikan kritik sosial.

Tak tanggung-tanggung, karyanya bahkan berhasil membuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI 2009-2014 Mohammad Nuh berkunjung ke kediamannya.

Kedatangan Radar Jogja di kediaman Dwi Suyamto di Padukuhan Separang, Kalurahan Pagerharjo berawal dari ketertarikan pada karyanya yang dipajang di Aula Adikarta Kompleks Pemkab Kulon Progo.

Karyanya tergolong unik, karena memadukan cat minyak dan printing. Selain itu, banyak ikon simbol Kulon Progo yang tersirat secara tidak langsung.

Sampai di kediamannya, Radar Jogja langsung disuguhi galeri lukisan.

Ada puluhan lukisan yang ditempel di gebyok kayu rumahnya. Banyak dari lukisan itu, memunculkan sosok perempuan sebagai fokus utamanya. Seperti lukisan penari Angguk, dan bidadari.

"Banyak lukisan terinspirasi sosok perempuan," ucap Dwi Suyamto, saat ditemui Radar Jogja, Minggu (19/1).

Dwi Suyamto menceritakan awal dirinya bisa terjun di dunia seni. Bakat lukisnya terlihat saat sekolah menengah.

Saat itu dirinya memutuskan berkuliah di jurusan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Tak sampai situ, dirinya melanjutkan berkuliah S2 dan S3 di Institut Seni Indonesia Jogjakarta dan Unisa Surabaya.

Melalui keilmuan yang didapat di bangku perkuliahan, Dwi banyak menciptakan karya-karya. Salah satu yang paling dikenang berupa lukisan berjudul Dara Etawa. Lukisan tersebut merupakan hasil tesisnya yang penuh syarat makna dan kritik sosial.

"Dasarnya dari pertanyaan, kenapa kambing dari Samigaluh mahal harganya," tuturnya.

Baca Juga: Prediksi Nottingham Forest vs Southampton Liga Inggris Minggu 19 Januari Kick Off 21.00, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?

Dwi menggambarkan, Dara etawa menunjukkan eksistensi kambing asli Samigaluh yang memiliki harga jual tinggi. Bukan karena dagingnya, Dara Etawa menggambarkan susu yang dihasilkan kambing. Saat itu, potensi susu etawa belum banyak diketahui masyarakat.

Melalui karyanya, Dwi memunculkan susu kambing menjadi komoditas baru yang layak diperjualbelikan.

Berkat karya itu, susu etawa mulai banyak dikenal. Bahkan peternak kambing yang biasanya memperjualbelikan sebagai komoditas daging beralih ke perternak susu.

"Setelah itu, kami mulai membuat sanggar seni bernama Sanggar Dwika Artika," ucapnya.

Memantapkan langkahnya, Dwi mulai menggagas sanggar untuk mewadahi karya karyanya.

Tak hanya seni lukis, di awal tahun 2000-an dirinya mulai mencoba karya dengan metode photo imaging.

Karya ini menggunakan seni editing yang untuk membentuk sebuah objek dengan nilai seni tinggi.

Salah satu karya yang menggunakan photo imaging yang tersimpan di galerinya yaitu berjudul Mikul Dhuwur Mendhem Jero. Dwi menggambarkan dirinya dan sang istri yang tengah menggendong 5 orang anaknya. Sengaja menghambarkan, peran orangtua tak bisa ditebus oleh anak-anaknya.

"Kami juga mendapat apresiasi dari Menteri Pendidikan waktu itu Mohammad Nuh," ucapnya.

Kesuksesan sanggar bentukannya mulai banyak dikenal masyarakat. Lantaran, banyak karya-karyanya diminati banyak kolektor.

Mulai dari kolektor pribadi hingga perusahaan. Beberapa karyanya bahkan sering menghiasi dinding perkantoran seperti RCTI, kementerian, sekolah, hingga perusahaan swasta.

Hingga di tahun 2010, Mohammad Nuh menteri pendidikan kala itu tertarik dengan lukisannya.

Tak hanya tertarik memiliki lukisannya, menteri era presiden SBY ini bahkan berkunjung ke kediamannya. Kunjungannya tak hanya untuk lukisan saja melainkan memberikan apresiasi ke Dwi dan sanggar miliknya.

"Kami juga harus mengikuti perkembangan zaman, jadi photo imaging dengan tema surealis," ucapnya.

Akhir-akhir ini, banyak karya yang dihasilkan menggunkan metode photo imaging. Dirinya tak mau zaman menelan kreativitasnya.

Sehingga, Dwi sangat getol berkarya dengan photo imaging. Berkat itu, banyak karyanya digemari dan bahkan menjadi ciri khas.

Kebanyakan kolektor menganggap karya Dwi merupakan perpaduan Photo Imaging dengan tema Surealis.

Tema ini biasanya sangat cocok ditempatkan di berbagai lokasi, tentunya membuat peminatnya semakin bertambah. 

Editor : Bahana.
#Seniman #RCTI #menteri #Kulon Progo #karya #mohammad nuh #kementerian