Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Inneke Yonilestari, Perempuan Penyintas Kanker Berdedikasi Tinggi: Rezeki Itu Harus Dibagi

Bahana. • Jumat, 17 Januari 2025 | 19:44 WIB

Inneke Yonilestari saat menyerahkan ID atau kartu anggota para calon pendonor kornea, Agustus 2024.
Inneke Yonilestari saat menyerahkan ID atau kartu anggota para calon pendonor kornea, Agustus 2024.
REZEKI adalah pemberian  Allah S.W.T (Tuhan Yang Maha Esa) untuk memelihara kehidupan, seperti nafkah atau makanan sehari-hari. Rezeki yang didapat seseorang, sebagiannya milik orang lain. Kalimat itu, yang dipegang teguh Inneke Yonilestari. Sehinnga ia banyak membantu orang lain.

INNE--panggilan Inneke Yonilestari, dilahirkan di Banjarmasin dari keluarga akademik. Ayahnya (Almarhum) seorang guru besar, lulusan UGM yang juga dosen. Almarhum ayahnya, terakhir mengabdi di ULM Banjarmasin.

Demikian pula ibunya (Almarhumah), juga seorang dosen, dan terakhir mengabdi di ULM Banjarmasin.   

Meski demikian, perempuan berdarah Jogjakarta-Banjarmasin ini tetap rendah hati. Dia boleh dibilang sebagai sosok perempuan yang istimewa dan gigih. Hal itu bisa dilihat dari kiprahnya. Meski merupakan salah seorang penderita kanker, aktivitas Inne tidak kalah dengan perempuan-perempuan lain yang sehat sempurna.

Untuk pekerjaan, putri ketiga dari lima bersaudara ini, berkecimpung di beberapa perusahaan, juga yayasan.

Sedangkan kegiatan kemanusiaan dan sosial, perempuan berlatar belakang pendidikan Ekonomi Manajemen ini bergabung dalam beberapa organisasi.

Sebagai contoh, berkiprah di Perhimpunan Penyantun Mata Tunanetra Bank Mata Cabang Jogjakarta, sebagai donor kornea dari tahun 1991, dan pengurus.   

Dalam kegiatan sosial, secara mandiri, Inne juga banyak membantu orang lain, terlebih kepada sesama penderita kanker.

Bukan hanya membantu berobat, juga kebutuhan sehari hari. “Punya rezeki itu harus dibagi. Karena rezeki yang kita miliki, sebenarnya sebagiannya memang milik orang lain,” katanya.

Bahkan dalam banyak kegiatan kemanusiaan, nama Inne sering mencul. Dalam memberikan support, tidak tanggung-tanggung, dan cenderung berada di belakang layar.

Inneke Yonilestari saat meghibahkan alat cetak kartu anggota donor kurnea kepada pengurus Perhimpunan Penyantun Mata Tunanetra Bank Mata Cabang Jogjakarta, pada saat Musda 4 agustus 2024.
Inneke Yonilestari saat meghibahkan alat cetak kartu anggota donor kurnea kepada pengurus Perhimpunan Penyantun Mata Tunanetra Bank Mata Cabang Jogjakarta, pada saat Musda 4 agustus 2024.

“Manusia, adalah makhluk sosial, sudah sewajarnya kalau saling bantu. Jadi, tidak harus dilebih-lebihkan,” ujar perempuan berzodiak Gemini ini.

Di sisi lain, masih banyak rezeki yang diberikan kepada umat-Nya, selain harta atau uang yang terkadang dianggap segalanya oleh sebagian orang.

Sebagai contoh kesehatan, dan umur. Menurut Inne, kesehatan yang dimiliki, dan umur yang masih menggerakkan tubuh, harus dimanfaatkan untuk kemaslakatan.

 “Maksudnya mumpung masih kuat, mumpung masih diberi umur panjang, tidak ada salahnya kan, kita manfaatkan untuk kepentingan orang banyak,” tandasnya.

Karena kepeduliannya yang tinggi ini, kadang Inne sendiri lupa kalau dirinya sendiri sebenarnya juga sedang sakit.

Inne dalam beberapa tahun ini berjuang melawan kanker yang dideritanya. Dia juga sering keluar masuk rumah sakit untuk dirawat, berobat, dan memeriksakan kesehatannya secara rutin.

Meski demikian, aktivitasnya tetap tinggi. Untuk kepentingan pekerjaan, sosial, dan kemanusiaan, Inne seperti orang yang sehat, meski ia tak lupa selalu menyanding atau mebawa obat yang jumlahnya tidak sedikit, dan besar besar. (*/jko)

Inneke Yonilestari menyerahkan donasi pribadi kepada Ananda Awis Saputri, pasien kanker darah anak
Inneke Yonilestari menyerahkan donasi pribadi kepada Ananda Awis Saputri, pasien kanker darah anak

Ditenangkan Takdir, Dikuatkan Saudara

DALAM menjalani kehidupan, Inneke Yonilestari patut diacungi jempol. Meski berbagai macam ujian hidup menerpanya, penyakit kanker menghampiri tubuhnya, tapi perempuan kelahiran Mei 1970 ini, tetap tegar, dan terus melakukan kebaikan-kebaikan.

Untuk diketahui, menurut tim dokter, Inne menderita kanker dengan riwayat kanker darah, setelah remisi tahun 2015, bulan Februari lalu terdeteksi kembali MDS tipe RAEB.

Dengan kondisi itu, mengharuskan Inne minum obat kemoterapi oral, berobat, dan tranfusi darah rutin seumur hidup. Inne juga sakit GERD, dan terakhir terdeteksi pembengkakan jantung kiri.

Meski begitu, tidak membuat Inne patah semangat. Bagi Inne, semua itu sudah takdir  Allah S.W.T yang harus diterima dan dijalani. “Saya yakin dan percaya, bahwa maksud Tuhan itu selalu baik. Sehingga harus bisa Inne lalui, dan jalani dengan ikhlas,” ungkapnya.

Tak sekadar penyakit yang disandang Inne, juga ujian dan musibah berkali kali. Yang menjadi hebat, Inne menjalani semua itu dengan melakukan kebaikan-kebaikan.

“Alhamdulillah, Inne masih bisa bertahan, dan bersikap tegar,” tandasnya.

Perempuan lima bersaudara ini (dua saudara lainnya sudah meninggal), memegang prinsip bahwa yang terjadi merupakan garis hidup.

“Ini, qodar. Semua ini takdir Allah subhanahu wata’ala yang sudah ditakdirkan pada Inne. Meski berat, harus diterima dan jalani,” tegasnya.

Inneke Yonilestari saat menyerahkan bantuan kepada pasien Arsya Meida Hanifahm penderita kanker kelenjar ludah
Inneke Yonilestari saat menyerahkan bantuan kepada pasien Arsya Meida Hanifahm penderita kanker kelenjar ludah
Banyak pihak yang menguatkan Inne dalam menapaki kehidupannya.  Di antaranya dua kakak kandungnya, Ir. Temmy, D.J. M.Si dan Ira D.J., Amd; kakak ipar (Boedi.Sp); serta keponakan (Randito).

 “Mereka selalu membesarkan hati saya dengan rasa penuh kasih sayang. Ini yang menjadikan saya kuat. Selain mereka, juga ada support yang luar biasa dari om, tante, dan saudara-saudaraku, serta seluruh keluarga besar kami,” ungkapnya.

Tak hanya keluarga, turut memberikan support, antara lain Dahlan Iskan (Mantan Menteri BUMN) dan H.M. Syukri Fadholli. Kemudian para sahabat, dan sahabat penyintas kanker; Ester Dwi Wahyuni, dan Devy Oktaria.

Kemudian para penyintas kanker Jogjakarta dr. Edy Wibowo, Sp.M., Prof. Soehardjo, R.Sp.M., dr. Rastri Paramita, Sp.M., dr. Reni Setyowati Sp.M., Ades Hendra Mariadi, Amd.,   dr. Raden Hari Muhsin, Murti Cahyana Putra, S.E.

“Seluruh rekan para dokter PPMTI Bank Mata Cabang Jogjakarta juga selalu memberi semangat kepada Inne,” tuturnya.

Dukungan juga datang dari para sahabat dan relasi KOSUDGAMA, diantaranya Dr. Tri Winarni Soenarto Putrim, S.U., Drs.Trijoko, M.Si., Dr. Ir. J. Pramana Gentur Sutapa, M.Sc., Prof. Dr. drh. Puji Astuti, M.P., Drs. Agus Setiawan, M.Soc.Sc., Ph.D., Dr. Noorhadi Raharjo, M.Si.,P.M., Drs.Sugiharto, M.Acc., MBA., Dr. Taufiq El Rahman, S.H., M.Hum., Sri Hartati, S.Kep.

Kemudian dua sahabat Dahlanis (Pengikuti Dahlan Iskan) Pipit Yuswarsih, dan Warijan Satriahadi . “Dukungan semangat yang besar juga datang dari sahabat keseharian Inne, Septian Dwirima P dan Tito Herlambang,” pungkasnya. (*/jko)

Editor : Bahana.
#Yogyakarta #Sosok #DIY #kanker