RADAR JOGJA - Djoko Pekik Irianto tidak memiliki latar belakang olahraga. Namun kegigihannya, mampu mengantarkannya menjabat sebagai ketua umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIY.
Pria asal Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah ini memilih melanjutkan studi SMA di Jogjakarta. Tepat setelah ayahnya meninggal saat dia duduk di kelas 2 SMP. Ibunya yang mendorongnya untuk ikut sang kakak ke Jogja. Yang saat itu tengah bekerja di IKIP atau kini dikenal dengan nama UNY.
Djoko Pekik kemudian memilih STM Jetis 1 atau STM Negeri 1 Jogja. Dia kemudian mengambil jurusan mesin produksi. Pilihannya bukan tanpa sebab. "Kemungkinan saya untuk kuliah itu sangat kecil karena ada faktor ekonomi," tuturnya kepada Radar Jogja Jumat (3/1/2025).
Seiring berjalannya waktu, Djoko Pekik mulai menyukai olahraga bola voli. Saat itu dia sempat berpikir untuk mencoba berkuliah. Namun akhirnya dia mencoba mendaftar tes pilot di AAU melalui program Ikatan Dinas Pendek (IDP). Siswa SMA yang berasal bukan dari taruna bisa mendaftar untuk menjadi seorang pilot.
Namun pada saat pendidikan satu tahun, dia tidak lolos. Tak hanya itu saja, ternyata Djoko Pekik juga ikut mendaftar di penerbangan komersial. Dia kembali tidak lolos.
Sambil bekerja, Djoko Pekik langsung memutuskan untuk mencoba mendaftarkan diri untuk kuliah di IKIP atau UNY. Siapa sangka, dia diterima di jurusan olahraga kesehatan pada 1981 silam.
Sebenarnya, Djoko Pekik bisa langsung masuk ke jurusan pendidikan teknik di IKIP setelah lulus kuliah. Mengingat nilai yang diperolehnya bagus dan bisa lolos tanpa tes. Namun hal itu diurungkan karena dia tidak ingin kembali ke STM. "Tapi kalau saya masuk ke olahraga saya bisa mengajar ke semua sekolah," lontarnya.
Baca Juga: Dua Warga Kebumen Keracunan usai Hisap Tingwe, Diduga Bercampur dengan Tembakau Gorila
Djoko Pekik berhasil lulus pada 1986. Tepat di saat itu, ada lowongan dosen di IKIP. Tanpa pikir panjang, dia pun langsung mendaftarkan diri. “Pada saat itu saya adalah satu-satunya mahasiswa angkatan 1981 yang bisa daftar dosen," ingatnya.
Dia kemudian melajutkan studi S-2 ke Universitas Airlannga (Unair) Surabaya pada 1991. Dalam waktu tiga tahun, dia berhasil lulus pada 1994. Dia pun kembali mengenyam pendidikan untuk S-3 di jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya. Dia berhasil lulus pada 2009. Setelah itu, dia langsung mengusulkan menjadi guru besar di IKIP pada 2010.
Karier di luar akademik mulai dijajaki Djoko Pekik pada 2010. Dia diminta ke Jakarta oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk menjadi Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga. Karena ada masalah, pada 2011 Djoko Pekik ditunjuk menjadi Plt Asesment. Dia akhirnya merangkap jabatan.
"Waktu itu berat, karena kami sedang menyiapkan menjadi tuan rumah SEA Games Jakarta-Palembang. Saya baru masuk birokrasi dan diserahi dua jabatan," sebutnya.
Pada 2016, Djoko Pekik memutuskan untuk kembali mengajar di kampus. Di tahun yang sama, dia diajak Antok yang menjadi ketua KONI DIY menjadi wakil ketua umum I. Karena Antok meninggal dunia, Djoko Pekik pun ditunjuk sebagai pengganti. (ayu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita