Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Leadership Joko Mursito, S.Sn., M.A Menahkodai Dinas Pariwisata Kulon Progo: Prestasi Ciamik Bawa Bumi Binangun Quattrick ADWI!

Anom Bagaskoro • Senin, 16 Desember 2024 | 18:33 WIB

 

Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Joko Mursito bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X
Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Joko Mursito bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X
RADAR JOGJA - Kepemimpinan Joko Mursito, S.Sn., M.A dalam menahkodai Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, patut diapresiasi.

Banyak program dan inovasi pariwisatanya yang berhasil dan memikat banyak pihak.

Salah satu yang dinilai istimewa adalah keberhasilannya membawa Kulon Progo menerima penghargaan ADWI sebanyak empat kali berturut-turut (quattrick).

Bumi Binangun —julukan bagi Kabupaten Kulon Progo, terus berkibar dalam inovasi kepariwisataan. Adalah Desa Wisata Jatimulyo yang belakangan menjadi perbincangan di tingkat nasional.

Desa Wisata Jatimulyo menyabet Juara 1  dalam ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia) Tahun 2024 pada kategori Desa Wisata Maju.

ADWI merupakan kompetisi yang melombakan desa wisata se-Indonesia. Dalam kompetisi itu, Desa Wisata Jatimulyo harus bersaing dengan 6.500 desa wisata di tanah air.

Sebelum Jatimulyo, tiga desa wisata lainnya telah membawa penghargaan secara berturut-turut untuk Kabupaten Kulon Progo dalam ADWI.

Tahun 2021 Desa Wisata Tinalah, 2022 Desa Wisata Ngargosari, dan 2023 Desa Wisata Hargotirto. 

“Selama empat tahun terakhir, Kulon Progo mempertahankan titel tersebut,” kata Joko Mursito.

Sejak kehadirannya menahkodai Dinas Pariwisata Kulon Progo, Joko Mursito telah banyak membuat inovasi yang berbuah pada berbagai prestasi. Sebut saja Gelar Potensi Desa Wisata Menebar Pesona.

Sama halnya ADWI, gelar potensi merupakan bentuk kompetisi sekaligus pembinaan untuk desa wisata, tapi pada tingkat lokal Kulon Progo.

Kegiatan gelar potensi tersebut oleh Joko Mursito dikonsep mirip seperti kompetisi yang dinilai oleh para pihak terkait. Para penilai dipilih dari kalangan yang memiliki kemampuan menakar sebuah desa wisata.

Untuk menilai kualitas masing-masing desa wisata, juga dihadirkan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY GKR Bendara dan berbagai pihak yang piawai menakar sektor pariwisata.

“Gelar potensi ini juga, yang mengantarkan kesuksesan empat desa wisata dalam kompetisi ADWI,” katanya.

Photo
Photo

Ia juga melakukan inovasi pengembangan desa wisata tematik. Potensi yang ada dikembangkan dengan mengklasifikasikan desa wisata berdasarkan tema.

Sebagai contoh Desa Wisata Jatimulyo yang memiliki tema Wilderness yang berhubungan dengan wisata alam dan keanekaragaman hayati, dengan wisata populernya berupa pengamatan burung.

Berbagai agenda pariwisata yang bercirikhas semangat Sambang Kulon Progo (Sambanggo) juga telah berhasil dilaksanakan sebelum tahun 2025.

Dengan semangat itu, puluhan event Dinas Pariwisata disebutkan berhasil menarik perhatian publik untuk ‘melihat Kulon Progo’.

Inovasi Joko Mursito selalu hadir dalam rangka pengembangan potensi pariwisata di Kulon Progo, seperti pelaksanaan kegiatan Festival Paralayang dan Ramban.

Festival paralayang mencoba mengangkat potensi sport tourism di Kapanewon Kalibawang dengan olah raga paralayang, sedangkan Festival Ramban mencoba mengangkat potensi ternak di Kalurahan Purwosari, Kapanewon Samigaluh.

Dalam kinerjanya tersebut, Joko Mursito tidak lupa menekankan pentingnya kerja kolaborasi seperti yang tertuang dalam Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (Ripparda).

Tema yang diusung oleh Joko Mursito adalah Pariwisata Kolaboratif Berbasis Budaya, Berkelanjutan, dan Berkelas Dunia.

Terhadap kolaborasi ini, Dinas Pariwisata Kulon Progo mewujudkan kolaborasi pentahelix, antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.

“Kolaborasi ini dapat dilihat dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan dinas pariwisata. Sebagai contoh, Festival Nglarak Blarak,” tandasnya.

Festival yang berkolaborasi dengan berbagai pihak tersebut oleh Dinas Pariwisata Kulon Progo disajikan menjadi kalender tahunan.

Permainan Nglarak Blarak dijadikan sebagai atraksi wisata yang dikemas menjadi suatu produk di setiap desa wisata untuk menghibur para pengunjung.

"Dari konsep kami ini, yang mungkin tidak ditemui di daerah lain, adalah kemasan dari potensi dan kolaborasinya," tegasnya.

Joko Mursito juga mewujudkan pariwisata ramah disabilitas. Melalui inovasinya “Kegiatan Fun Trip Difabel”, Dinas Pariwisata Kulon Progo kemudian berhasil dilirik oleh berbagai pihak.

Kegiatan Fun Trip Difabel ini mengajak para difabel untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Kulon Progo.

Melalui program ini, pengunjung disabilitas mendapat fasilitas yang pas dan tepat. Saking suksesnya kegiatan ini, Dinas Pariwisata mendapatkan apresiasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Joko Mursito juga mengemas kegiatan wisata ramah disabilitas tersebut menjadi Program Layanan Kulon Progo Ramah Disabilitas (Laku Wirasa).

“Program Laku Warsa ini memberikan kesempatan bagi para difabel untuk mendapatkan hak-haknya mengunjungi Kulon Progo,” katanya.

Laku Wirasa merupakan sebuah inovasi dinas pariwisata, agar layanan kepariwisataan yang ada di Kabupaten Kulon Progo bersifat inklusif, dapat dinikmati oleh seluruh kalangan, termasuk para penyandang disabilitas. (gas/jko)

SuGRIWA SUBALI: Pementasan sendratari Sugriwa-Subali secara rutin digelar di Amphiteater Kiskendo
SuGRIWA SUBALI: Pementasan sendratari Sugriwa-Subali secara rutin digelar di Amphiteater Kiskendo
Tarian Sugriwa – Subali, Gairahkan Goa Kiskendo

LEADERSHIP Joko Mursito juga muncul dalam mengembangkan objek wisata Goa Kiskendo. Obyek wisata Goa Kiskendo yang sempat melemah beberapa bulan itu akhirnya kembali bergairah setelah mendapat sentuhannya.

Di sana, Joko Mursito menghadirkan eduwisata berbasis karya budaya Sugriwa-Subali. Joko Mursito menginginkan agar para wisatawan selain menikmati keindahan geologis goa, namun juga mendapatkan pentingnya nilai-nilai budaya yang terkandung pada karya budaya Sugriwa-Subali.

 “Dengan inovasi ini, Goa Kiskendo tak hanya memiliki potensi wisata geologi dengan jelajah goa, juga terdapat sajian edukasi, budaya dan tradisi. Di sana, kita bentuk produk karya budaya Sugriwa-Subali, dengan tema Kiskendha Mrahaswara," kata Joko Mursito.

Diceritakan, Sugriwa-Subali merupakan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Jatimulyo. Dalam cerita itu, ketokohan Sugriwa-Subali dipercaya menjadi asal usul terbentuknya stalaktit yang terbentuk di dalam Goa Kiskendo.

Dari cerita rakyat itu, kemudian Joko Mursito mengemas Sugriwa – Subali sebagai produk eduwisata yang layak untuk dinikmati para wisatawan dari berbagai kalangan.

Terinspirasi dari Sendratari Ramayana di Prambanan, Goa Kiskendo kemudian dikonsep memiliki Sendratari Sugriwa-Subali.

“Sendratari Sugriwa-Subali  kami kemas dengan tema Kiskendha Mrahaswara, dengan makna optimisme objek wisata Goa Kiskendo kembali bersinar,” ungkapnya.

 Joko Mursito menggarap sendratari ini dengan serius. Karena gagasan ini muncul saat Covid,

maka sendratari dimainkan dengan protokol kesehatan. Yang menjadi ide cemerlang Joko Mursito saat itu, sebagai pengganti masker bagi penutup sebagian wajah pemain tari, adalah dengan mengenakan topeng.

Photo
Photo

Dan topeng ini juga merupakan produk kerajinan masyarakat setempat. “Penggunaan topeng ini, sekaligus untuk mendukung para perajin topeng di Jatimulyo,” katanya.

Berbeda dengan sendratari konvensional, kemunculan topeng sengaja untuk menimbulkan ciri khas tersendiri.

Sebab, Kapanewon Girimulyo dikenal dengan pengrajin topengnya. “Sehingga, penggunaan topeng dalam sendratari Sugriwa – Subali, sekaligus memperkuat ikon kapanewon,” tandasnya.  Pemberdayaan lainnya, juga berlaku bagi masyarakat.

Dimana para penari dalam sendratari ini, merupakan warga Jatimulyo.

Sejak itu, pementasan sendratari Sugriwa - Subali dilaksanakan secara reguler di Amphiteater Kiskendo. Amphitheater adalah sarana spesifikasi internasional yang dihadirkan khusus di Kiskendo yang fungsinya selain untuk pementasan, juga untuk mendukung program eduwisata sendratari Sugriwa-Subali.

Selain itu, untuk mendukung kunjungan wisatawan luar negeri, dalam sendratari ini, dialognya dikreasi dengan menggunakan bahasa Inggris . “Untuk mengenalkan produk budaya, seperti Sendratari Ramayana di Prambanan, sendratari Sugriwa - Subali menggunakan bahasa Inggris,” katanya. (gas/jko)

 

Editor : Bahana.
#Yogyakarta #Dinas Pariwisata Kulon Progo #Wisata #DIY #Joko Mursito #wisata kulon progo #ADWI