RADAR JOGJA - Apabila bagian tubuh kita terbentur atau tergores, tentunya orang normal akan meringis kesakitan dan sesegera mungkin menghindari hal yang membuat rasa sakit tersebut.
Hal itu merupakan reaksi spontan dari sistem saraf dalam tubuh kita demi menghindari kerusakan jaringan atau potensi kerusakan jaringan.
Rasa sakit merupakan gejala yang kompleks karena melibatkan sel saraf khusus dalam tubuh sebagai reseptor rasa sakit.
Namun, bagaimana jika seseorang seakan tidak memiliki reseptor tersebut dalam tubuhnya? Hal inilah yang dialami oleh seorang gadis bernama Ashlyn Blocker.
Mengutip dari thread di platform X yang dibagikan pengguna @septino_biel pada Kamis, (5/12/2024), ia merupakan anak dari pasangan John dan Tara Blocker yang lahir di Patterson, Georgia, Amerika Serikat.
Kedua orang tuanya mulai mencurigai adanya hal tak lazim yang dialami putrinya tersebut sejak kecil.
Dia tidak pernah menangis karena lapar, ruam popok, atau karena iritasi pada matanya.
Keanehan tersebut membuat mereka berinisiatif membawa putrinya ke dokter.
Sesampainya di sana, mereka menemukan bahwa Ashlyn selama ini punya luka di kornea matanya tanpa dia sadari.
Ia lantas didiagnosis mengidap sebuah kondisi langka bernama congenital insensitivity to pain with anhidrosis (CIPA).
Kondisi ini menyebabkan reseptor rasa sakit pada tubuhnya tidak bekerja, dan bahkan tidak bisa berkeringat.
Mulailah ia tumbuh dipenuhi pengawasan orang tuanya setiap hari.
Ia juga harus belajar untuk mengenal rasa sakit dari pengamatan lingkungan sekitarnya secara mandiri. Tanpa pengawasan penuh, dikhawatirkan ia akan kembali melukai dirinya sendiri tanpa sadar.
Gejala yang dialaminya menjadi salah satu kelainan yang sangat langka dan membuat peneliti medis menggunakan kasusnya untuk mempelajari konsep rasa sakit.
Diharapkan penelitian tersebut membantu mengembangkan perawatan untuk gejala nyeri kronis dengan memahami bagaimana mutasi genetic pada dirinya memengaruhi persepsi rasa sakit. (Muhammad Malik Nadzif)
Editor : Meitika Candra Lantiva