KULON PROGO - Sebagian besar orang mungkin masih asing dengan kesenian Panjidur. Pelafalannya hampir mirip dengan Tanjidor, kesenian asal Betawi. Namun Panjidur fokus pada tarian. Panjidur sendiri berasal dari Kalurahan Donomulyo, Nanggulan. Salah satu pelestarinya Suhari Ratmoko. Ketekunannya melestarikan Panjidur, kini jadi jalan rezekinya.
Suara gamelan diiringi penari yang berlenggak-lenggok menyambut kedatangan Radar Jogja di Sanggar Move Art Dance, Padukuhan Jambon, Donomulyo. Di antara penari perempuan, ada satu sosok pria berbadan tegap sedang mengoreksi bentuk tangan penari. Dia adalah Suhari Ratmoko, 32, pendiri sekaligus pemilik sanggar itu.
Pria yang akrab disapa Moko ini merupakan salah satu pelestari Panjidur. Melalui gerakan pelestariannya, Panjidur tak lekang ditelan zaman. Bahkan melalui kesenian Panjidur, dirinya memperoleh jalan rezeki yang kini terwujudkan melalui sanggar miliknya.
"Mengenal Panjidur sejak kecil, bahkan sebelum SD sudah ikut pentas," ucap Moko saat ditemui Radar Jogja, Selasa (3/12).
Moko menceritakan, sejak kecil ia sudah rutin melakukan pementasan Panjidur. Kesenian khas Kalurahan Donomulyo ini menitikberatkan pada tarian sederhana dengan iringan musik serta syair. Dulunya Panjidur sebagai sarana dakwah Islam, karena mengandung syair yang menenangkan. Namun sempat redup di era 80-an akibat panasnya perpolirikan saat itu.
Ketertarikan Moko berawal saat dirinya mulai menekuni instrumen musik yang mengiringi Panjidur berupa gamelan sederhana. Bahkan ia sempat menjadi pemain atau wiyaga dalam sebuah sanggar di tahun 2006.
Ketertarikannya untuk melestarikan Panjidur, khususnya pada tarian terjadi saat dirinya lulus SMA. Dalam dirinya timbul benih-benih ketertarikan pada kesenian tarian panjidur. Masih teringat jelas dalam dirinya, saat itu Moko tengah dalam kondisi terburuknya. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat dirinya terancam tak bisa melanjutkan pendidikan.
Padahal ia berminat melanjutkan kuliah bidang seni tari. Tujuannya untuk memperdalam ilmu tari dengan harapan dapat melestarikan kesenian Panjidur. "Sempat tidak ingin kuliah, karena fokus membantu orang tua, tetapi ditentang orangtua," ujarnya.
Seakan percaya dengan potensi yang dimiliki Moko, kedua orangtuanya bersikukuh menyekolahkan Moko hingga berkuliah. Di tahun 2012 Moko masuk Jurusan Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Mengenyam bangku pendidikan tinggi membuat Moko semakin punya wawasan luas mengenai kesenian, terutama kesenian tradisional dan kerakyatan seperti Panjidur. Di samping kegiatan berkuliah, Moko tetap berusaha melestarikan Panjidur melalui pementasan yang diikutinya.
Prediksi kedua orang tua Moko tepat. Setelah menggeluti dunia tari di perkuliahan, Moko mendapat kesempatan menampilkan tarian tradisional di Thailand sebagai wakil Indonesia. Momen itu juga menjadi titik baliknya memandang dunia seni tari.
"Kesenian tari tradisional memang harus dilestarikan, tetapi juga harus adaptif dengan perkembangan zaman. Momen di Thailand itu terpatri jelas, melestarikan tetapi juga tidak ketinggalan zaman," ujarnya.
Saat lulus kuliah, melalui bantuan teman dan seorang perempuan yang kini menjadi istrinya, Moko mantap mendirikan Sanggar Move Art Dance. Sanggar ini memiliki visi pelestarian kesenian tradisional, dengan kemasan modern. Harapanya dapat mengangkat pamor kesenian tradisional agar tak termakan zaman.
Sanggar berfokus melatih anak muda untuk lebih mencintai budaya seni tari. Di awal berdirinya sanggar, tak banyak pekerjaan yang didapat. Namun, berkat keuletan dan pementasan pelestarian Tari Panjidur, Move Art Dance mulai dikenal masyarakat. "Mungkin ya, sanggar kami diajak tradisional jelas bisa, modern juga bisa," ujarnya.
Stigma masyarakat mengenai Sanggar Move Art Dance tak hanya berkaitan dengan seni tradisional. Namun, juga seni tari modern yang menjadi kegemaran saat ini. Hal itulah yang membuat Move Art Dance mulai dikenal banyak orang. Bahkan kini Move Art Dance menjadi langganan Pemkab Kulon Progo untuk mengisi berbagai kegiatan. Sanggar ini juga tembus menampiljan tafian hingga mancanegara.
Visi Moko yang ingin melestarikan kesenian tari tradisional dengan tanpa ketinggalan zaman tergambar jelas dalam setiap penampilan Move Art Dance. Jika bukan penampilan resmi atau pakem, Move Art Dance sering mengombinasikan tarian tradisional dengan tarian modern. (gas/laz)
Editor : Heru Pratomo