Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Sri Wahyuningsih Dirikan Sekolah Air Hujan untuk Jaga Keberlanjutan Lingkungan, Ajarkan Dua Metode Penampungan

Delima Purnamasari • Sabtu, 16 November 2024 | 15:35 WIB
BERAGAM MANFAAT: Sri Wahyuningsih menunjukkan alat pengolahan air hujan.
BERAGAM MANFAAT: Sri Wahyuningsih menunjukkan alat pengolahan air hujan.

 

 

 

 

SLEMAN - Air hujan bisa benar-benar menjadi berkah jika dikelola oleh orang yang tepat. Tidak sekadar soal konservasi lingkungan. Namun mengolahnya untuk jadi air siap minum dengan beragam manfaat. 

Manajemen air hujan inilah yang diajarkan di Sekolah Air Hujan milik Sri Wahyuningsih. Sekolah ini merupakan bagian dari Komunitas Banyu Bening yang berada di Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik.

Saat ditemui di rumahnya pada Kamis (14/11), perempuan yang akrab disapa Yuni ini tengah sibuk mengobrol dengan tiga orang tamu. Mereka sedang berkonsultasi soal manfaat olahan air hujan untuk mengobati penyakit miom.

"Dengan alat elektrolisa ini air hujan diolah kembali. Teknologi lanjutan ini membuat air jadi multifungsi," kata Yuni kepada Radar Jogja.

Ibu rumah tangga ini menjelaskan, alat elektrolisa mengubah air hujan menjadi dua jenis. Pertama adalah air basa untuk diminum sehari-hari. Kedua, air asam sebagai antiseptik yang mengobati berbagai keluhan. Mulai dari luka, sariawan, bahkan sakit gigi.

Mempelajari soal teknik elektrolisa hanya salah satu materi di Sekolah Air Hujan yang Yuni dirikan. Namun, materi utamanya adalah konservasi. Di sini air hujan ditampung untuk persediaan, terutama menghadapi masa kemarau.

"Persoalan yang terjadi dari tahun ke tahun itu sama. Kalau hujan banjir, kalau kemarau tidak ada air," ucapnya.

Dalam proses penampungan ini, ada standar yang harus dipenuhi. Utamanya harus menghindari hujan pertama dan kedua setelah kemarau panjang. Menurut Yuni, dalam dua masa itu air masih penuh dengan polutan.

Baca Juga: 14 Kesenian Asli Kalurahan Sidorejo Ditampilkan dalam Gelar Potensi Selama 2 Hari 2 Malam

Air baru bisa ditampung setidaknya pada hujan ketiga. Itu pun harus ditunggu lima hingga 10 menit dari waktu pertama jatuhnya hujan untuk menghindari polutan.

Di Sekolah Air Hujan setidaknya diajarkan dua metode penampungan. Pertama, konvensional ketika prosesnya menggunakan alat seadanya dan kain sebagai penyaring. Kedua, Gama Rain Filter dengan empat penyaring yang dikembangkan oleh Guru Besar UGM Agus Maryono.

"Sebagai makhluk Tuhan yang diberi akal harus visioner untuk menjaga keberlanjutan hidup di bumi," ujarnya.

Yuni menuturkan, Sekolah Air Hujan adalah pendidikan yang bebas. Tak terbatas oleh usia karena siapa pun bisa bergabung. Tak dibatasi oleh biaya karena yang ditekankan adalah berbagi. Apabila tak bisa berbagi materi, bisa berbagi ide, waktu, bahkan pengalaman.

Jadwal reguler Sekolah Air Hujan dilakukan setiap hari Sabtu pukul  09.00 hingga 11.30. Yuni akan menyelenggarakannya secara bauran luring dan daring. Sehingga masyarakat seluruh Indonesia bisa ikut berpartisipasi.

"Kami tak dibatasi kurikulum. Tapi membangun strategi agar pemanfaatan air hujan sampai di semua level masyarakat," ujarnya.

Salah satu teknik yang dia gunakan memang menyesuaikan pesertanya. Kadang Yuni akan menghubungkan air hujan dengan mitos zaman dahulu, dengan ilmu sains, atau ilmu agama.

"Target kami adalah ilmunya sampai. Pesertanya bisa mengerti, meniru, bahkan menyebarkan ilmu yang dipelajari," tegasnya.

Bagi Yuni, air hujan sudah seperti aliran darahnya sendiri. Dia mengaku akan terus melanjutkan kampanye ini dan berharap perbaikan lingkungan bukan lagi hal yang mustahil untuk dicapai. (laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#konservasi lingkungan #air hujan