Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Prof Ichlasul Amal, Rektor UGM saat Masa Reformasi Itu Berpulang, Berani Pasang Badan, Jemput Mahasiswa yang Ditahan di Polda

Fahmi Fahriza • Jumat, 15 November 2024 | 15:55 WIB

 

Prof Amal bersama Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X semasa masa reformasi di Grha Sabha Pramana UGM pada 1998
Prof Amal bersama Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X semasa masa reformasi di Grha Sabha Pramana UGM pada 1998

 

SLEMAN - Duka menyelimuti kawasan Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM), kemarin (14/11) sore. Rektor UGM periode 1998-2002, Prof Dr Ichlasul Amal meninggal dunia pada usia 82 tahun. Ia mengembuskan napas terakhirnya di RSPI, Jakarta. 

 Kabar duka itu awalnya diwartakan Guru Besar Hubungan Internasional Fisipol UGM Prof Dr Mohtar Mas’oed. "Prof Ichlasul Amal, mantan Rektor UGM, meninggal dunia pagi ini jam 2.40 di RSPI, Jakarta," katanya dalam keterangannya, Kamis (14/11).

Dari Jakarta, jenazah dibawa ke Jogjakarta dan dikebumikan di pemakaman Sawitsari. Sebelum dimakamkan, jenazah disemayamkan di Balairung Gedung Pusat UGM, untuk mendapat penghormatan terakhir dan pelepasan dari keluarga besar civitas akademika UGM.

Rektor UGM Prof dr Ova Emilia menyampaikan rasa duka yang mendalam atas berpulangnya Prof Amal. Menurut Ova, selama masa jabatannya sebagai rektor, ia banyak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan institusi.

"Termasuk peningkatan mutu pendidikan dan penguatan jejaring internasional UGM. UGM berduka cita mendalam atas kepergian beliau. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan," harap Ova.

Upacara penghormatan mendiang Rektor Universitas Gadjah Mada periode 1998-2002, Ichlasul Amal, di Balairung UGM, kemarin (14/11).
Upacara penghormatan mendiang Rektor Universitas Gadjah Mada periode 1998-2002, Ichlasul Amal, di Balairung UGM, kemarin (14/11).

Sementara itu dosen di Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM Rochdi Mohan Nazala menyampaikan, Prof Amal adalah panutan bagi dosen-dosen di UGM. Khususnya di tempat beliau mengajar selama ini, yaitu Fisipol dan Departemen Ilmu Hubungan Internasional.

 "Beliau secara konsisten hingga akhir hayatnya pengajar. Berulang kali beliau menolak jabatan di pemerintahan, karena itu menghalangi kecintaan untuk mengajar dan berdiskusi di kampus," ungkapnya.

Mohan mengenang Prof Amal adalah orang yang supel. Tidak mengherankan jika jaringan pertemanannya begitu luas. "Prof Amal senang bercanda, tetapi serius, apalagi jika menyangkut ide-ide," tambahnya.

Ia menuturkan dirinya cukup lama menjadi asisten Prof Amal. Kata Mohan, Prof Amal pula yang selalu dengan semangat mendorong dirinya dan teman-teman untuk sekolah setinggi-tingginya.

Baca Juga: 178 Peserta Asing Akan Susuri Keindahan Alam DIY melalui Ajang JIHW, Ini Tanggal Pelaksanaannya

"Kami sebagai dosen junior senang memanggil dengan sebutan Rektor Reformasi. Ini menunjukkan besarnya keberpihakan beliau pada masa depan, terutama masa depan generasi muda," lontarnya.

Penuturan lain datang dari dosen  Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM Bayu Dardias. Bayu menggambarkan sosok Prof Amal sebagai reformis yang berani.

Ia berujar, Prof Amal adalah sosok yang konsisten, disiplin, dan berani pasang badan. Termasuk ketika Prof Amal menjadi penyemangat saat demo di masa-masa reformasi 1998 silam.

"Waktu itu saya masih mahasiswa, dan beliau berani pasang badan untuk mahasiswa yang ditahan polisi. Beliau sendiri yang menjemput para mahasiswa di Polda kala itu,"  ungkap Bayu.

Lebih lanjut Bayu juga mengenang, ada masanya UGM dulu dipelesetkan menjadi "Universitas Gakdue Masjid". Ia bercerita, Masjid Kampus UGM adalah perjuangan banyak orang, salah satunya Prof Amal saat menjabat rektor. 

"Saat Soeharto mengundurkan diri, Prof Amal sedang di lokasi kuburan Cina, mengukur kiblat masjid setelah memimpin demo mahasiswa dari UGM ke Alun-Alun Utara sehari sebelumnya," ulasnya. Demo puluhan ribu rakyat Jogja itu kemudian dikenal sebagai Pisowanan Ageng.

"Selamat jalan Prof Amal. Sesuai namamu, seluruh Amal ikhlasmu semoga menjadi penyerta di perjalanan berikutnya," tandas Bayu. (laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#Ilmu Hubungan Internasional #UGM #fisipol #rektor #Bayu Dardias #dosen #Prof dr Ova Emilia #masa reformasi #Prof Ichlasul Amal