KEBUMEN - Ora ngapak, ora kepenak. (tidak pakai bahasa ngapak, tidak enak). Ya, itulah yang menjadi pedoman Firman Mualim alias Mister Kepok sebagai penyiar radio. Selama 25 tahun mengudara, dia tetap konsisten membawakan acara radio pakai bahasa ngapak. Hal ini yang membuat dirinya beda dengan penyiar radio lain.
Seperempat abad sudah Mister Kepok menjadi penyiar radio. Selama itu pula ciri khasnya tak pernah berubah. Dia tetap eksis menggunakan bahasa ngapak, meski selama siaran banyak alternatif bahasa lain.
Logat dan gaya bahasa yang jenaka membuat para pendengar radio mudah mengenali siapa Kepok. Secara spesifik Kepok selama bertahun-tahun dipercaya membawa program siaran musik dangdut.
Tak ayal penikmat musik sejuta umat ini banyak yang mengenal Kepok karena sering berinteraksi lewat saluran radio. "Identitas saya dari dulu penyiar ngapak. Tidak rubah. Dari awal saya siaran sampai detik ini," katanya, Kamis (24/10).
Bagi Kepok, fanatik terhadap bahasa lokal tidak ada sangkut paut dengan ras, suku atau golongan. Makna pemahaman ini menurutnya telalu sempit. Penggunaan bahasa ngapak adalah bentuk penghargaan terhadap budaya atau peninggalan leluhur. "Misal saya menjelekkan itu baru SARA. Apa salahnya pakai bahasa ngapak. Saya malah merasa lebih dekat," ujarnya.
Kepok lahir dan berkeluarga di Kebumen. Dia meniti karir sebagai penyiar sejak 1999. Sejak remaja dia memang sudah minat dan tertarik untuk menjadi penyiar.
Sampai akhirnya mimpi itu terwujud ketika salah perusahaan radio menunjuk dia sebagai penyiar muda. "Pas awal siaran posisi masih bujang. Semangat banget. Dulu saya memang sering main ke stasiun radio," ungkap warga Desa Sitiadi, Kecamatan Puring itu.
Pria 44 tahun ini bercerita banyak suka duka selama menjalani pekerjaan sebagai penyiar radio. Namun, hal paling berkesan adalah ketika dirinya dijadikan sebagai anak angkat oleh pendengar setia.
Baca Juga: Pemkab Sleman Sinau Pengendalian Inflasi ke Kebumen, Kuncinya di 4K
Baca Juga: PSS Sleman Dihadapkan dengan Konsistensi, Minggu Menjamu Persita Tangerang di Stadion Manahan
"Sampai saya diangkat anak sama orang Gombong. Setiap hari beliau dengar siaran," ucapnya.
Kepok berkata, saat ini industri radio sudah mengalami banyak perubahan. Berbeda halnya pada era 1990-an. Pada masa itu menurutnya masa keemasan radio. Di mana masyarakat masih mengandalkan radio sebagai sarana informasi sekaligus hiburan. Tentu kondisi ini berdampak bagi seorang penyiar radio.
"Era dulu jadi penyiar itu top banget. Punya penggemar seperti artis. Banyak yang kirim atensi sama minta foto sampai bawa makanan ke studio. Sekarang sudah beda jauh," pungkasnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo