RADAR JOGJA - Gusti Kanjeng Ratu Bendara, atau GKR Bendara, lahir sebagai Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni pada 18 September 1986.
Sebagai putri bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas, ia dikenal karena kerendahan hati dan sikap ramahnya, yang mendekatkannya dengan masyarakat dan menciptakan citra positif dalam kehidupan kerajaannya.
GKR Bendara telah menempuh pendidikan di beberapa negara, mulai dari SMA di Singapura hingga studi di International Hospitality Management Institute di Swiss.
Ia kemudian meraih gelar S2 di Napier University, Skotlandia. Selain akademik, GKR Bendara juga mencatat prestasi dalam ajang Miss Indonesia 2009 sebagai finalis 10 besar, mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta, yang menunjukkan keberaniannya tampil di publik.
Pada 18 Oktober 2011, GKR Bendara menikah dengan Achmad Ubaidillah, yang sekarang dikenal sebagai Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara.
Pernikahan ini menjadi sorotan karena suaminya berasal dari etnis Melayu dan bukan keturunan bangsawan, mencerminkan sikap terbuka GKR Bendara terhadap perbedaan dan modernitas dalam tradisi kerajaan.
GKR Bendara aktif dalam kegiatan sosial dan ekonomi, menjabat sebagai Wakil Ketua 3 KONI, dan terlibat dalam pengembangan usaha kecil menengah serta usaha menengah besar melalui ICSB.
Sebagai ketua PUTRI (Perhimpunan Pengusaha Taman Rekreasi Indonesia) dan anggota dewan pertimbangan tourism board, ia berkomitmen untuk memajukan pariwisata dan kebudayaan Indonesia.
Di Keraton, ia menjabat sebagai Penghageng Nityabudaya, yang bertanggung jawab atas museum dan kearsipan.
Dalam perannya ini, GKR Bendara bertekad untuk merevitalisasi Keraton dengan standar tinggi dan mempromosikan warisan budaya Indonesia di kancah internasional.
GKR Bendara adalah sosok yang berhasil menggabungkan tradisi dan modernitas.
Dengan pendidikan yang solid dan sikap yang inklusif, ia menunjukkan bahwa status kerajaannya tidak menghalanginya untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Melalui peran di Keraton dan luar, GKR Bendara berupaya membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, menjadi teladan bagi generasi muda. (Martinus Jonathan Nainggolan)
Editor : Meitika Candra Lantiva