RADAR JOGJA - Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Maduretno, putri ketiga Sri Sultan Hamengkubuwono X (HB X), adalah sosok yang tidak hanya dikenal sebagai anggota keluarga keraton, tetapi juga aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan sosial.
Ia lahir dengan nama Gusti Raden Ajeng Nurkamnari Dewi pada 12 April 1978 dan telah memainkan peran penting dalam memperkuat warisan budaya serta memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Pernikahan GRA Nurkamnari Dewi dengan Yun Prasetyo berlangsung di Keraton Yogyakarta pada Mei 8 2008.
Sesuai dengan adat keraton, sebelum menikah, calon mempelai pria diangkat menjadi abdi dalem kraton dengan gelar dan nama Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Purbodiningrat, sementara mempelai wanita disesuaikan menjadi Gusti Raden Ayu (GRAy) Purbodiningrat.
Gelar GRAy Purbodiningrat kemudian berubah kembali ketika Hamengkubuwana X merayakan ulang tahun “Tumbuk Ageng”.
Pada saat itu, ia diangkat menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) dengan nama Maduretno, sementara suaminya diangkat menjadi Kanjeng Raden Pangeran Haryo (KPH) dengan nama Purbodiningrat yang tetap.
Pernikahan Ratu Maduretno dan Pangeran Purbodiningrat dihadiri oleh berbagai pejabat negara, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyonoo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Melalui akun Instagramnya, GKR Maduretno sering membagikan momen-momen manis dan romantis bersama suaminya.
Setelah 16 tahun menikah, GKR Maduretno dan KPH Purbodiningrat masih berdua, meskipun demikian, hubungan mereka tetap mesra dan harmonis.
Kemesraan pasangan ini terlihat, salah satunya saat GKR Maduretno merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-16 pada bulan Mei lalu.
GKR Maduretno bersama saudara-saudaranya terlibat aktif dalam beberapa perusahaan, termasuk PT. Yogyakarta Tembakau Indonesia dan Nurkadhatyan Spa.
Selain itu, GKR Maduretno juga menjabat sebagai komisaris di PT. Buana Alam Tirta, yang mengelola Kebun Binatang Gembira Loka di Yogyakarta.
Selain menjalani peran sebagai anggota keluarga keraton, GKR Maduretno juga aktif dalam berbagai organisasi, termasuk Karang Taruna DIY, yang berfokus pada pemberdayaan pemuda dan masyarakat.
GKR Maduretno sering berbagi pandangan bahwa menjadi putri keraton tidaklah mudah. Ia mengungkapkan bahwa kesalahan kecil dapat mengakibatkan banyak kritik.
Namun, ia tidak pernah menyesali kelahirannya sebagai putri sultan dan selalu bersyukur atas posisi yang dimilikinya.
GKR Maduretno berpegang pada pesan dari Ngarsa Dalem untuk berbuat baik kepada semua orang, tanpa memandang status dalam memilih teman, serta senantiasa bersikap rendah hati. (Ahmad Fatkhhurohman)
Editor : Meitika Candra Lantiva