RADAR JOGJA - Keraton Yogyakarta, sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, tidak hanya dikenal karena adat istiadat dan warisan budayanya yang kaya, tetapi juga karena sosok pemimpinnya, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.
Di balik kekokohan dan ketegasan Sultan HB X, terdapat lima putrinya yang masing-masing memiliki peran penting dalam melestarikan budaya Keraton dan turut aktif di berbagai bidang sosial.
Meskipun tradisi Kasultanan umumnya diwariskan kepada penerus laki-laki, kelima putri Sultan ini membuktikan bahwa mereka mampu menjalankan tanggung jawab besar dalam menjaga adat dan membawa perubahan di era modern.
Siapa saja mereka dan apa peran yang mereka emban? Mari mengenal lebih dekat lima putri Sultan HB X yang memikat perhatian banyak orang dengan kecerdasan, bakat, dan dedikasi mereka.
1. GKR Mangkubumi
Sebagai putri sulung, GKR Mangkubumi lahir dengan nama GRAj Nurmalita Sari. Ia menjabat sebagai Lurah Putri, memimpin Abdi Dalem keparak (perempuan) dan Sentana Dalem putri.
Memiliki nama lengkap Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawana Langgeng ing Mataram, ia juga berperan sebagai Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Parwabudaya, yang bertugas melestarikan kebudayaan Keraton Yogyakarta.
Gusti Mangku bertanggung jawab merawat petilasan, masjid, makam Kagungan Dalem, serta melestarikan dan mengedukasi masyarakat tentang seni klasik Jawa.
Jabatan lain yang dipegang GKR Mangkubumi termasuk ketua Karang Taruna DIY, ketua KNPI DIY, serta wakil ketua Kwarnas bidang pengabdian masyarakat.
Beliau juga aktif dalam AKU (asosiasi kelompok usaha mikro), Forum CSR Kesejahteraan Sosial, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY, dan Karya Bakti Husada Nasional (BKKBN).
2. GKR Condrokirono
Putri kedua Sri Sultan, GKR Condrokirono, yang lahir dengan nama GRAj Nurmagupita, kini menjabat sebagai Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura atau sekretariat negara Keraton Yogyakarta.
Tugas utamanya adalah memastikan semua informasi penting di Keraton tersampaikan dengan utuh kepada Sultan.
Selain mengatur operasional Keraton, GKR Condrokirono juga terlibat dalam pembahasan draf Undang-Undang Keistimewaan, memahami aturan pertanahan Keraton, dan menyelami alasan filosofis di balik upacara adat.
Di luar Keraton, ia adalah direktur LSM Rekso Dyah Utami dan berperan aktif dalam perlindungan anak terlantar dan korban kekerasan.
3. GKR Maduretno
Putri ketiga, GKR Maduretno, lahir dengan nama GRAj Nurkamnari Dewi, memiliki minat besar di bidang kuliner.
GKR Maduretno berkuliah di jurusan Food and Beverages di Holmesglen Glen Waverly Campus, Melbourne, Australia, dan semasa kuliah ia bekerja di restoran kampus.
Kini, ia menjabat sebagai Penghageng ll Kawedanan Hageng Punakawan Parasraya Budaya dan Penghageng Tepas Danartapura.
Masa kecilnya yang tomboi tak menghentikannya dari tanggung jawab besar di bidang budaya Keraton.
4. GKR Hayu
GKR Hayu, yang lahir dengan nama GRAj Nurabra Juwita, adalah putri yang terkenal dengan kecintaannya pada teknologi.
Semasa kecil, ia gemar bermain lego dan video game, yang kemudian mengarahkan minatnya pada dunia teknologi.
Pada tahun 2007, ia sempat magang di Microsoft Indonesia. Saat ini, bersama suaminya Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro, GKR Hayu menjalankan Tepas Tandha Yekti yang bertugas menjaga kekayaan tradisi Keraton dengan memanfaatkan teknologi modern.
Ia berharap teknologi dapat mempermudah publik mengakses informasi tentang Keraton Yogyakarta.
5. GKR Bendara
Putri bungsu, GKR Bendara (lahir dengan nama GRAj Nurastuti Wijareni), adalah sosok yang lincah dan aktif di berbagai organisasi.
Selain menjabat sebagai Wakil Ketua 3 KONI dan Ketua Perhimpunan Pengusaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI ), ia juga menjadi bagian dari Dewan Pertimbangan Tourism Board.
Setelah menyelesaikan pendidikan di jurusan International Hospitality and Tourism Management di IMI Switzerland, GKR Bendara menjabat sebagai Penghageng Nityabudaya, khususnya bertanggung jawab atas museum dan kearsipan Keraton.
Visi besarnya adalah merevitalisasi museum Keraton dengan standar internasional untuk meningkatkan pariwisata budaya Yogyakarta.
Kelima putri Sultan HB X ini tidak hanya memiliki kelembutan yang khas, tetapi juga memiliki pendidikan tinggi dan aktif dalam berbagai aspek sosial dan budaya, memberikan kontribusi yang signifikan dalam menjaga dan melestarikan warisan Keraton Yogyakarta.