BANTUL - Tinggal di pedesaaan Sanden hingga jauh dari hiruk-pikuk perkotaan yang bising dengan suara deru kendaraan. Kondisi ini membuat Suyanto berpikir keras membuat kerajinan yang memiliki nilai jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Merantau ke Kota Tangerang selama puluhan tahun lantas kembali ke Kalurahan Gadingsari, Sanden, membuat Suyanto putar otak mencari penghasilan. Lokasinya yang berdekatan dengan kawasan pantai selatan sehingga sulit untuk mendapat pekerjaan di pabrik layaknya semasa di Kota Tangerang.
Hanya bermodalkan kreativitas yang dimiliki dan belajar otodidak membuat pria 54 tahun ini mampu memanfaatkan kelapa gabuk sebagai penghasilan sehari-harinya di Bantul. Kelapa gabuk yang mayoritas tidak terpakai dan dibuang begitu saja, diperlakukan beda oleh Suyanto.
Dia menginovasikannya menjadi sebuah hiasan interior yang diminati banyak pembeli. Tidak hanya dari Jogja saja, tetapi juga dari luar DIJ seperti Bali, Jakarta, Semarang, dan Kalimantan.
Baca Juga: Antisipasi Kerawanan Pangan, Pemkab Sleman Berikan Bantuan Beras pada 1.042 Keluarga di Margokaton
"Saya sejak 2007 bikin coco monkey dari kelapa gabuk ini,” ujarnya saat ditemui di rumahnya kemarin (10/10). Para pembeli biasa menyebut kerajinan yang dihasilkannya dengan nama coco monkey.
Dari wujudnya memang kelapa gabuk disulap layaknya wajah monkey yang berambut atau tidak. Awalnya jelas tidak mudah mendapatkan pembeli karena menjadi barang yang aneh dan belum ada pangsa pasar yang pasti.
Dia mengungkapkan, selama ini dalam penjualannya hanya memberikan ke distributor yang nantinya akan dijual kembali. Menurutnya, jarang sekali ada pembeli langsung atau bahkan datang ke rumahnya.
Selama ini Suyanto tidak memiliki toko offline maupun online dalam menjualnya. “Produksinya tergantung pesanan,” tuturnya.
Dalam sehari kadang ada 80 coco monkey yang dihasilkan jilka lagi banyak pesanan. Sedangkan ketika sedang sepi, bahkan tidak bikin sama sekali kerajinan.
Baca Juga: Kesehatan Mental Remaja Masih Jadi Masalah, LPKA UMY Gelar Terapi Healing Massal
Baca Juga: BPTD III Yogyakarta Sosialisasikan Kesadaran Berlalu Lintas terhadap Siswa dan Guru TK di Bantul
Kelapa gabuk yang dibuatnya bersumber dari sekitaran rumahnya saja. Kelapa gabuk adalah kelapa yang kosong, tidak berisi di dalamnya karena gagal pembuahan.
Coco monkey dijual dalam rentang harga Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu. Dibedakan dengan adanya gigi yang ditambahkan. "Keuntungan setiap satu produk saya dapatkan Rp 7 ribu-Rp 8 ribu,” ucap Suyanto.
Ketika pesanan sedang banyak-banyaknya, bisa ada enam pekerja yang membantunya. Satu coco monkey yang dibuat hanya membutuhkan waktu 15 menit saja.
Menurutnya, mayoritas produknya ke luar negeri tetapi dilakukan oleh distributor. Sehingga ia sendiri tidak mengetahui secara pasti ke negara mana saja. (laz)
Editor : Heru Pratomo