RADAR JOGJA - Telepon umum kartu beroperasi pertama kali pada 1998. Pemasangan telepon umum sistem itu tidak menghilangkan telepon umum koin yang telah eksis. Melainkan menambah jenis layanan serta mempermudah pemakai jasa telepon umum.
Kartu telepon dalam perjalanannya mengalami perubahan dari desain kartu. Dengan memperhatikan keindahan dan keunikan dari kartu telepon umum, Azza Ibraisama Ersyada mengumpulkan berbagai macam desain kartu telepon selama tiga tahun. Kini, ia telah mengumpulkan 77 koleksi kartu telepon umum dari 77 negara dan lima benua.
Azza mengatakan, dirinya mulai mengumpulkan kartu itu sejak masa pandemi Covid-19. Hingga 2022, ia mengumpulkan sebanyak 77 kartu. Jumlah itu sengaja ia pilih. Lantaran di tahun 2022, Republik Indonesia merayakan hari kemerdekaan ke-77. “Maksudnya 77 kartu dari 77 negara itu buat simbol ulang tahun Republik Indonesia,” katanya kepada Radar Jogja, Jumat (20/9).
Ia sendiri mengaku tertarik mengumpulkan kartu tersebut karena keunikan desainnya. Selain itu, jurusannya semasa kuliah, yakni Teknik Informatika, sejalan dengan dunia telekomunikasi. Padahal, Azza sendiri mengaku belum pernah menggunakan telepon umum kartu secara langsung.
“Saya mengalaminya yang pakai telepon koin. Kalau yang telepon umum kartu malah kayaknya saya belum lahir,” ujar lelaki kelahiran 16 Januari 2001 ini.
Azza menceritakan, awal mula ketertarikannya untuk mengoleksi kartu ini dimulai saat ia mengunjungi museum sains di Malaysia, Brunei Darussalam, dan Arab Saudi. Koleksi kartu telepon umum yang dipajang di museum tersebut menarik perhatiannya. Desain-desainnya ia anggap unik dan menarik.
“Saya terus cari info soal itu, ternyata ada suatu hal yang unik di kartu ini. Lalu saya telusuri di internet, kok kayaknya menarik buat dikoleksi,” ungkapnya.
Salah satu yang membuatnya tertarik mengoleksi kartu telepon umum adalah desainnya. Tiap negara memiliki ciri khas desain masing-masing.
Ia menjelaskan, dirinya mengumpulkan puluhan kartu telepon umum itu lewat berbagai cara. Ada yang langsung berkunjung ke negaranya, ada pula yang membeli lewat e-commerce.
Menurutnya, kartu telepon umum yang paling susah dicari adalah dari negara-negara di benua Afrika dan Oceania. Negara-negara yang jarang didengar orang. Seperti kartu dari Saint Helena, negara kecil di Samudera Atlantik.
Baca Juga: Jelajah Spot Foto Prewedding Hits! Landasan Pacu Depok Jogja Menawarkan Pemandangan Eksotis
Baca Juga: Revisi UU Imigrasi untuk Penguatan Pengawasan WNA dan Perbaikan Pelayanan Telah Disahkan
“Terus yang cukup sulit lagi yang dari Ghana, Seychelles, Guatemala. Itu kartunya jarang dan sulit dicari. Setelah dapat ya merasa lega,” katanya.
Usai mengumpulkan 77 kartu telepon umum, Azza pun berinisiatif mendaftarkan koleksinya itu ke Museum Rekor Indonesia (Muri). Sebelumnya, ia mencari tahu dulu, apakah sudah ada yang pernah mengoleksi hal serupa. Namun ternyata belum ada. Untuk itu, Azza pun mantap mendaftarkan koleksinya ke Muri.
Gayung bersambut, Muri pun menyetujui dan menetapkan koleksi milik Azza sebagai salah satu rekor di Muri. Azza pun diberi sertifikat dan medali secara langsung di Galeri Muri Semarang pada 5 Desember 2022. “Lika-liku nyari kartu ini prosesnya panjang selama tiga tahun,” ujar alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogja ini.
Usai menorehkan catatan di Muri, puluhan kartu milik Azza itu kini tersimpan rapi di dalam sebuah album. Ia menyebut, dirinya masih berencana untuk menambah jumlah koleksinya. Masih ada kartu telepon umum dari beberapa negara yang menjadi targetnya.
“Masih diulik lagi, sejauh ini masih ada beberapa negara yang kurang dilirik, tapi ada kartunya. Cuma saya belum nemu,” ucap pria yang berdomisili di Kotagede ini. (laz)
Editor : Heru Pratomo