Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Sosok Adi Daya Perdana, Kades Margoyoso, Salaman, Magelang Sempat Tekuni Jurnalistik, Kini Jadi Kepala Desa

Naila Nihayah • Senin, 12 Agustus 2024 | 00:41 WIB
BERPRESTASI: Kepala Desa Margoyoso Adidaya Perdana saat menerima penghargaan Proklim Lestari dari KLHK RI pada Oktober 2023 lalu.
BERPRESTASI: Kepala Desa Margoyoso Adidaya Perdana saat menerima penghargaan Proklim Lestari dari KLHK RI pada Oktober 2023 lalu.

 

RADAR JOGJA - Profesi seseorang tak bisa diprediksi. Meski sudah jauh-jauh hari merencanakannya, tapi tidak sedikit yang berganti arah. Kondisi itulah yang dialami oleh Kepala Desa Margoyoso, Salaman, Magelang Adi Daya Perdana.

 

Adi tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang kepala desa di usia yang terbilang muda, yakni 29 tahun. Namun, semangatnya untuk memajukan desa mampu menorehkan prestasi dan lambat laun, desanya mulai berdaya. 

 

Selama duduk di bangku perkuliahan, Adi mengambil program studi Teknik Informatika di Unimma. Dia aktif mengikuti sejumlah kegiatan. Termasuk organisasi dan unit kegiatan mahasiswa (UKM). Adi berkecimpung di dunia jurnalistik dengan mengikuti Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Tidar 21 Unimma. Dia lantas menjadi wartawan di koran kampus sekitar 2012. 

Baca Juga: Inilah 5 Spot Snorkeling Terbaik di Amed Bali, Surga Tersembunyi dengan Pesona Bawah Laut yang Memukau

Baca Juga: Di Balik Bulunya yang Indah, Ini Dia 5 Fakta Menarik tentang Burung Cendrawasih

Karena sudah terlanjur basah, dia mendaftarkan diri sebagai wartawan di salah satu koran lokal, Magelang Ekspres. Tidak lama setelahnya, dia memutuskan mundur dan memilih bekerja di Radar Jogja. Tidak hanya aktif menulis, pria kelahiran 18 November 1990 ini juga aktif di karang taruna dan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Pengalaman organisasi itu, kata dia, menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Dari situ, muncul keinginan untuk menjadi seorang kepala desa. "Saya ingin terlibat langsung memajukan desa," ungkapnya, Jumat malam (9/8).

Pada 2019, dia memantapkan diri untuk mengikuti kontestasi pilkades dan keluar dari pekerjaan sebelumnya. Dia yang notabene merupakan generasi milenial itu sukses meraih kemenangan mutlak dengan perolehan 774 suara di desanya. Mengalahkan empat kandidat kepala desa lainnya. Praktis, dia terpilih menjadi kepala desa di usianya yang masih 29 tahun dan dilantik pada 8 Januari 2020.

 

Setelah terpilih menjadi kepala Desa Margoyoso, dia ingin mengajak generasi muda untuk melakukan pembangunan ekonomi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Sebab banyak potensi di desanya yang bisa dikembangkan. Lebih-lebih, dia berkeinginan agar Desa Margoyoso tidak tertinggal jauh dari desa-desa lain.

Baca Juga: Ini Dia 5 Rekomendai Bakso Terenak di Jogja yang Wajib Dicoba

Baca Juga: Mengancam Bonus Demografi, 24,82 Persen Pelajar di Jogjakarta Kecanduan Rokok, Begini Penjelasannya

Dia tidak henti-hentinya mendorong warga, khususnya pemuda untuk berkarya di masing-masing bidang. Yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan dan memajukan Desa Margoyoso agar lebih dikenal. Terlebih, desa tersebut memiliki keunggulan di bidang penyelamatan sumber daya air. Dengan terus melakukan penanaman pohon di sekitar mata air.

Upaya itu berdampak pada meningkatnya debit air dan bisa dimanfaatkan hingga Kabupaten Purworejo. Karena itu, Desa Margoyoso memperoleh penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) Utama pada 2020. Prestasi itu memacu Adi untuk terus meningkatkan kegiatan di bidang lingkungan hidup. Tak heran jika Desa Margoyoso dinobatkan menjadi kampung Proklim Lestari pada 2023.

Untuk memperoleh penghargaan itu, Desa Margoyoso mengusung konsep konservasi berbasis ekonomi. "Warga secara secara kontinyu mau merawat alam. Di sisi lain, ada pula keuntungan secara ekonomi yang didapatkan. Contohnya pohon tegakan tidak akan ditebang semena mena ketika ada tanaman yang menjalar, seperti kemukus," sebutnya. 

 Baca Juga: Tiga Raperda Belum Tuntas, Bakal Jadi Tantangan Anggota DPRD Kota Jogja Periode 2024-2029, Salah Satunya Pengawasan Miras

Baca Juga: Betinho Dipastikan Gagal Debut Bersama PSS Sleman kontra Persebaya, Ini Dia Penyebabnya...

Sebab, kata dia, kemukus jenis rempah yang ketika dijual dalam kondisi basah kisaran harga Rp 50 ribu per kilogram. Sedangkan kemukus kering bisa mencapai Rp 200 ribu per kilogram. "Selama kemukus masih hidup dan menghasilkan panenan, maka pohon tegakan tidak akan ditebang. Sehingga menguntungkan warga," sambungnya. 

Lalu di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) yaitu pembuatan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) biogas limbah kotoran ternak sapi pada 2020. Tapi saat itu, dia belum memiliki biodigester. Tapi kini sudah ada tiga kelompok ternak sapi yang memanfaatkan program tersebut. Seperti di Dusun Tubansari, Tlogosari, dan Tobong. 

Apalagi saat ini sudah memiliki tiga unit biodigester. "Itu tersebar di tiga dusun tersebut. Setiap biodigester dimanfaatkan idealnya 6 KK, tetapi jumlah pemanfaatannya dilakukan secara bertahap oleh kelompok ternak," papar Adi.

Adi juga ingin memenuhi fasilitas desa yang sebelumnya belum terpenuhi. Termasuk sarana prasarana berupa lapangan, fasilitas kesehatan seperti ambulans desa, dan ketuhan dasar air bersih meningkat 100 persen. 

Kemudian, meningkatkan ekonomi warga dengan merevitalisasi pasar desa menjadi rest area. Meningkatkan pendidikan dengan program beasiswa prestasi, dan keinginan lainnya. (aya/eno)

Editor : Heru Pratomo
#kemukus #margoyoso #warga #Magelang #mata air #radar jogja #kepala desa #Daya #pohon #adi #ProKlim Lestasi #Salaman