RADAR JOGJA - Rania Hemy Atika, 54, berhasil mematahkan dua stigma yang berkembang di masyarakat. Khususnya soal perempuan dan basic pesantren yang tidak bisa sukses dalam dunia bisnis.
Bagi Rania, tumbuh di lingkungan yang agamis dengan Nahdatul Ulama (NU) tidak menghalanginya untuk tetap belajar. Meskipun garis keturunan yang berasal pendiri NU Kulon Progo, tidak membuat Ranida berdiam diri di pesantren. Dia tetap mengenyam pendidikan formal dari SD-SMA. Berlanjut di bangku perkuliahan dengan mengambil jurusan Hubungan Internasional di UMY.
Saat itu, Rania memulai bisnis kecil-kecilan. Hingga pada 1993 ketika lulus, Rania diberi tempat untuk berdagang dari keluarganya. Hanya saja, kondisinya masih kosong.
Rania muda mulai memutar otak. Riset berbulan-bulan pun dilakoninya. Hingga dia maptap membuaka toko serba ada (toserba) di kawasan perkotaan Wates, Kulon Progo. Tak butuh waktu lama, bisnisnya semakin besar.
Hal ini karena inovasi yang dilakukan, menggaet banyak pengunjung. "Dulu toserba kan tidak banyak, dan kami menerapkan komputerisasi," ucap mantan Ketum HIPMI Kulon Progo saat ditemui Jumat (19/7).
Rania pun mulai mencoba menjajaki bisnis lain. Namun sebelum itu, dia memilih untuk melanjutkan studi di University Monash Monash Melbourne pada 2022. Bidang yang diambil adalah International Trade. “Tertarik dunia ekspor dan impor,” ucapnya.
Namun selesai kuliah, dia tidak langsung mengaplikasikan ilmunya. Rania justru terjun di dunia bisnis fashion dan garmen pada 2008. Dia mengawalinya dengan menjadi reseller sepatu lokal.
Dia langsung turun mencari sepati dari Jabodetabek untuk dibawa ke Jogja. Kemudian dijual ke kalangan mahasiswa. "Mulai dari situ merambah ke dunia batik, yang sekarang terus ditekuni," ucap Rania.
Tak tanggung-tanggung, untuk masuk dalam bisnis ini, Rania mulai belajar mengenai batik. Dari sinilah membuat bisnisnya terus berkembang. Hingga produknya dipamerkan dalam agenda internasional, seperti di Jerman. Ilmu yang didapat dari Melbourne akhirnya terpakai, dan membuat produknya diekspor.
Rania mengakui, untuk menembus pasar eropa dan menjadi langganan kedubes untuk penyediaan batik, dirinya perlu riset panjang. Riset tersebut diperlukan untuk menyesuaikan produk dan pasar.
Dari situlah produknya bisa diterima dan mampu bersaing di luar negeri. "Alhamdulillah sekarang sudah ada empat lini bisnis, dan sebagian besarnya bergerak di Kulon Progo," tuturnya.
Menurutnya, kesuksesan dalam mengelola bisnis tak lepas dari jatuh bangun. Namun, karena memiliki suport system yang baik seperti suami dan keluarga, dirinya mampu bertahan. Selain itu, Rania cukup keras dalam mendidik dirinya untuk mempelajari bisnis.
Sebab dia memiliki prinsip, dalam berbisnis memerlukan penekanan pada product knowledge dan pemahaman pasar. “Tidak jor-joran dalam memulai usaha,” pesannya. (gas/eno)
Editor : Satria Pradika