JOGJA - Makin banyak anak-anak muda yang kini tertarik dan terjun ke dunia politik baik melalui kursi parlemen (DPRD dan DPR RI) maupun senator (DPD). Tak sedikit kalangan milenial yang lolos dalam Pileg 2024 ini, sehingga kursi parlemen pun bakal dihiasi oleh wajah-wajah baru. Radar Jogja akan mengulas mereka secara bersambung.
Beberapa waktu terakhir nama Yashinta Sekarwangi Mega menjadi begitu akrab dengan warga DIJ. Itu lantaran perempuan milenial ini mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI periode 2024-2029 dari Dapil DIJ.
Perempuan berusia 27 tahun ini hampir dipastikan lolos melenggang ke Senayan. Ini lantaran hasil penghitungan KPU Pusat, ia memperoleh suara sekitar 400 ribu lebih. Raupan suara yang signifikan untuk anak muda yang baru kali pertama terjun ke dunia politik praktis.
Pengesahannya sebagai anggota DPD RI tinggal menunggu waktu pada 24 Maret nanti. Apabila hingga rentang waktu tersebut tidak ada yang menggugat raihan suaranya, otomatis putri politikus PDIP Aria Bima itu sah menjadi anggota DPD RI.
Keterpilihannya di dunia politik sebagai kalangan muda menjadi bukti generasi milenial bisa mencapainya. Dia berpesan kepada generasi muda yang ingin berkarir di politik tidak hanya harus optimistis, tetapi juga harus kritis dan jangan merasa lelah untuk belajar serta menabung informasi dari sumber yang kredibel.
Apalagi sekarang berada di era media sosial (medsos) yang tidak terbatas atas ruang dan waktu. Sumber informasi menjadi sangat mudah didapatkan. Sekarang tokoh-tokoh politik nasional bisa diakses melalui medsos. "Selanjutnya kita juga tetap harus pakai ilmu padi," katanya kepada Radar Jogja (10/3).
Yashinta yang dapat melenggang dengan lancar ke Senayan dari DIJ enggan jumawa atas keterpilihannya. Menurutnya, sebagai orang Jawa khususnya tetap harus memgerti unggah ungguh. Oleh karena itu, sesukses apa pun ketika dirinya masuk ke politik dan sehebat apa pun itu, tetap menerapkan ilmu padi dan jangan pernah meremehkan orang lain.
Dia menuturkan, sebenarnya sudah ingin terjun ke politik sejak Pemilu 2019. Namun ketika itu dirasa masih minim pengalaman, akhirnya diurungkan niatnya. "Waktu itu baru satu tahun lulus kuliah. Jadi kayak belum mumpuni ya, secara pengalaman belum matang," tuturnya.
Akhirnya Yashinta memilih bekerja di Kementerian Perdagangan selama 3,5 tahun. Dari situ, lulusan Jurusan Hubungan Internasional UGM ini belajar banyak jalannya birokrasi pemerintahan dan proses pembuatan kebijakan yang melibatkan parlemen. Dari pijakan itu dia membulatkan tekad masuk ke politik di pemilu kali ini.
Selain itu karena ia ada ketertarikan untuk terlibat dalam proses politik secara langsung. Menurutnya, menjadi penyambung lidah rakyat dan mendengar aspirasi sudah membuatnya tergerak sejak remaja. Meski sebenarnya, orang tuanya membebaskan menjadi apa saja, asalkan ke depannya berguna bagi banyak orang.
Memutuskan menjadi calon anggota DPD RI dapil DIJ itu sudah berdasarkan sejumlah pertimbangan. Satu di antaranya kemungkinan dapat memenangkan pemilihan alias lolos ke Senayan. "Karena sampai hari ini DIJ belum punya perwakilan anak-anak mudanya yang duduk di DPD RI," ungkapnya.
Ada sejumlah gagasan yang akan dibawa Yashinta di kursi DPD RI. Satu di antaranya ingin menekan kasus kekerasan seksual, KDRT, dan klithih atau yang disingkatnya menjadi 3K. Menurutnya, 3K itu sangat meresahkan teman-teman muda, khususnya perempuan.
Tidak hanya yang muda, tetapi juga ibu-ibu meresahkan hal tersebut. Selain itu dia juga akan membawa isu persampahan di DIJ ke DPD RI. Menurutnya, itu didasarkan saat masa kampanye yang dilakukan banyak kalangan muda yang mengeluhkan masalah sampah ini.
Perempuan yang baru saja menyelesaikan S2 Komunikasi di UI ini menyampaikan, tidak sedikit yang mempertanyakan strateginya untuk menangani permasalahan sampah di DIJ. Menurutnya, dari situ dapat dilihat banyak kalangan muda yang sangat peduli dengan persoalan sampah. "DIJ ini juga levelnya sudah darurat sampah," ucapnya.
Oleh karena itu, dia akan berupaya memberikan terobosan pengelolaan dan penanggulangan terhadap persampahan. Selain itu, kebudayaan juga akan dibawanya ke DPD RI. Menurutnya, kalangan muda harus tetap nguri-uri kebudayaan, jangan hanya melimpahkan kepada generasi senior saja.
Apalagi, melimpahnya kebudayaan yang ada di DIJ sudah sepatutnya generasi milenial dan zilenial dapat berperan aktif. Yashinta menilai, sekarang tidak sedikit yang ingin menghapus keistimewaan DIJ. "Kalau teman-teman muda yang tidak bisa aware terhadap kebudayaan, bagaimana nanti ke depan mempertahankan status keistimewaaan DIJ," tegasnya. (rul/laz)
Editor : Satria Pradika