Potensi Lahar Hujan Merapi Meningkat, Warga Diminta Antisipasi Abu Vulkanik

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 05:34 WIB
ILUSTRASI: Rekomendasi Resmi BPPTKG: Sektor Selatan dan Barat Daya Merapi Siaga Tinggi
ILUSTRASI: Rekomendasi Resmi BPPTKG: Sektor Selatan dan Barat Daya Merapi Siaga Tinggi

SLEMAN - Aktivitas Gunung Merapi masih belum turun. Hingga akhir Oktober 2026, gunung api paling aktif di Indonesia itu tetap berada pada status Siaga atau Level III.

Kepastian status tersebut tertuang dalam laporan resmi MAGMA-VAR edisi 31 Oktober 2026. Laporan itu dirilis oleh Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG, dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi atau BPPTKG Yogyakarta.

Periode pengamatan yang dilaporkan cukup panjang, yakni selama 24 jam penuh. Mulai dari pukul 00.00 hingga 24.00 WIB pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Secara geografis, Merapi memiliki ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut. Posisinya berada di perbatasan empat kabupaten, yaitu Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Magelang, Boyolali, dan Klaten di Jawa Tengah.

Dari sisi meteorologi, cuaca di sekitar gunung terpantau berawan dan mendung sepanjang hari. Angin bertiup dengan kecepatan lemah hingga sedang. Arah hembusan dominan mengarah ke utara dan ke barat.

Suhu udara tercatat cukup sejuk hingga hangat. Berada pada rentang 17,3 sampai 24,7 derajat Celcius. Kelembaban udara sangat tinggi, yakni 76,9 persen hingga 100 persen, dengan tekanan udara 875,5 sampai 922,8 mmHg.

Kondisi lembab itu berpengaruh pada penampakan visual. Sepanjang hari, gunung tertutup kabut. Klasifikasi visualnya adalah kabut 0-II hingga kabut 0-III, yang berarti puncak sulit terlihat. Asap kawah pun tidak teramati sama sekali.

Meski visual tertutup, instrumen seismik merekam aktivitas internal yang cukup intens. Sejumlah jenis gempa tercatat dengan jumlah yang signifikan selama 24 jam.

Gempa guguran menjadi salah satu yang paling sering terjadi. Tercatat sebanyak 44 kejadian. Amplitudonya antara 2 hingga 21 milimeter, dengan durasi 45,2 detik sampai 201,07 detik. Ini menunjukkan material di kubah lava masih labil.

Selain itu, teramati gempa hembusan sebanyak 3 kali. Amplitudonya cukup besar, yakni 13 sampai 31 milimeter. Durasinya berkisar antara 49,47 hingga 87,52 detik, menandakan adanya pelepasan gas dari dalam kawah.

Ada pula tremor non-harmonik yang tercatat 5 kejadian. Amplitudonya antara 17 hingga 45 milimeter, dengan durasi 47,42 sampai 87,52 detik. Tremor ini berkaitan dengan pergerakan fluida magmatik.

Yang paling mendominasi adalah gempa hybrid atau fase banyak. Jumlahnya mencapai 55 kejadian dalam sehari. Amplitudonya 2 hingga 28 milimeter, dengan jarak S-P 0,2 sampai 0,7 detik dan durasi 13,02 hingga 59,92 detik. Banyaknya hybrid mengindikasikan suplai magma masih aktif bergerak ke atas.

Selanjutnya tercatat gempa vulkanik dangkal sebanyak 2 kali. Amplitudonya 11 hingga 13 milimeter dengan durasi 10,78 sampai 14,81 detik. Gempa ini bersumber di kedalaman dangkal dekat puncak.

Tercatat pula gempa tektonik jauh sebanyak 2 kejadian. Amplitudonya 2 hingga 18 milimeter, dengan durasi 47,35 sampai 78,44 detik, dan S-P tidak terbaca. Gempa ini bukan berasal dari Merapi, melainkan aktivitas tektonik regional.

Informasi penting lainnya adalah teramatinya guguran lava secara visual. Sebanyak 2 kali guguran lava meluncur ke arah Kali Sat atau Kali Putih dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimumnya mencapai 1.900 meter dari puncak.

Dengan rangkaian data tersebut, tingkat aktivitas ditetapkan tetap Level III Siaga. Status ini sudah bertahan cukup lama karena aktivitas Merapi belum menunjukkan penurunan signifikan.

BPPTKG kemudian merilis enam poin rekomendasi untuk masyarakat. Poin pertama terkait potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas guguran.

Untuk sektor selatan-barat daya, potensi bahaya mengarah ke Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer. Kemudian Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan jarak maksimal 7 kilometer dari puncak.

Sedangkan di sektor tenggara, bahayanya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan bisa menjangkau radius 3 kilometer.

Poin kedua menyebutkan data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya yang telah ditetapkan.

Karena itu, masyarakat diminta untuk tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Terutama di alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Imbauan ini sangat penting untuk keselamatan.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya lahar. Terutama bahaya lahar hujan dan awan panas guguran atau APG, terutama saat hujan turun di sekitar kawasan Merapi.

Poin terakhir adalah mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik. Abu erupsi bisa mengganggu pernapasan, merusak tanaman, dan mengganggu aktivitas penerbangan serta transportasi.

Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. Laporan ini disusun oleh pengamat Yulianto dan bersumber dari data resmi BPPTKG.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
Merapi Level III Siaga Laporan MAGMA VAR Aktivitas Merapi hari ini Gunung Merapi BPPTKG Yogyakarta