Perkembangan Merapi Hari Ini: 20 Gempa Guguran Terekam dalam Enam Jam

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:06 WIB
ILUSTRASI: Aktivitas Merapi Hari Ini: gempa Guguran Terdeteksi, Warga Dimbau Waspada Awan Panas.
ILUSTRASI: Aktivitas Merapi Hari Ini: gempa Guguran Terdeteksi, Warga Dimbau Waspada Awan Panas.

 SLEMAN - Gunung Merapi yang berdiri megah menaungi kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali memperlihatkan dinamika alamnya yang penuh misteri sekaligus menuntut tingkat kewaspadaan tinggi.

​Bagi masyarakat di lereng Sleman, Magelang, Boyolali, hingga Klaten, keindahan alam Merapi selalu berjalan bersisian dengan potensi ancaman bencana erupsi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

​Meskipun dari kejauhan lanskap puncak nampak relatif tenang dan membisu, denyut aktivitas di dalam perut gunung api paling aktif di Indonesia ini ternyata tidak pernah benar-benar berhenti.

​Tim pengamat dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi kembali merilis laporan resmi mengenai kondisi terkini Gunung Merapi pada Selasa, 20 Oktober 2026.

​Berdasarkan hasil pemantauan intensif sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, kondisi visual kawasan puncak dilaporkan berada dalam situasi cuaca yang berubah-ubah namun cukup bersahabat.

​Suasana langit di sekitar lereng sempat terpantau mendung hingga cerah, diiringi hembusan angin tenang yang perlahan-lahan bergerak mengarah ke sisi timur lereng pegunungan.

​Pemandangan puncak gunung terlihat cukup jelas walau sesekali diselimuti kabut tipis, sementara itu hembusan asap kawah utama dilaporkan nihil atau tidak teramati sama sekali.

​Namun demikian, ketenangan visual di atas permukaan puncak tersebut berbanding terbalik dengan aktivitas gelombang seismik yang berhasil ditangkap oleh jaringan sensor instrumen di kedalaman bumi.

​Catatan kegempaan yang terekam pada perangkat instrumen seismogram didominasi oleh rentetan gempa guguran akibat pelepasan material batuan di kawasan kubah lava puncak.

​Dalam kurun waktu enam jam pengamatan Selasa pagi hingga siang tersebut, tim BPPTKG mencatat terjadi 20 kali gempa guguran dengan durasi luncuran antara 40 hingga 157 detik.

​Getaran dari gempa guguran ini memiliki amplitudo berkisar antara 2 hingga 16 milimeter, menandakan proses pelepasan material batuan dari puncak kawah masih berlangsung amat aktif.

​Selain gempa guguran, instrumen sensitif juga merekam satu kali gelombang gempa tremor non-harmonik dengan nilai amplitudo 4 milimeter serta durasi yang lumayan panjang mencapai 87 detik.

​Aktivitas pergerakan magma dari kedalaman semakin dipertegas oleh hadirnya 9 kali gempa fase banyak atau hybrid dengan kisaran amplitudo hingga 34 milimeter.

​Tim pengamat juga mencatat keberadaan 3 kali gempa vulkanik dangkal yang menjadi penanda kuat adanya tekanan fluida serta pergerakan retakan batuan di dekat permukaan kawah.

​Hasil analisis mendalam dari BPPTKG menyimpulkan bahwa suplai magma segar dari dapur dalam tubuh Merapi masih terus berlangsung tanpa mengalami penghentian hingga saat ini.

​Pasokan energi magma yang konsisten ini berpotensi besar memicu timbulnya awan panas guguran secara mendadak yang sanggup meluncur cepat mengaliri lorong-lorong lembah sungai.

​Sektor selatan dan barat daya kini menjadi fokus area potensi bahaya utama, terutama di sepanjang aliran Sungai Boyong dengan jarak rawan bahaya mencapai maksimal 5 kilometer.

​Sementara pada alur Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng, batasan daerah rawan bencana ditetapkan lebih jauh yakni menjangkau hingga radius maksimal 7 kilometer.

​Pada sektor tenggara, potensi ancaman melingkupi aliran Sungai Woro sejauh 3 kilometer serta kawasan Sungai Gendol yang patut diwaspadai hingga jangkauan aman 5 kilometer.

​Dua penyusun laporan resmi BPPTKG, Suratno dan Yulianto, mengonfirmasi bahwa tingkat aktivitas Gunung Merapi secara resmi masih dipertahankan pada Tingkat Aktivitas Level III atau Siaga.

​Oleh karena itu, masyarakat diimbau keras untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di zona rawan, mewaspadai ancaman lahar saat hujan turun, serta selalu mengakses informasi dari sumber resmi.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
Gunung Merapi BPPTKG Erupsi Merapi Kabupaten Sleman status siaga