SLEMAN - Gunung Merapi yang berdiri megah menaungi kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali memperlihatkan dinamika alamnya yang penuh misteri sekaligus menuntut tingkat kewaspadaan tinggi.
Bagi masyarakat di lereng Sleman, Magelang, Boyolali, hingga Klaten, keindahan alam Merapi selalu berjalan bersisian dengan potensi ancaman bencana erupsi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Meskipun dari kejauhan lanskap puncak nampak relatif tenang dan membisu, denyut aktivitas di dalam perut gunung api paling aktif di Indonesia ini ternyata tidak pernah benar-benar berhenti.
Tim pengamat dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi kembali merilis laporan resmi mengenai kondisi terkini Gunung Merapi pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Berdasarkan hasil pemantauan intensif sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, kondisi visual kawasan puncak dilaporkan berada dalam situasi cuaca yang berubah-ubah namun cukup bersahabat.
Suasana langit di sekitar lereng sempat terpantau mendung hingga cerah, diiringi hembusan angin tenang yang perlahan-lahan bergerak mengarah ke sisi timur lereng pegunungan.
Pemandangan puncak gunung terlihat cukup jelas walau sesekali diselimuti kabut tipis, sementara itu hembusan asap kawah utama dilaporkan nihil atau tidak teramati sama sekali.
Namun demikian, ketenangan visual di atas permukaan puncak tersebut berbanding terbalik dengan aktivitas gelombang seismik yang berhasil ditangkap oleh jaringan sensor instrumen di kedalaman bumi.
Catatan kegempaan yang terekam pada perangkat instrumen seismogram didominasi oleh rentetan gempa guguran akibat pelepasan material batuan di kawasan kubah lava puncak.
Dalam kurun waktu enam jam pengamatan Selasa pagi hingga siang tersebut, tim BPPTKG mencatat terjadi 20 kali gempa guguran dengan durasi luncuran antara 40 hingga 157 detik.
Getaran dari gempa guguran ini memiliki amplitudo berkisar antara 2 hingga 16 milimeter, menandakan proses pelepasan material batuan dari puncak kawah masih berlangsung amat aktif.
Selain gempa guguran, instrumen sensitif juga merekam satu kali gelombang gempa tremor non-harmonik dengan nilai amplitudo 4 milimeter serta durasi yang lumayan panjang mencapai 87 detik.
Aktivitas pergerakan magma dari kedalaman semakin dipertegas oleh hadirnya 9 kali gempa fase banyak atau hybrid dengan kisaran amplitudo hingga 34 milimeter.
Tim pengamat juga mencatat keberadaan 3 kali gempa vulkanik dangkal yang menjadi penanda kuat adanya tekanan fluida serta pergerakan retakan batuan di dekat permukaan kawah.
Hasil analisis mendalam dari BPPTKG menyimpulkan bahwa suplai magma segar dari dapur dalam tubuh Merapi masih terus berlangsung tanpa mengalami penghentian hingga saat ini.
Pasokan energi magma yang konsisten ini berpotensi besar memicu timbulnya awan panas guguran secara mendadak yang sanggup meluncur cepat mengaliri lorong-lorong lembah sungai.
Sektor selatan dan barat daya kini menjadi fokus area potensi bahaya utama, terutama di sepanjang aliran Sungai Boyong dengan jarak rawan bahaya mencapai maksimal 5 kilometer.
Sementara pada alur Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng, batasan daerah rawan bencana ditetapkan lebih jauh yakni menjangkau hingga radius maksimal 7 kilometer.
Pada sektor tenggara, potensi ancaman melingkupi aliran Sungai Woro sejauh 3 kilometer serta kawasan Sungai Gendol yang patut diwaspadai hingga jangkauan aman 5 kilometer.
Dua penyusun laporan resmi BPPTKG, Suratno dan Yulianto, mengonfirmasi bahwa tingkat aktivitas Gunung Merapi secara resmi masih dipertahankan pada Tingkat Aktivitas Level III atau Siaga.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau keras untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di zona rawan, mewaspadai ancaman lahar saat hujan turun, serta selalu mengakses informasi dari sumber resmi.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG