SLEMAN - Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika yang cukup tinggi. Dalam periode pengamatan 19 Oktober 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, sejumlah aktivitas vulkanik terekam di gunung yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut.
Cuaca di sekitar Merapi sepanjang hari bervariasi, mulai dari cerah, berawan, hingga mendung. Angin terpantau bertiup tenang ke arah barat. Kondisi atmosfer yang relatif mendukung membuat pengamatan visual dapat dilakukan dengan cukup baik.
Dari hasil pemantauan, puncak Merapi beberapa kali terlihat jelas. Kabut tipis hingga sedang sempat menyelimuti kawasan puncak. Asap kawah berwarna putih juga teramati keluar dari puncak dengan intensitas tipis dan ketinggian sekitar 100 meter di atas kawah.
Aktivitas kegempaan masih didominasi oleh gempa guguran. Dalam kurun waktu 24 jam, petugas mencatat sebanyak 65 kejadian guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 32 milimeter. Durasi peristiwa tersebut berkisar 26 hingga 155 detik.
Selain itu, tercatat dua kali tremor non-harmonik. Aktivitas ini memiliki amplitudo antara 28 hingga 33 milimeter dengan durasi mencapai 55 detik. Tremor jenis ini menjadi salah satu indikator adanya pergerakan material maupun fluida di dalam tubuh gunung api.
BPPTKG juga merekam 61 gempa hybrid atau fase banyak. Jumlah tersebut menunjukkan masih aktifnya proses di kedalaman gunung. Gempa hybrid umumnya berkaitan dengan pergerakan fluida dan batuan vulkanik di bawah permukaan.
Sementara itu, delapan gempa vulkanik dangkal turut tercatat selama periode pengamatan. Aktivitas ini mengindikasikan bahwa proses vulkanik masih berlangsung cukup intens di area dekat permukaan Merapi.
Tidak hanya aktivitas kegempaan, petugas juga mengamati guguran lava sebanyak tiga kali ke arah barat daya. Aliran material pijar tersebut bergerak melalui hulu Kali Sat dan Kali Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter.
Data pemantauan terbaru menunjukkan pasokan magma ke tubuh Gunung Merapi masih terus berlangsung. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat memicu terjadinya guguran lava maupun awan panas guguran sewaktu-waktu di dalam kawasan potensi bahaya.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut belum berubah dan masyarakat diminta tetap mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan otoritas vulkanologi.
Potensi bahaya saat ini terutama berada di sektor selatan hingga barat daya. Ancaman guguran lava dan awan panas meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol sampai 5 kilometer dari puncak.
Masyarakat di sekitar Merapi juga diimbau meningkatkan kewaspadaan saat turun hujan. Material vulkanik yang masih menumpuk di lereng dapat terbawa aliran air dan memicu lahar. Di sisi lain, potensi gangguan akibat abu vulkanik tetap perlu diantisipasi jika terjadi erupsi eksplosif. Karena itu, warga diminta tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana dan terus mengikuti informasi resmi dari BPPTKG.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG