MADIUN - Kecelakaan yang menimpa rombongan suporter PSS Sleman di Jalan Tol Km 616 Desa Bajulan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun pada Minggu (18/10) pagi, masih menyisakan sejumlah pertanyaan besar. Betapa tidak, insiden itu menelan empat korban jiwa setelah minibus yang ditumpangi menghantam truk tronton yang sedang melaju di jalur lambat.
Berdasarkan pemeriksaan sementara kepolisian, pengemudi yang membawa kendaraan Hiace itu diduga kuat menyopir dalam keadaan pengaruh minuman keras (miras). "Indikasinya sopir dalam pengaruh miras karena di dalam mobil Hiace terdapat dua botol air mineral jenis arak," ungkap Kanit Gakkum Satlantas Polres Madiun Ipda Andika Cahyono, Senin (19/10).
Ia mengaku saat ini pihaknya tengah melakukan uji lab kepada pengemudi untuk memastikan indikasi pengaruh miras. Sembari memeriksa saksi-saksi lainnya. "Miras baru kami temukan setelah olah TKP. Ini masih menunggu hasil untuk menyampaikan apakah murni karena pengaruh miras atau tidaknya,” terang Andika.
Sementara itu, menurutnya, kondisi lapangan semakin buruk setelah pengemudi juga diduga mengantuk dan kelelahan ketika membawa rombongan suporter PSS menuju Surabaya. Ditambah, seluruh penumpang dalam posisi tertidur. "Penumpang dalam keadaan tidur semua, sehingga tidak menyadari kecepatan dan kondisi jalan raya kalau di depan ada truk," jelasnya.
Ia memastikan TKP sudah bersih dari sisa-sisa kecelakaan. Termasuk, para korban jiwa maupun luka-luka sudah dipulangkan ke Sleman. Sehingga, saat ini tinggal menunggu hasil pendalaman kasus itu. "Kalau kerugian material sekitar Rp 300 juta. Korban jiwa empat orang, luka berat dua orang, luka ringan empat orang,” tambahnya.
Baca Juga: Pemkab Sleman Bantu Pembiayaan Pengobatan Korban Kecelakaan Suporter PSS di Madiun
Sementara itu, Kapolres Madiun AKBP Ridwan Maliki mengatakan, penyelidikan kecelakaan ini dilakukan Polres Madiun bersama Polda Jawa Timur. Petugas menerapkan traffic accident analysis (TAA) untuk mengungkap kronologi dan penyebab tabrakan. "Jadi prosesnya masih perlu waktu dan pendalaman,’’ ujarnya.
Sejumlah penumpang yang selamat telah dimintai keterangan. Namun, pemeriksaan terhadap pengemudi minibus belum dapat dilakukan karena polisi masih menunggu kondisi kesehatannya membaik.
Di sisi lain, proses identifikasi empat korban meninggal dunia telah rampung. Mereka adalah Novan Dika Dwi, 19, warga Banyuraden, Gamping; Fachri Maulana Al-Zaki, 18, warga Sumberadi, Sleman; Iyam Fathur Ar-Rozaq, 15, warga Nglarang, Mlati; serta Rio Rahman Sahid, 23, warga Tlogodadi, Mlati. Keempatnya berasal dari Kabupaten Sleman.
Seluruh korban meninggal mengalami luka berat di bagian kepala. Jenazah dipulangkan dari RSUD Caruban menggunakan empat ambulans yang disiapkan melalui koordinasi pihak suporter dengan Pemkab Sleman. Kepolisian turut mengawal perjalanan menuju rumah duka.
Selain empat korban meninggal, enam penumpang lainnya mengalami luka-luka. Dua di antaranya menderita luka berat di kepala dan masih menjalani perawatan medis di RSUD Caruban.
Kedua korban direncanakan dirujuk ke rumah sakit di Sleman agar lebih dekat dengan keluarga. Namun, pemindahan masih menyesuaikan kondisi medis masing-masing korban.
Baca Juga: Buntut Kecelakaan Suporter PSS saat Away, Bupati Sleman: Aja Mangkat Dewe-Dewe!
Terpisah, Relawan Brigata Curva Sud Septyadi Pityanta menyebut, pihaknya terus memantau perkembangan penanganan medis para korban kecelakaan ini. Dari total 15 penumpang Hiace itu, empat orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat (cedera kepala), satu orang luka sedang, dan selebihnya luka ringan.
Septyadi Pityanta mengungkapkan, saat ini fokus penanganan tertuju pada dua korban yang mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit wilayah Madiun. Kedua korban luka berat itu adalah Anis Abdul Rohman dan Adi Suwarto
"Dua pasien ini mengalami CKB (cedera kepala berat). Untuk korban atas nama Anis Abdurrahman tadi sekitar pukul 10.00 pagi sudah selesai menjalani tindakan operasi di RS Hermina Madiun," katanya, Senin (19/10).
Septyadi menjelaskan, Anis semula berencana langsung dirujuk dan dilarikan ke rumah sakit di Jogja. Namun karena ruang perawatan dan fasilitas ketersediaan dokter di RSUP Dr Sardjito maupun RSA UGM sedang penuh, tindakan medis darurat akhirnya diputuskan dilakukan di Madiun.
"Sehingga dilakukan penanganan atau operasi langsung di RS Hermina Madiun karena ketersediaan dokter spesialis saraf di sana," bebernya.
Baca Juga: Polisi Belum Tetapkan Tersangka Kecelakaan Tol Madiun KM 616 yang Sebabkan Suporter PSS Meninggal
Untuk korban bernama Adi Suwarto, lanjut Septyadi, saat ini masih berada dalam penanganan medis intensif di RSUD Caruban, Madiun. Sedangkan sopir minibus HiAce dipastikan dalam kondisi baik dan saat ini tengah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.
"Sopir kondisinya baik. Sudah bergeser dari rumah sakit untuk memenuhi panggilan dan dimintai keterangan oleh pihak Polres Madiun," tegasnya.
Adapun untuk korban yang mengalami luka ringan Septyadi, memastikan jika seluruhnya telah kembali ke kediaman masing-masing di wilayah Sleman.
Saat disinggung terkait skema pembiayaan perawatan medis hingga penanganan korban meninggal dunia, Septyadi menegaskan adanya kolaborasi dan sinergi lintas pihak. Penanganan dilakukan secara bergotong royong antara Pemkab Sleman, Manajemen PSS, serta elemen suporter Brigata Curva Sud (BCS).
Selain penanganan dari jajaran terkait, aspek asuransi keselamatan jalan raya juga telah masuk mengcover para korban. "Untuk korban yang dirawat sudah mendapatkan jaminan dari Asuransi Jasa Raharja. Sedangkan untuk korban meninggal dunia kemarin sudah tercover dari Pemkab Sleman serta dibantu penanganannya oleh teman-teman BCS dan manajemen," ujarnya.
Mengenai total nominal dana bantuan dan klaim perawatan secara keseluruhan, Septyadi menyebut pihak manajemen PSS masih melakukan perincian dan pendataan teknis di lapangan. (ryu/aan/ayu/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja