SLEMAN - Suasana tenang di lereng Gunung Merapi pagi hingga siang ini menyembunyikan geliat perut bumi yang tak pernah benar-benar tertidur. Gunung api paling aktif di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut kembali memperlihatkan dinamika geologi yang terus bergerak secara konsisten.
Dari pos pengamatan, puncak Merapi terlihat berdiri megah di antara cuaca cerah dan sapuan kabut tipis. Asap kawah berwarna putih membumbung perlahan hingga ketinggian seratus meter ke udara, terbawa hembusan angin lemah yang mengalir lembut ke arah timur.
Di balik pemandangan alam yang tampak teduh tersebut, ancaman bahaya sebenarnya sedang mengintai kawasan sekitarnya. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi masih terus mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga.
Data pemantauan seismik selama periode enam jam mencatat puluhan getaran dari dalam rahim gunung. Rentetan gempa ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan hidrotermal dan aktivitas magma di bawah kawah masih membara secara aktif.
Aktivitas kegempaan didominasi oleh 25 kali gempa guguran dengan durasi bervariasi hingga ratusan detik. Peristiwa ini menandakan adanya guguran material batuan yang terus meluncur dari kubah lava di area puncak menuju lereng curam.
Selain guguran, instrumen pencatat juga merekam belasan kali gempa hybrid serta gempa vulkanik dangkal. Kemunculan gempa fase banyak ini mengindikasikan adanya retakan batuan baru akibat dorongan energi dari dalam perut bumi.
Satu kali gempa tremor non-harmonik berdurasi cukup panjang turut melengkapi catatan kegempaan hari ini. Fenomena getaran menerus ini mempertegas adanya aliran fluida magma yang terus bergerak melintasi saluran pipa magma utama.
Tim ahli memastikan bahwa proses migrasi dan suplai magma segar dari kedalaman masih berlangsung. Mekanisme alami ini berpotensi besar memicu letupan energi serta akumulasi awan panas guguran secara tiba-tiba tanpa peringatan awal.
Sektor selatan dan barat daya kini menjadi zona ancaman utama yang paling rentan diterjang bahaya. Aliran Sungai Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng dipetakan berpotensi terlintasi guguran lava serta awan panas hingga jarak maksimal tujuh kilometer.
Ancaman tidak kalah serius membayangi sektor tenggara yang melingkupi alur Sungai Woro dan Sungai Gendol. Luncuran material vulkanik berbahaya di wilayah tersebut diperkirakan mampu menjangkau radius hingga lima kilometer dari pusat kawah.
Jika erupsi eksplosif mendadak terjadi, lontaran material pijar dapat terlempar hingga radius tiga kilometer. Ditambah lagi, potensi bahaya sekunder berupa lahar dingin terus mengintai warga di sepanjang bantaran sungai ketika hujan turun di puncak.
Masyarakat setempat beserta wisatawan diimbau keras untuk mengosongkan seluruh zona bahaya dari aktivitas manusia. Kesiapsiagaan penuh serta sikap tanggap terhadap petunjuk keselamatan menjadi benteng utama masyarakat dalam menjaga keselamatan jiwa.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG